KPR 21 (MAD2T*Pagi*07 Maret*Tahun 1)

Kisah Para Rasul 21

Penjelasan Singkat
Paulus pergi ke Yerusalem

Isi Pasal
Roh Kudus melarang Paulus untuk pergi ke Yerusalem. Paulus pergi ke Yerusalem. Paulus menyumpahi seorang Yahudi. Ditahan di bait Allah oleh orang-orang Yahudi dan diikat dengan rantai.

Judul Perikop
Paulus di Tirus dan di Siprus (21:1-14)
Pertemuan Paulus dengan Yakobus di Yerusalem (21:15-26)
Paulus ditangkap (21:27-36)
Paulus minta izin berbicara (21:37-40)

Tafsiran: Pendapat bahwa hidup aman dan nyaman merupakan kehendak Tuhan bagi orang percaya, masih sering ditekankan. Padahal pengajaran ini masih belum utuh, sebab Tuhan juga mengizinkan umat-Nya bertemu dan bergumul dengan-Nya dalam penderitaan!

Rasa khawatir bila Paulus akan mengalami penderitaan, membuat para murid menafsirkan bisikan Roh Kudus sebagai peringatan bagi Paulus agar tidak pergi ke Yerusalem (Kisah Para Rasul 21:4). Di satu sisi, Paulus menunjukkan teladan dalam ketaatan pada Roh Kudus dan kerendahan hati dalam menerima saran para murid. Ini berbeda dari sikap hamba Tuhan yang sering mengklaim suaranya sendiri sebagai suara Roh Kudus yang tidak bisa dibantah. Namun demikian, Paulus juga jeli. Ketika Nabi Agabus bernubuat tentang penderitaan yang akan menimpa dia di Yerusalem, ia tidak menjadi gentar (Kisah Para Rasul 21:10-14). Bukan karena tidak percaya, tetapi ia menyadari panggilan pelayanannya. Nubuat Agabus merupakan peringatan dari Roh Kudus agar Paulus waspada, dan bukan perintah agar ia menghindari penderitaan di Yerusalem. Maka permintaan para murid agar Paulus tidak pergi ke Yerusalem sepenuhnya merupakan keinginan manusia, dan bukan suara Tuhan! Ia tidak melihat jalan yang mudah dan aman sebagai kehendak Tuhan bagi dirinya. Ketetapan hatinya untuk tetap ke Yerusalem menunjukkan kepatuhannya pada suara Roh Kudus. Sebab peringatan dari Roh Kudus bertujuan untuk mempersiapkan Paulus, dan bukan untuk menghentikan dia!

Memang mudah dan enak untuk menyatakan bahwa kehidupan yang mudah, makmur, dan sejahtera merupakan kehendak Tuhan. Sebaliknya pertanyaan bertubi-tubi kita tujukan pada Tuhan, jika kita menemui penderitaan! Namun pengalaman Paulus menolong kita untuk memahami, bahwa adakalanya Tuhan mengizinkan penderitaan sebagai bagian dari proses untuk melatih kita taat pada kehendak-Nya. Jika demikian, tentu saja tidak ada pilihan lain selain taat dan menerima kehendak-Nya diberlakukan dalam hidup kita.

Pada masa awal pertumbuhan gereja, agama Kristen dianggap sebagai gerakan pembaruan di dalam agama Yahudi. Ritual ibadah Kristen di kalangan orang Yahudi yang bertobat di Yerusalem, hampir tidak dapat dibedakan dari ritual agama Yahudi. Peranan Perjanjian Lama masih kental.

