KPR 27 (MAD2T*Pagi*13 Maret*Tahun 1)
Kisah Para Rasul 27
Isi Pasal
Paulus diutus ke Roma. Angin sakal. Ketenangan yang diberikan oleh Allah kepada Paulus di tengah badai, dan dia selamat sampai darat.
Judul Perikop
Paulus berlayar ke Roma (27:1-13)
Kapal terkandas (27:14-44)
Tafsiran: Berlayar di musim dingin memang tidak aman, karena akan menghadapi banyak aral melintang, misalnya angin dan badai. Itu dialami oleh Paulus dalam perjalanannya ke Roma. Perjalanan kapal yang ditumpangi Paulus mengalami kelambatan karena kondisi angin dan cuaca yang buruk (Kisah Para Rasul 27:4-8). Entah kapan mereka akan tiba di Roma.
Paulus memiliki pengalaman dalam perjalanan laut saat ia mengabarkan Injil ke berbagai tempat. Ia juga pernah mengalami kecelakaan di laut (Kisah Para Rasul 27:2Kor. 11:25). Bisa dimaklumi bila ia dapat memperkirakan bahaya yang akan mengancam perjalanan mereka. Tentu saja Paulus tidak bisa diam saja melihat semua itu. Kemudian ia memperingatkan awak kapal untuk tidak melanjutkan perjalanan (Kisah Para Rasul 27:10). Tentu saja para awak kapal sulit mempercayai saran seorang tahanan yang tidak punya pengalaman sebagai pelaut (Kisah Para Rasul 27:11). Namun waktu akan membuktikan bahwa saran Paulus benar adanya.
Sebelumnya kita melihat Paulus sebagai pemberita Injil yang pemberani. Dia tidak akan segan untuk mewartakan Injil kepada siapa pun dan di mana pun dia berada. Paulus telah menerima anugerah Injil, hidup di dalam anugerah itu, dan tahu akibat yang akan diterima orang yang tidak menerima anugerah itu. Oleh sebab itu, bibirnya tak pernah bisa berhenti membicarakan Injil kepada orang lain. Dalam nas ini, kita masih melihat Paulus yang tidak sungkan untuk berbicara dan menyampaikan hal yang benar. Hanya saja topik yang dibicarakannya kali ini berkaitan dengan masalah pelayaran dan cuaca. Meski tahu bahwa ia bukan ahlinya, namun pengalaman dan pemahamannya membuat dia tidak menutup mulutnya. Ia tahu dampak yang akan dialami orang banyak bila ia diam saja.
Banyak orang takut bicara hal yang benar karena tahu risiko yang akan ditanggung bila ia membuka mulutnya. Hendaknya kita belajar dari Paulus. Beranilah menyuarakan pendapat yang benar, meski akhirnya ditolak. Terutama bila hal itu berkaitan dengan kepentingan orang banyak.
Secara umum, kepemimpinan sering dipandang sebagai status atau kedudukan daripada sebagai suatu pelayanan. Sering juga kepemimpinan diserahkan kepada seseorang sebagai hadiah atas prestasinya, dan bukan sebagai tanggung jawab yang membutuhkan kerendahhatian. Maka banyak orang yang bekerja untuk meraih sebuah kedudukan dalam kepemimpinan dan bukan untuk melayani orang lain serta membiarkan karakter kepemimpinan itu yang bertumbuh dalam dirinya.
Kepemimpinan Paulus muncul di kapal yang menuju ke Roma itu. Meski sebelumnya sarannya tidak didengar, Paulus tidak lantas merajuk dan berdiam diri. Kemungkinan bahaya bila kapal melanjutkan pelayaran seperti yang telah dikatakan Paulus, ternyata terjadi. Angin badai melanda (Kisah Para Rasul 27:14). Awak kapal pun berupaya menyelamatkan kapal, dengan menurunkan layar dan membiarkan kapal terapung-apung (Kisah Para Rasul 27:17) serta meringankan beban kapal dengan membuang alat-alat kapal (Kisah Para Rasul 27:19). Karena tidak ada hasil atas semua upaya itu, mereka jadi putus asa (Kisah Para Rasul 27:20). Pada saat itulah Paulus tampil dan membangkitkan semangat dengan menyampaikan pesan Allah yang disampaikan kepada dia melalui malaikat (Kisah Para Rasul 27:22-24). Paulus juga mencegah para awak kapal yang berusaha melarikan diri (Kisah Para Rasul 27:30-32). Saran sederhana, tetapi penting pun dikatakan oleh Paulus, yaitu mengajak mereka makan (Kisah Para Rasul 27:33-36). Paulus melakukan semua itu tanpa posisi kepemimpinan secara formal. Ia bukan kapten kapal atau prajurit kaisar. Ia hanyalah seorang tahanan.
Kepemimpinan Paulus memang tidak dipandang sebagai kepemimpinan rohani oleh orang-orang di kapal itu. Mereka mengikuti saran Paulus karena telah terbukti kebenaran perkataan dan kompetensinya. Inilah yang disebut sebagai kepemimpinan fungsional, tanpa jabatan formal, tetapi melakukan fungsinya tatkala dibutuhkan, tatkala tak seorang pun dapat memberikan jawaban.
Kita pun bisa tampil menjadi pemimpin fungsional bagi dunia di sekitar kita. Tak perlu jabatan dan pelantikan, tetapi berilah pertolongan dan layanilah mereka yang membutuhkan.