Roma 2 (MAD2T*Mlm*15 Maret*Tahun 1)

Roma 2

Penjelasan Singkat
Siapa yang dibenarkan

Isi Pasal
Kesetaraan orang Yahudi dan bukan Yahudi di hadapan penghakiman Allah. Moralitas terpisah dari Kristus tidak berguna sebagai sarana keselamatan. Orang Yahudi mengetahui hukum Taurat dihakimi oleh hukum Taurat.

Judul Perikop
Hukuman Allah atas semua orang (2:1-16)
Hukum Taurat dan sunat tidak menyelamatkan orang Yahudi (2:17-29)

Tafsiran: Kebanyakan orang cenderung memperhatikan dan menghakimi kesalahan sesamanya daripada dirinya sendiri. Orang Yahudi dulu demikian pun Kristen kini sering menganggap diri lebih baik dan lebih benar dari orang kafir, karena merasa memiliki dan mengetahui hukum-hukum Tuhan. Paulus dengan tegas menegur sikap munafik seperti itu (ayat 1). Tuhan Allah tidak kompromi dengan dosa dan kejahatan. Orang yang terus berkeras hati (siapa dan apa pun status mereka) dalam dosa sedang menimbun murka (ayat 5), tetapi yang berbuat baik akan beroleh kemuliaan, kehormatan, damai sejahtera (ayat 10).

Masa kesabaran Allah. Kalau sekarang Allah belum bertindak bukan berarti Ia tak berdaya. Allah bermurah hati dan sabar, karena ingin memberi kesempatan bagi manusia untuk bertobat, beroleh pengampunan-Nya. Tetapi janganlah dipakai untuk menabung murka Allah yang pada saatnya akan menimpa kita dengan dahsyat.Di saat penghakiman tak seorang pun bebas. Sesuai dengan norma-norma yang diberlakukan manusia, Allah akan menghakimi mereka. Orang Yahudi sesuai Taurat, orang yang percaya kepada Injil Kristus sesuai anugerah Allah di dalam Kristus, dan orang yang tidak mengenal Allah akan dihakimi seturut hati nurani mereka.

Doa: Selidiklah hatiku dalam-dalam, Ya Tuhan. Masuklah kuasa InjilMu memperbaruiku seutuhnya.

Manusia punya banyak cara untuk mencari keselamatan. Ada yang melakukan ritual agama, perbuatan baik, dan lain-lain.

Orang Yahudi sangat membanggakan Hukum Taurat. Wajar, karena Taurat diberikan Tuhan secara khusus hanya kepada mereka. Taurat membuat mereka merasa lebih beradab dibanding bangsa-bangsa di sekitar mereka (ayat 19), dan membuat mereka merasa punya posisi istimewa di hadapan Tuhan. Namun mereka lupa bahwa memiliki Taurat tidak serta merta membuat manusia benar di mata Allah. Memiliki Taurat harus disertai kesetiaan untuk melakukannya (ayat 21-22). Dan mereka gagal dalam hal itu. Mereka gagal memberikan kesaksian tentang hidup benar di antara bangsa-bangsa nonYahudi dan mereka gagal beroleh perkenan Allah.

Orang Yahudi juga membanggakan sunat. Sunat adalah tanda perjanjian yang menunjukkan bahwa mereka adalah umat pilihan Allah. Namun mereka lalai memelihara perjanjian itu dan hidup tidak sesuai dengan panggilan sebagai umat Allah. Orang yang bersunat tanpa melakukan ketetapan Taurat, maka sunatnya itu tidak berguna. Sunat yang benar bukanlah sunat lahiriah, tetapi sunat di dalam hati (band. Ul. 30:6). Artinya, apa yang ada dalam hati seseorang jauh lebih penting. Paulus seolah ingin menegaskan bahwa, adalah lebih baik bila orang tidak bersunat, tetapi melakukan ketentuan Taurat dari pada orang yang bersunat, tetapi tidak melakukan ketetapan Taurat.

Lalu apa yang membuat orang diselamatkan? Bukan etika, ikut aturan, perbuatan baik, atau apapun. Keanggotaan gereja, baptisan, atau ikut perjamuan kudus pun hanya merupakan simbol hubungan dengan Tuhan. Namun bukan jaminan bahwa kita beroleh keselamatan. Hanya jika kita telah sampai pada titik di mana kita tahu bahwa tidak ada satu pun yang dapat kita lakukan untuk memperoleh keselamatan, maka saat itulah kita menyadari bahwa hanya Tuhan dan iman kepada Dia saja yang memungkinkan kita diselamatkan.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)