Roma 3 (MAD2T*Pagi*16 Maret*Tahun 1)
Roma 3
Penjelasan Singkat
Dibenarkan oleh iman
Isi Pasal
Kesalahan yang sama dari orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Pembenaran oleh iman, bukan hukum Taurat.
Judul Perikop
Kelebihan orang Yahudi dan kesetiaan Allah (3:1-8)
Semua manusia adalah orang berdosa (3:9-20)
Manusia dibenarkan karena iman (3:21-31)
Tafsiran: Bayangkan reaksi orang-orang Yahudi mendengar kecaman tajam Paulus pada Roma 2:17-29. Apa yang Paulus katakan mengenai ketidakbergunaan sunat dan Taurat seakan membongkar dasar kepercayaan Yahudi terha-dap Taurat dan Perjanjian Sinai. Reaksi inilah yang direspons Paulus pada perikop ini.
Menjawab pertanyaan pertama mereka (ayat 3:1), Paulus menegaskan bahwa orang Yahudi dipilih Allah untuk menerima Taurat (ayat 2). Sebenarnya tujuan Allah adalah melalui mereka bangsa-bangsa lain mengenal Allah (band. Kel. 19:5-6). Selanjutnya, Paulus juga menegaskan bahwa Allah tetap setia kepada perjanjian-Nya, walaupun umat-Nya tidak setia (Rm. 3:3-4). Justru hukuman kepada umat yang tidak setia membuktikan kesetiaan Allah yang menghendaki mereka bertobat. Hal itu membuktikan bahwa Allah adil dan berdaulat untuk menghakimi dunia ini (ayat 5-6). Akhirnya, terhadap fitnahan yang mengajak orang berbuat jahat agar Allah dimuliakan (ayat 7-8a) dijawab Paulus dengan menunjukkan bahwa orang yang berpikiran sedemikian adalah orang yang belum bertobat, bukan bagian umat Allah sehingga memang layak dihukum (ayat 8b).
Bentuk tanya jawab yang muncul pada perikop ini menunjukkan bahwa Paulus bukan sekadar menyatakan pandangan teologisnya terhadap keberdosaan manusia, Yahudi maupun nonYahudi, dan keadilan Allah yang kekal, tetapi Paulus dengan serius menegaskan bahwa manusia berdosa selalu berdalih. Manusia yang terus berdalih dan tidak mau mengakui dosa mereka di hadapan Allah akan menerima akibat fatal, yaitu penghukuman tanpa pengampunan sama sekali. Kiranya, kita terus memeriksa hati kita masing-masing. Jujur di hadapan Allah dan terbuka kepada teguran kasih-Nya yang memanggil kita bertobat.
Camkan: Waktu teguran kasih akan lewat. Saat itu yang tinggal murka-Nya yang mengerikan karena membinasakan orang berdosa tanpa ampun.
Tanpa anugerah Allah, semua manusia tidak berdaya (ayat 9) dan tidak layak di hadapan Allah (ayat 23). Bukan saja orang Romawi atau bangsa-bangsa yang oleh Yahudi dianggap kafir yang perlu anugerah Allah, orang Yahudi sendiri pun memerlukannya. Analisis firman Tuhan tajam sekali: "tidak seorangpun yang benar=85 tidak seorangpun yang berakal budi=85 tidak ada seorangpun yang mencari Allah" (ayat 10-11). Jadi apa? "Semua telah menyeleweng=85 semua tidak berguna" (ayat 12). Seluruh segi kita telah bejad (ayat 13-18). Terlalu ekstrimkah analisis firman ini? Memang, tetapi itulah analisis Allah sendiri!
Taurat membongkar dosa bukan menyelamatkan. Hukum Taurat bukan jalan keselamatan sebab telah terbukti orang Yahudi sendiri melanggarnya. Taurat berfungsi untuk membungkamkan dalih-dalih manusia di hadapan allah (ayat 19). Justru dengan mengandalkan ketaatan melakukan Taurat, orang Yahudi disadarkan bahwa mereka tak mungkin membenarkan diri di hadapan Allah. Hukum Taurat membuat orang mengenal dosa (ayat 19-20). Tetapi orang yang telah dibuat kenal dan sadar akan dahsyatnya kuasa dan akibat dosa itulah yang sadar akan kebutuhannya akan pengampunan dan keselamatan.
Renungkan: Hukum dan firman Tuhan bukan saja membongkar hati kita tetapi juga menyiapkan hati kita datang kepada Yesus Kristus.
Doa: Tuhan, selamatkan dan topanglah kami dengan anugerah-Mu.
Solusi kreatif yang Allah sediakan bagi umat manusia sungguh tak terpikirkan akal. Melihat bahwa manusia semakin terhilang oleh keberadaan hukum-Nya, Allah menyampingkan hukum itu dan menawarkan keselamatan di luar hukum yang ada. Paulus mengatakan, "tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, " yaitu dengan iman. Lebih jauh lagi, selain menyediakan iman sebagai jalan alternatif untuk manusia kembali kepada-Nya, Allah membuka jalan alternatif ini kepada semua bangsa. Tidak ada lagi pembedaan Yahudi dan nonYahudi karena Allah adalah Allah atas semua umat manusia. Dua hal radikal dilakukan Allah dalam sekali gebrakan. Sungguh nyatalah bahwa Allah yang kita sembah benar-benar Allah sebab Ia mahakuasa dan bebas mendefinisikan bagaimana dan siapa yang bisa datang kepada-Nya; Ia tidak terikat oleh hukum sebab Ia berada di atas hukum.
Apa implikasinya bagi manusia? Selain tersedianya jalan keselamatan yang bisa diakses sehingga kita terbebas dari roda marmut keberdosaan kita, kita juga harus menghadapi kesetaraan kita di hadapan Allah. Mungkin terdengar indah dan menyenangkan, tetapi ada saja orang yang menyenangi aturan-aturan lama yang walaupun tidak bisa dipenuhi, tetapi setidaknya ia bisa memenuhinya lebih baik daripada orang lain; mereka senang sebab sistem yang lama bisa mereka gunakan untuk memperoleh kehormatan, walaupun semu sebab tidak bisa menyelamatkan mereka.
Menerima keselamatan melalui iman berarti mengakui kegagalan hidup agama kita dan menerima ketakbergunaan usaha kita memenuhi hukum Allah. Apakah itu berarti kita tinggalkan semua usaha menjalankan hukum itu? Sama sekali tidak! Menerima keselamatan tidak berarti meninggalkan hukum, tetapi sekarang kita bisa menjalankan hukum itu tidak dengan beban berat, tetapi dengan hati riang, sebab kita tahu bahwa ketika kita menjalankan hukum itu kita tengah melakukan sesuatu yang menyenangkan hati Allah yang sudah memberikan keselamatan kepada kita. Bukankah itu suatu wujud rasa syukur yang sangat berharga dan indah?