KPR 22 (MAD2T*Pagi*08 Maret*Tahun 1)
Kisah Para Rasul 22
Penjelasan Singkat
Pembelaan Paulus
Isi Pasal
Pembelaaan Paulus di hadapan orang banyak. Menceritakan kembali pertobatannya.
Judul Perikop
Paulus berbicara kepada orang Yahudi (22:1-22)
Di dalam markas (22:23-29)
Paulus di hadapan Mahkamah Agama (22:30--23:11)
Tafsiran: Betapa berbedanya orang Yahudi bila dibandingkan dengan kepala pasukan! Tanpa memeriksa kebenarannya terlebih dulu, mereka menuduh Paulus telah menajiskan Bait Allah (Kisah Para Rasul 21:28). Tuduhan ini bagai sebuah vonis hukuman mati bagi Paulus (Kisah Para Rasul 21:31)! Kepala pasukan, yang tadinya menduga bahwa Paulus adalah pemberontak di Mesir, berubah pikiran sesudah mempelajari faktanya (Kisah Para Rasul 22:38-40). Ia memberi kesempatan kepada Paulus untuk membela diri (Kisah Para Rasul 22:40).
Paulus menekankan bahwa ia adalah seorang Yahudi sejati. Ia terlahir sebagai seorang Yahudi. Ia mengenyam pendidikan dari Gamaliel (Kisah Para Rasul 22:3), seorang rabi yang terkenal dan sangat dihormati pada masa itu! Memang benar, Paulus dulu memburu pengikut Yesus. Itulah semangat yang juga dimiliki oleh massa pada saat itu. Sebab itu, ia coba mengidentifikasikan dirinya seperti mereka. Namun saat itu ia telah menjadi pengikut Kristus (Kisah Para Rasul 22:5, 16, 19)! Walau demikian, Allah yang dia sembah tidak berbeda dengan Allah yang sebelumnya dia bela! Dialah Mesias yang telah dinubuatkan oleh para nabi pada zaman nenek moyang mereka. Jadi sesungguhnya, Paulus tidak murtad dari iman nenek moyangnya. Pengenalannya akan Yesus dan misinya kepada bangsa-bangsa lain, juga bukan lahir dari dirinya sendiri. Itu dinyatakan kepada dia melalui intervensi Ilahi (Kisah Para Rasul 22:15-21) saat akan pergi ke Damsyik untuk menangkap pengikut Tuhan. Maka jelas bahwa Paulus sama sekali tidak melakukan perbuatan seperti yang mereka tuduhkan.
Namun demikian, meski Paulus menyampaikan penjelasan dengan panjang lebar, semua itu bukan jaminan bahwa mereka akan bersedia memahami dia. Sampai kini pun, memberikan kesaksian tentang Kristus memiliki risiko ditolak bahkan dianiaya orang. Berbagai penjelasan yang kita sampaikan mengenai iman kita bukan jaminan bahwa kita akan kebal atau terhindar dari penolakan dan penganiayaan. Yang penting bagi kita adalah keteguhan iman dan keberanian untuk mengabarkan Injil di mana pun kita berada!
Meski Paulus telah memberikan penjelasan panjang lebar, hal itu tidak meredakan amuk massa (Kisah Para Rasul 22:22). Bagi orang Kristen Yahudi, menjadikan orang-orang nonYahudi sebagai pengikut Kristus tanpa terlebih dulu membuat mereka menjadi Yahudi, merupakan hal yang tak dapat diterima. Jelaslah mereka lebih mengutamakan sebuah identitas budaya dan bangsa daripada identitas iman.
Amuk massa itu kemudian berlanjut pada tindakan main hakim sendiri. Orang-orang yang menghasut Paulus menuntut supaya Paulus dibunuh (Kisah Para Rasul 22:22). Karena rasa ingin tahu, kepala pasukan membawa Paulus ke markas dan melanjutkan interogasi untuk mengetahui apa sesungguhnya yang telah diperbuat oleh Paulus. Interogasi pada zaman itu ternyata tak berbeda dengan yang terjadi sekarang, yakni melibatkan penyiksaan (Kisah Para Rasul 22:24-25). Akan tetapi, Paulus menyatakan bahwa dirinya adalah warga negara Romawi. Maka ia mempertanyakan perlakuan para pasukan terhadap dirinya, yang merupakan pelanggaran terhadap hukum Romawi (Kisah Para Rasul 22:25-27).
Berbeda dengan para penghasut yang bertindak tanpa aturan, para pasukan tunduk kepada hukum Romawi. Para penghasut meski ingin membela Hukum Taurat, terlihat lebih ingin mempertahankan adat istiadat Yahudi yang kaku. Sebagai gantinya, penyelidikan terhadap Paulus dilakukan melalui proses 'dialog' dengan memanggil imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama untuk menjernihkan semua yang dituduhkan kepada Paulus (Kisah Para Rasul 22:30).
Di dalam hubungan sensitif antarumat beragama di Indonesia, kita diingatkan untuk selalu tunduk pada hukum. Kita juga diingatkan tentang pentingnya kesiapan untuk 'berdialog' tentang iman Kristen. Paulus memang terhindar dari penyiksaan karena status kewarganegaraannya, tetapi ia tetap harus mempertanggungjawabkan imannya kepada para pemimpin agama Yahudi. Maka penting bagi kita untuk bersaksi tentang iman Kristen, dan juga mampu memberi pertanggungjawaban tentang isi iman kita.