Roma 8 (MAD2T*Mlm*18 Maret*Tahun 1)
Roma 8
Penjelasan Singkat
Siapa yang bebas dari hukuman
Isi Pasal
Hukum baru Roh Kudus di dalam orang percaya, memberikan pembebasan dari natur berdosa. Hasil yang penuh dari Injil di dalam orang percaya dan keselamatannya.
Judul Perikop
Hidup oleh Roh (8:1-17)
Pengharapan anak-anak Allah (8:18-30)
Keyakinan iman (8:31-39)
Tafsiran: Tidak ada hukuman!" Bayangkan bila ketiga kata itu diucapkan oleh seorang hakim kepada terdakwa yang diancam hukuman mati. Tentu dia akan kegirangan karena punya kesempatan menghirup udara lebih lama lagi.
Seperti si terdakwa itulah posisi manusia ketika berdosa. Karena berdosa, tak ada satu hal pun yang mampu dilakukan manusia untuk menyenangkan Allah. Seluruh kecenderungannya tertuju pada dosa (ayat 5). Memang ada orang yang baik, tetapi kebaikan manusia berselubung dosa dan akan berujung maut (ayat 6). Orang Israel sendiri berusaha keras untuk hidup benar berdasarkan Hukum Taurat. Namun hukum bersifat menuntut maka ketika tuntutan tidak dipenuhi, manusia akan berdosa. Ketidakmampuan orang memenuhi tuntutan Taurat membuat Allah bertindak. Ia mengirimkan Putra-Nya untuk menyelamatkan manusia dari dominasi dosa. Dengan demikian, manusia dibebaskan dari hukuman dosa (ayat 1-4). Bukankah kebenaran ini menggembirakan?
Namun tidak berhenti sampai di situ. Pembenaran merupakan dasar dan titik awal pengudusan. Dan setelah menerima anugerah keselamatan orang harus bertumbuh dalam kasih karunia menuju keserupaan dengan Kristus. Maka sebuah perubahan radikal dituntut dari orang yang percaya Yesus, yaitu perubahan pola pikir, motivasi, dan cara hidup yang sesuai kehendak Tuhan. Untuk itu Allah mengaruniakan Roh Kudus kepada orang yang telah diselamatkan. Roh ber-diam dalam diri orang itu dan memimpin dia untuk melakukan kehendak Allah (ayat 14). Maka tak ada alasan bagi orang percaya untuk berjalan menurut daging karena orang percaya telah "diadopsi" menjadi anak Allah (ayat 16). Anak yang diadopsi telah sepenuhnya menjadi hak orang tua yang mengadopsi dia dan hidup sepenuhnya mengikuti hidup orangtua itu, dan akan diperhitungkan sebagai ahli waris.
Begitu jugalah ketika orang menjadi Kristen. Ia beroleh hak istimewa serta tanggung jawab sebagai anak dalam keluarga Allah. Maka marilah hidup sebagai anak-anak Allah.
Hiburan apakah yang dapat menguatkan orang Kristen yang sedang menderita berat karena imannya? Ketika Paulus menulis surat ini, sebagian besar orang percaya di kota Roma, sedang atau akan mengalami penderitaan dahsyat. Paulus sendiri berulangkali mengalami penderitaan. Maka nasihat yang ia berikan ini bukan omong kosong, tetapi prinsip teologis penting yang teruji.
Paulus tidak menghadapi penderitaan dengan menyang-kali faktanya atau mengelakkannya. Orang Kristen yang setia kepada Kristus dan kehendak-Nya pasti harus menanggung berbagai bentuk penderitaan. Penderitaan tidak untuk dihindari, tetapi dihadapi dengan kebenaran firman. Dengan cara itu orang Kristen beroleh kekuatan yang membuat mereka dapat bertahan secara kreatif. Kebenaran apa yang Paulus bukakan? Kreatif seperti apa yang dimungkinkan Allah bagi orang Kristen yang sedang menderita?
Fakta penderitaan kini harus dihadapi dengan fakta kemuliaan kelak yang akan Tuhan nyatakan bagi anak-Nya (Roma 8:18). Sedahsyat segelap apa pun penderitaan yang kita alami dan kekelaman perasaan yang diakibatkannya, tidak dapat dibandingkan dengan perjumpaan kita dengan Tuhan kelak dan fakta kita akan bersama-Nya kekal. Penderitaan dapat menjadi alat Tuhan mengobarkan pengharapan iman yang kreatif. Tema ini sudah Paulus uraikan sebelumnya (Rm. 5:3-5), dalam kasih karunia kita jalani penderitaan agar tumbuh ketekunan, tahan uji, pengharapan. Harapan itu lebih penuh lagi sebab seluruh alam semesta yang telah dirusak dosa ini pun kelak akan dimurnikan dari dosa (Rm. 8:21-23). Paulus juga mengingatkan kekuatan itu datang bukan hanya dari berpegang pada konsep kebenaran, tapi dari Roh Kudus. Roh kekudusan dan kekuatan dari Allah menjadi Penghibur, Penopang, Penasihat. Ia pendamping dan rekan doa tepercaya sepanjang kita menjalani dunia nestapa ini (Roma 8:26-27).
Renungkan: Firman dan Roh sumber penghiburan dan kekuatan kekal dalam penderitaan sementara kita.
Dengan kalimat-kalimat yang hidup dan menarik, Rasul Paulus menyatakan keyakinan imannya, bahwa tidak ada yang dapat melawan, menggugat, dan memisahkan orang percaya dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus. Justru karena Kristus sudah menghadapi kematian, lalu bangkit dan dipermuliakan maka Dia menjadi Pembela kita di saat kita menghadapi berbagai penderitaan dan penganiayaan (Roma 8:34-36), yang memang harus dihadapi oleh setiap anak Tuhan. Dia ada bersama dan mendampingi kita.
Jadi, apa pun yang terjadi pada kita, di mana pun kita berada, kita tidak dapat dipisahkan dari kasih Allah. Penderitaan tidak akan dapat memisahkan kita dari Allah. Justru penderitaan menolong kita untuk menghisabkan diri kita dengan Dia. Melalui penderitaan, kita justru akan semakin merasakan kasih-Nya. Ayat 37-39 mengajak kita melihat semua penderitaan itu dari sudut Kristus yang mengasihi kita, sehingga kita diyakinkan bahwa baik maut maupun hidup, malaikat, pemerintah, kuasa-kuasa, dan makhluk lain tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus.
Maka seorang Kristen hendaknya tidak berputus asa, atau berusaha lari dari tantangan. Penderitaan memang harus dihadapinya. Mungkin kadangkala penderitaan membuat kita beranggapan bahwa kita telah ditolak oleh Yesus. Akan tetapi, Paulus menyatakan bahwa tidak mungkin Kristus berbalik menolak kita atau Allah berbalik memusuhi kita. Kematian-Nya untuk kita merupakan bukti kasih yang tidak dapat dikalahkan oleh apa pun. Kasih-Nya melindungi kita dari berbagai bentuk kekuatan apa pun yang berupaya menguasai dan mengalahkan kita. Kasih-Nya yang begitu besar seharusnya membuat kita merasa aman di dalam Dia.
Renungkanlah: Kasih Allah dalam Yesus Kristus membantu kita menghadapi penderitaan. Bersyukurlah kepada Tuhan Yesus yang menyertai kita senantiasa, juga dalam kesulitan dan duka.