Melalui pemberitaan Paulus, Injil juga menjangkau bangsa-bangsa bukan Yahudi. Tentu saja berita ini menggembirakan orang-orang Kristen Yahudi sehingga mereka memuliakan Allah (Kisah Para Rasul 21:19-20). Akan tetapi, bukan hanya itu kabar yang mereka dengar! Sampai juga berita bahwa Paulus mengajar orang-orang Yahudi yang tidak tinggal di Yerusalem untuk menolak hukum Musa. Sementara mereka tetap ingin mempertahankan Hukum Taurat dan tradisi yang telah diturunkan oleh nenek moyang mereka. Padahal Paulus tidak pernah mengajar mereka demikian, walau pun Hukum Taurat dan sunat tidak diperlukan bagi keselamatan manusia (band. Rm. 10:4; Gal. 5:6). Walau demikian, ketika Paulus berkunjung ke Yerusalem, para penatua menasihati Paulus untuk melakukan ritual pentahiran (Kisah Para Rasul 21:23). Ritual ini bertujuan untuk membuktikan bahwa Paulus tidak menentang adat istiadat mereka. Paulus pun melakukan hal itu, meski dia tidak melakukan satu dosa tertentu yang membuat dia tidak tahir. Meski tidak sejalan dengan pemahaman imannya, Paulus bersedia kompromi. Ia bersedia menjadi segala-galanya untuk 'memenangkan' mereka (lih. 1Kor. 9:19-23).

Kesediaan untuk merendahkan diri bahkan berkorban, memang diperlukan bila kita ingin memenangkan orang bagi Kristus. Meski bukan berarti mengorbankan kebenaran, kadang kala kita harus belajar untuk fleksibel dalam hal-hal yang tidak bersifat esensial. Kita sering melihat bagaimana gereja terpecah belah karena perbedaan pendapat mengenai sesuatu yang sebenarnya tidak bersifat prinsip. Kita memang harus berdiri teguh di atas kebenaran firman Tuhan, tetapi kiranya kasih menjadi sesuatu yang melandasi pelayanan kita agar karya Tuhan melalui kita tidak terhalang.

Pernyataan ini bukan dimaksudkan untuk merendahkan Yesus sebagai Tuhan dan Kristus, atau untuk mentuhankan manusia Paulus, melainkan untuk mengungkapkan bahwa Paulus telah meneladani Kristus dengan setia, hingga melalui saat-saat yang paling sulit dalam hidupnya yaitu peristiwa penangkapannya di Bait Allah. Karena itulah pernyataan ini hendaknya dilihat dari peristiwa penangkapan Paulus di Bait Allah. Mulai dari peristiwa penangkapan Paulus, tuduhan yang dijatuhkan atasnya, sikap orang banyak terhadap dirinya, hingga sikap Paulus terhadap orang-orang yang telah menganiaya dan apa yang dialami, mengingatkan kita tentang Kristus. Di dalam tubuh dan hidupnya, Paulus telah berhasil mencerminkan pribadi Yesus yang adalah Manusia sejati, manusia yang sesuai dengan gambar dan citra Allah.

Permintaannya untuk berbicara kepada orang banyak yang telah menangkap, menganiaya, bahkan akan melenyapkannya, mengungkap-kan kematangan pribadi seorang hamba Tuhan dan kesiapannya untuk taat dan setia hingga mati (Kisah 21:23-24). Betapa tidak, tuduhan maut yang dijatuhkan atasnya sangat ironis. Paulus yang pergi ke Bait Allah untuk mentahirkan diri sebagai bukti bahwa ia menghargai tradisi dan kepercayaan Yahudi, malah dituduh menghina bangsa Yahudi dan kepercayaan mereka. Padahal hukuman atas dakwaan itu adalah mati tanpa perlu pengadilan. Itulah sebabnya mereka langsung memukuli Paulus, sehingga jika tidak diselamatkan oleh pasukan Romawi, ia pasti mati. Dari tuduhan mereka Paulus mengetahui secara pasti bahwa jiwa mereka berada dalam bahaya besar. Mereka menganggap bahwa merekalah umat Allah karena mereka memelihara hukum Taurat dan beribadah di Bait Allah di Yerusalem (Kisah 21:28). Padahal sebenarnya mereka bukan umat Allah yang akan diselamatkan Allah. Paulus tidak hanya merisaukan jiwa mereka namun Paulus juga mengidentifikasikan dirinya dengan mereka dengan mengatakan 'Aku adalah orang Yahudi' (Kisah 21:39).

Renungkan: Inilah Paulus yang penuh dengan kasih Ilahi. Seperti Kristus ketika di kayu salib Ia memikirkan pengampunan bagi orang-orang yang menyiksanya dan Ia juga mengidentifikasikan diri-Nya dengan penjahat yang akan dibawa ke Firdaus. Sudah sedekat manakah Anda meneladani Kristus?

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)