KPR 28 (MAD2T*Pagi*14 Maret*Tahun 1)
Kisah Para Rasul 28
Penjelasan Singkat
Seekor ular beludak menggigit tangan Paulus
Isi Pasal
Sampai di Melita. Mujizat gigitan ular. Kesembuhan ayah Publius. Kedatangan Paulus di Roma dan pelayanannya di sana kepada orang-orang Yahudi. Paulus beralih ke orang-orang bukan Yahudi.
Judul Perikop
Paulus di Malta (28:1-10)
Paulus tiba di Roma (28:11-16)
Pembicaraan dengan orang Yahudi di Roma (28:17-29)
Paulus memberitakan Kerajaan Allah di Roma (28:30-31)
Tafsiran: Allah kembali menyatakan campur tangan-Nya. Paulus yang terkena gigitan ular beludak, ternyata tetap hidup dan sehat seperti sediakala (Kisah Para Rasul 28:3-5). Mungkin bagi pengikut Kristus hal ini tidak mengherankan, karena Yesus pernah berjanji: "Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: ..., mereka akan memegang ular, dan sekali pun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka ..." (Mrk. 16:17-18). Di dalam Injil Lukas, Yesus berjanji: "... Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking ..." (Luk. 10:19). Namun lepasnya Paulus dari maut mengejutkan penduduk pulau Malta, hingga mereka menyimpulkan bahwa Paulus adalah dewa (Kisah Para Rasul 28:5-6). Padahal sebelumnya mereka mengira Paulus adalah penjahat yang tidak akan lolos dari kejaran Dewi Keadilan (Kisah Para Rasul 28:4).
Dengan kejadian itu, Tuhan membuka jalan bagi pekabaran Injil kepada orang-orang nonYahudi. Ini akan merupakan kesaksian bagi mereka yang melihat kuasa Allah yang bekerja di dalam diri Paulus. Terlebih setelah Tuhan menyatakan kuasa-Nya melalui Paulus dalam peristiwa penyembuhan ayah Publius, gubernur pulau Malta (Kisah Para Rasul 28:8). Peristiwa ini kemudian berlanjut pada penyembuhan orang-orang sakit di pulau itu (Kisah Para Rasul 28:9). Penduduk Malta tentu sangat bersukacita atas kehadiran Paulus (Kisah Para Rasul 28:10). Mereka yang semula berdatangan ke pantai untuk menolong Paulus dan penumpang kapal lainnya, kemudian mendatangi Paulus karena ingin meminta pertolongannya.
Betapa ajaib karya Allah! Ia yang berdaulat berkarya juga di pulau Malta. Orang-orang sakit yang kemudian sembuh oleh mukjizat penyembuhan yang Allah lakukan melalui Paulus, adalah bukti nyata. Allah memang selalu berkarya bagi kebaikan manusia dan terlebih penting lagi bagi pengembangan Injil dan penggenapan maksud Allah. Kita yang percaya kepada Allah seharusnya terlibat dalam karya itu sehingga Injil dapat disebarluaskan dan maksud Allah dinyatakan.
Ketika mengunjungi suatu kota, Paulus selalu berusaha menemui orang-orang Yahudi di kota itu untuk mengabarkan Injil. Begitu pun di Roma, ia ingin bertemu para pemimpin komunitas Yahudi untuk memberitakan Injil. Selain itu, ia ingin menjelaskan alasan kedatangannya ke Roma, agar mereka tidak salah paham.
Karena Paulus berstatus sebagai tahanan rumah (Kisah Para Rasul 28:16), ia pun mengundang mereka untuk datang (Kisah Para Rasul 28:17). Di dalam pertemuan itu, Paulus menjelaskan bahwa ia tidak melawan bangsa dan adat istiadat mereka. Pemerintah Roma sendiri telah menyatakan bahwa ia tidak bersalah (Kisah Para Rasul 28:18). Namun ia naik banding kepada kaisar karena orang Yahudi menentang hal itu (Kisah Para Rasul 28:19). Semua itu terjadi karena janji Allah kepada Israel mengenai Juruselamat dan keselamatan yang akan mereka terima (Kisah Para Rasul 28:20). Pertemuan itu ternyata tidak cukup satu kali karena para pemimpin itu masih ingin mendengarkan penjelasan lebih lanjut (Kisah Para Rasul 28:22). Dalam pertemuan kedua, Paulus menjelaskan bahwa Yesus adalah penggenapan dari pengharapan orang Yahudi (Kisah Para Rasul 28:23). Maka untuk ketiga kalinya Paulus mencatat karakteristik respons orang Yahudi terhadap Injil (Kisah Para Rasul 28:24, 13:46, 18:6, bdk. Rm. 11:7-10). Memang jauh sebelumnya, Tuhan telah berkata kepada Yesaya bahwa orang Yahudi tidak akan percaya pada pesan Allah yang disampaikan si nabi kepada mereka (Kisah Para Rasul 28:25-27, bdk. Yes. 6:9-10). Paulus melihat bahwa firman Tuhan kepada nabi Yesaya juga terjadi pada saat itu. Maka Paulus kemudian memusatkan perhatiannya untuk melayani bangsa-bangsa lain (Kisah Para Rasul 28:28, bdk. Rm. 1:16).
Sayang sekali, Kisah Para Rasul berakhir bukan dengan keselamatan bangsa Israel, tetapi dengan penolakan mereka terhadap Injil. Meski demikian Injil masih terus diberitakan lalu dipercayai oleh orang-orang nonYahudi. Maka Kisah Para Rasul menjadi kisah penyebaran Injil, mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi, mulai dari orang Yahudi sampai kepada orang nonYahudi. Kita, orang non Yahudi yang hidup dua puluh abad setelah Kisah Para Rasul, adalah bagian dari kisah penyebaran Injil itu. Marilah kita lanjutkan kisah itu dengan menyebarkannya juga.