Roma 6 (MAD2T*Mlm*17 Maret*Tahun 1)
Roma 6
Penjelasan Singkat
Mati untuk Dosa
Isi Pasal
Pembebasan dari kuasa dosa yang tetap dengan mematikan hidup yang lama, dan menghasilkan hidup yang baru.
Judul Perikop
Mati dan bangkit dengan Kristus (6:1-14)
Dua macam perhambaan (6:15-23)
Tafsiran: Banyak orang Kristen yang menyalahartikan kasih karunia Tuhan. Mereka menganggap bahwa dengan kasih karunia Tuhan yang melimpah, manusia dapat dengan bebasnya melakukan dosa. Prinsip yang dipegang adalah, "ketika saya berbuat dosa, saya minta pengampunan, dan pasti Tuhan akan mengampuni saya sesuai janji-Nya". Benarkah demikian?
Paulus mengantisipasi kesalahkaprahan ini ketika menulis perikop ini. Apakah kita boleh bertekun dalam dosa, supaya kasih karunia semakin bertambah (Roma 6:1)? Ini pemikiran sesat. Ketika kita telah dibenarkan oleh Tuhan, maka hidup kita menjadi baru dan dosa sudah lenyap (Roma 6:2, 11). Semua ini terjadi karena kita ikut di dalam kematian dan kebangkitan Yesus (Roma 6:5). Paulus mengajarkan salah salah satu arti baptisan yaitu mati dan bangkit bersama Yesus (Roma 6:3-4). Ketika kita ikut dalam kematian Yesus berarti semua dosa telah kita tanggalkan dan matikan di salib Kristus (Roma 6:6-7) untuk menuju kepada satu kehidupan yang baru di dalam Dia, yaitu hidup kekal melalui kebangkitan-Nya (Roma 6:8-11). Kristus mati satu kali untuk mematikan dosa selama-lamanya sehingga Ia hidup selama-lamanya juga bagi Allah. Itu berarti kemenangan tuntas atas dosa dan maut. Kita yang percaya Yesus, sudah dibebaskan dari dosa dan hukumannya, dan sudah memiliki hidup kekal untuk melayani Allah. Hal ini berarti juga bahwa baptisan yang kita terima cukup satu kali dan tidak perlu diulang lagi.
Tugas kita sekarang adalah bagaimana mengelola kasih karunia Allah itu dalam hidup kita. Paulus memberi nasehat bagi kita agar, memberi diri sepenuhnya kepada Allah. Artinya kita menyerahkan hidup kita, waktu, tenaga, pikiran, talenta, dan tubuh kita sepenuhnya untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan Dia saja (Roma 6:13b). Kita harus tidak lagi menyerahkan angggota tubuh kita untuk dikendalikan dan dipakai oleh iblis, dibujuk dan ditipu oleh dunia ini, dan dikuasai dan dikontrol oleh keinginan daging kita sebagai alat kejahatan (Roma 6:13a). Kita hanya boleh punya satu tuan atau majikan, yaitu Allah yang sudah menebus kita dan bukan iblis yang sudah kalah!
Pada zaman Paulus, seorang budak atau hamba adalah seorang yang hidupnya bergantung pada orang lain dan dikontrol penuh oleh tuannya itu. Begitulah keterikatan yang manusia alami bila berbuat dosa atau menyerahkan diri kepada dosa. Namun Paulus mengingatkan bahwa karena kita telah diselamatkan oleh Kristus, kita telah dibebaskan dari perhambaan dosa itu. Kita bukan lagi hamba dosa. Jadi kita tidak perlu lagi taat kepada dosa dan menjalani hidup yang menuju kepada kebinasaan.
Hamba Kristus. Allah telah menebus kita (membayar harga ganti agar kita bisa lepas dari berbagai kemalangan akibat dosa) melalui karya agung Yesus Kristus. Pengorbanan Kristus telah membayar seluruh utang dosa seharga darah putra tunggal Allah. Betapa tinggi nilai hidup kita! Kita sangat berharga bati Allah. Kita kini dijadikan orang-orang merdeka. Dan arti kemerdekaan sejati ialah bila kita terikat (menjadi hamba) dari kebenaran Allah, menjadi hamba Kristus sendiri. Memang itulah tujuan Allah menciptakan dan menyelamatkan kita. Hidup bagi Dia! Hidup dalam kekudusan dan kemuliaan-Nya!
Renungkan: Kristus telah memerdekakan kita. Kita hanya bisa mengalami itu hari lepas hari bila kita praktekkan kemerdekaan itu dalam kebiasaan kita sehari-hari.
Doa: Aku ingin memusatkan iman dan harapku pada karya salibMu, Yesus.