1 Tim 6 (MAD2T*Mlm*24 April*Tahun 1)

1 Timotius 6

Penjelasan Singkat
Keuntungan kesalehan

Isi Pasal
Pekerjaan pelayan, lanjutan.

Judul Perikop
Mengenai penyakit bersilat kata dan mengenai cinta uang (6:2-10)
Pesan penutup (6:11-21)

Tafsiran: Pengaruh ajaran sesat menyebabkan kesaksian jemaat ke masyarakat luar menjadi buruk sehingga "nama Allah dan ajaran Kristen dihujat" (1 Timotius 6:1; bdk. 5:14b). Maka penting bagi jemaat memperlihatkan sikap "menghormati" saudara seiman, terutama para janda, penatua, dan hamba terhadap tuannya. Dengan "menghormati" tuannya, baik yang tidak seiman (1 Timotius 6:1 Timotius 6:1) dan terlebih lagi yang seiman (1 Timotius 6:2), serta "melayani mereka dengan baik," para hamba mengikuti teladan Kristus, yang menjadi hamba dalam ketaatan-Nya kepada Allah (Flp. 2:7). Di dalam Kristus, hamba maupun tuan adalah saudara (1 Timotius 6:1Tim. 6:2; bdk. Gal. 3:28) dan setara. Namun dalam hubungan kerja, masing-masing memiliki tanggung jawabnya sesuai dengan prinsip firman Tuhan (Ef. 6:5-9; Kol. 3:22-4:1).

Pola hidup dan perilaku yang mencerminkan ibadah yang benar juga terlihat melalui sikap terhadap materi. Ajaran sesat di Efesus bukan hanya menyimpang dari ajaran Kristus serta ibadah yang benar, tetapi juga memecah-belah jemaat dan dimotivasi oleh keinginan menggaet keuntungan materi (1 Timotius 6:1Tim. 6:3-5). Tidak jarang di dalam gereja Tuhan muncul orang-orang atau pemimpin seperti Simon si penyihir (Kis. 8:9-24), yang berusaha mengkomersialkan agama. Paulus menegaskan bahwa ia tidak pernah "mencari keuntungan dari firman Allah" (1 Timotius 6:2Kor. 2:17; Kis. 20:33) atau "mempunyai maksud loba yang tersembunyi" (1 Timotius 6:1Tes. 2:5).

Ibadah memang memberi keuntungan besar, yakni keuntungan rohani (bdk. 1Tim. 4:8), jika disertai rasa cukup (1 Timotius 6:1 Timotius 5:6). Yang dianjurkan bukan hidup melarat, melainkan rasa puas karena terpenuhinya kebutuhan pokok kita (1 Timotius 6:8; bdk. Mat. 6:33). Yang harus kita waspadai ialah keserakahan, karena "cinta uang" itu seperti minum air laut makin banyak makin haus. Waspadai dosa Akhan (Yos. 7) dan Yudas (Yoh. 12:6) yang akibat cinta uang, membuat mereka "menyimpang dari iman" dan terbelit "berbagai duka" (1 Timotius 6:1Tim. 5:9-10).

Renungkan: Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada (Mat. 6:21)!

Menjadi manusia Allah. Ayat 11-16 memberikan semacam inti dari keseluruhan nasihat Paulus kepada Timotius. Dengan penyebutan "manusia Allah" (ayat 11), Paulus menunjukkan bahwa status diri Timotius bukan hanya pemimpin, tetapi juga pemberi teladan di jemaatnya, agar mereka pun dapat mengikutinya menjadi manusia Allah. Karena itu, Timotius harus menjauhi semua hal yang tidak baik, dan sungguh-sungguh berusaha mengejar "keadilan, ibadah, kasih, kesabaran, dan kelembutan" (ayat 11). Sifat-sifat ini harus menjadi bagian dari hidupnya sebagai seorang manusia Allah. Karena itu, di ayat selanjutnya (ayat 12) Paulus mengambil gambaran dari sebuah pertandingan. Ia harus bertanding karena kondisi yang dihadapinya berat. Ia juga harus "merebut hidup yang kekal" (ayat 12), bukan dalam arti mencapai keselamatan hidup kekal dengan usahanya sendiri, tetapi dalam arti menunjukkan bahwa dirinya sungguh -sung guh adalah pemenang dalam pertandingan ini. Caranya adalah dengan menuruti "perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela" (ayat 14a), dan dengan memelihara apa yang telah dipercayakan kepadanya, baik pelayanannya maupun orang-orang yang dilayaninya (ayat 20). Allah dan Kristus Yesus menjadi saksi Timotius (ayat 13), dan pada akhirnya nama Yesus akan dimuliakan sebagai hasil dari perjuangannya (ayat 16).

Paulus meminta Timotius untuk mengikuti nasihat ini karena Yesus Kristus adalah "Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan" (ayat 15). Fakta ini cukup kuat untuk menjadi dasar bagi tingkah laku orang Kristen, "Yesus adalah raja atas hidup saya dan tiap bagiannya!" Prinsip itu juga harus berlaku bagi setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Sekali lagi Paulus menasihati agar Timotius memperingatkan para orang kaya agar tidak mengandalkan kekayaan harta mereka dan menjadi tinggi hati, tetapi hanya berharap sepenuhnya kepada Allah saja (ayat 17-19). Perbuatan baik mereka menjadi tanda yang menghidupkan pengharapan mereka.

Renungkan: Kristen harus mampu membuktikan bahwa ia adalah manusia Allah, milik Allah dan pemenang pertandingan melalui setiap aspek kehidupannya.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)