KPR 25 (MAD2T*Pagi*11 Maret*Tahun 1)
Kisah Para Rasul 25
Penjelasan Singkat
Paulus naik banding kepada Kaisar
Isi Pasal
Paulus di hadapan Festus. Naik banding ke Kaisar.
Judul Perikop
Paulus di hadapan FestusNaik banding kepada Kaisar (25:1-12)
Paulus di hadapan Agripa dan Bernike (25:13-27)
Tafsiran: Banyak orang yang tahu kebenaran, tetapi hidupnya tidak sesuai dengan kebenaran itu. Orang semacam itu akan ragu-ragu mengambil keputusan yang didasarkan atas kebenaran.
Festus ternyata tidak berbeda jauh dengan Feliks. Ia peragu. Dalam bertindak, ia lebih suka mengikuti kemauan orang lain daripada berdiri di atas prinsipnya sendiri. Ia juga rela mengorbankan Paulus sebagai sebuah anugerah bagi orang Yahudi, demi mengambil hati mereka. Padahal, Paulus tidak bersalah, baik terhadap hukum Taurat, Bait Suci, maupun terhadap Kaisar. Orang Yahudi sendiri juga tidak dapat membuktikan kesalahan yang mereka tuduhkan, dan Festus sendiri juga mengakui bahwa Paulus tidak bersalah (Kisah Para Rasul 25:25). Karena itu Paulus menegur perbuatannya (Kisah Para Rasul 25:11). Paulus juga menuntut haknya sebagai warga negara Romawi dengan naik banding kepada Kaisar.
Sikap Festus yang peragu juga membuat dirinya sendiri mengalami kesulitan dalam memeriksa perkara Paulus (Kisah Para Rasul 25:20), serta dalam menuliskan surat pengantar kepada Kaisar tentang tuduhan-tuduhan yang diajukan kepada Paulus. Terlebih masalah Paulus adalah masalah agama, bukan masalah hukum. Oleh karena itu, ia harus meminta masukan dari raja Agripa II (saudara dari Drusila, isteri Feliks) dan orang-orang yang terkemuka di Kaisarea. Hal ini membuat dia mengalami dilema karena takut mengirimkan seorang tahanan kepada kaisar, tanpa memaparkan kesalahan atau tuduhannya (Kisah Para Rasul 25:27).
Begitulah kesulitan yang akan dialami orang yang tidak berani tegas dalam mengambil keputusan berdasarkan kebenaran. Selain merugikan orang lain, sesungguhnya kita juga merugikan diri sendiri. Pada awalnya kita akan menjadi gelisah karena tindakan kita bertentangan dengan hati kita. Dan lama kelamaan, hati nurani kita akan menjadi tumpul dan tidak peka lagi terhadap kebenaran. Karena itu, jangan pernah lalaikan setiap kebenaran yang bersuara di hati kita ketika kita bertindak atau mengambil suatu keputusan. Selain itu, pertajamlah kebenaran suara hati itu melalui firman Tuhan yang kita dengar atau baca tiap-tiap hari.
Tahu yang benar ternyata tidak serta merta membuat orang bertindak benar pula.Festus tidak menemukan kesalahan apa pun yang menyebabkan Paulus patut dihukum. Seharusnya ia melepaskan Paulus. Akan tetapi, ia tidak melakukannya.
Ketika raja Agripa dan Bernike datang mengunjunginya, Festus menceritakan dilema yang dia hadapi berkenaan dengan kasus Paulus (Kisah Para Rasul 25:14). Bukan masalah pelanggaran hukum melainkan masalah agama (Kisah Para Rasul 25:18-19) yang sebenarnya tidak perlu dicampuri. Festus merasa tidak mampu mengatasi kasus itu. Ia orang baru dan tidak memahami hukum Yahudi. Selain itu tidak ada cukup bukti untuk menggiring Paulus ke pengadilan. Sebenarnya ia lebih suka bila Paulus dikirim ke Yerusalem (Kisah Para Rasul 25:20). Niscaya publik Yahudi akan bersimpati dan mendukung dia. Namun di lain pihak, bila Paulus naik banding (Kisah Para Rasul 25:21) maka Festus bisa lepas tangan. Masalahnya tidak ada kesalahan yang dapat ditemukan di dalam diri Paulus (Kisah Para Rasul 25:25). Bagaimana mungkin orang yang tak bersalah mengajukan naik banding (Kisah Para Rasul 25:26-27)? Sementara tuduhan orang Yahudi kepada Paulus tidak punya cukup bukti. Festus bisa kehilangan muka di hadapan kaisar karena hal ini!
Festus ternyata tidak memiliki pendirian yang tegas. Seharusnya dengan wewenang yang ada padanya, Festus bisa menyatakan bahwa Paulus tidak bersalah. Ia bisa membebaskan Paulus. Akan tetapi, rasa takut untuk menanggung risiko terhadap jabatannya membuat ia tidak berani bertindak. Sungguh menyedihkan memiliki sikap yang demikian!
Alangkah beda sikap Festus dibanding sikap seorang mahasiswa di salah satu provinsi di negeri ini, yang terancam tidak lulus skripsi bila ia tidak mau pindah dari imannya pada Kristus kepada iman sang dosen. Festus tidak memiliki keberanian untuk membela kebenaran karena padanya tidak ada iman. Yesus berkata, "Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku ..." (Mat. 12:30). Kiranya sebagai orang beriman, kita berani memancarkan kebenaran dalam sikap dan tindakan.