2 Kor 1 (MAD2T*Pagi*31 Maret*Tahun 1)
2 Korintus 1
Penjelasan Singkat
Penghiburan dalam persoalan
Isi Pasal
Perhatian Paulus pada orang Kristen di Korintus dan dorongannya kepada mereka di dalam Kristus.
Judul Perikop
Salam (1:1-2)
Ucapan syukur (1:3-11)
Perubahan dalam rencana Paulus (1:12--2:4)
Tafsiran: Tidak semua orang bisa menerima penderitaan dengan begitu saja. Ada yang mempertanyakan kebaikan Allah, ada juga yang mempertanyakan mengapa harus dirinya yang mengalami penderitaan itu dan bukan orang lain. Ada juga orang yang langsung menyelidiki dosa-dosa yang menjadi penyebab penderitaannya.
Akan tetapi, Paulus melihat penderitaannya secara berbeda. Secara khusus, ia mengidentifikasi penderitaannya sebagai "kesengsaraan Kristus" (2 Korintus 1:5). Penderitaan itu begitu besar dan begitu berat hingga membuat Paulus putus asa (2 Korintus 1:8). Kita tidak tahu penderitaan apa yang sesungguhnya dihadapi Paulus, tetapi ia sampai merasa seolah dijatuhi hukuman mati (2 Korintus 1:9). Dalam keadaan seperti itu, Paulus hanya dapat memercayakan dirinya kepada Allah, yang membangkitkan orang mati (2 Korintus 1:10). Paulus berharap bahwa Allah akan menyelamatkannya.
Meski demikian, Paulus menyadari bahwa penderitaan yang dia alami adalah untuk kepentingan jemaat di Korintus juga, yaitu untuk menjadi berkat bagi mereka. Karena melalui penghiburan yang dia terima dari Allah, Paulus menjadi sanggup untuk menghibur mereka yang sedang menghadapi penderitaan juga (2 Korintus 1:4, 6).
Penderitaan yang kita alami karena iman kepada Kristus bukanlah kutuk, melainkan berkat. Jika penderitaan Kristus adalah untuk kepentingan kita maka penderitaan kita bisa menjadi berkat yang dimaksudkan Allah agar kita dapat melayani orang lain. Di dalam penderitaan itu, kita bisa mengharapkan penghiburan yang berlimpah-limpah dari Allah. Namun bukan untuk kita simpan sendirian, tetapi agar kita dapat berbagi dengan orang lain yang mengalami penderitaan juga. Oleh karena itu, penderitaan seharusnya bukan menjauhkan kita dari Allah, melainkan membawa kita lebih dekat. Selain itu, akan membawa kita juga semakin dekat dengan saudara-saudara seiman di dalam Kristus. Penderitaan selalu datang dengan janji penghiburan Ilahi dan itu akan mendorong kita untuk memuji dan menyembah Dia, Sumber Penghiburan kita.
Hubungan kita dengan sesama tidak selalu berjalan dengan lancar dan mulus. Bagaimana hubungan Paulus dengan jemaat di Korintus? Hubungan mereka begitu indah sehingga rasul Paulus bermegah dan hati nuraninya bersaksi bahwa hubungan mereka diliputi oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah, bukan kepura-puraan dan kemunafikan. Ini bukan berdasarkan hikmat duniawi, tetapi kekuatan kasih karunia Allah.
Maka Paulus berusaha menulis apa yang membuat mereka memahami isi hati Paulus sehingga turut bermegah bersama dengan Paulus ketika Kristus datang kembali. Mereka perlu mengerti mengapa rencana Paulus berubah untuk mengunjungi mereka. Ini bukan karena Paulus plin plan. Rencananya berubah karena ia tunduk pada pimpinan dan kehendak Tuhan. Memang janji Paulus belum terlaksana, tetapi janji Allah tidak pernah berubah, karena di dalam Kristus semua janji Allah adalah ya dan amin sehingga akan tergenapi pada waktunya bagi kemuliaan Allah. Terlebih lagi Allah yang telah meneguhkan mereka semua di dalam Kristus adalah Allah yang telah mengurapi mereka dan memeteraikan sebagai tanda milik-Nya oleh Roh Kudus, sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk mereka.
Allah adalah saksi bahwa ia menunda perjalanannya demi kebaikan mereka. Guna memberi kesempatan kepada mereka untuk memperbaiki masalah-masalah internal mereka, sehingga waktu dia datang persoalan mereka sudah selesai. Dengan demikian kunjungannya akan mendatangkan sukacita, bukan dukacita karena masih harus menegur kesalahan dan dosa yang masih terjadi di tengah-tengah mereka.
Dalam kehidupan bergereja, kita perlu membangun persekutuan dengan penuh ketulusan dan tidak boleh ada kemunafikan. Dalam merencanakan sesuatu, kita juga harus tunduk pada pimpinan Allah. Maka bila rencana kita tidak memuliakan Allah dan tidak mendatangkan kebaikan bagi sesama, kita harus berani membatalkannya. Untuk itu, kita harus peka terhadap kehendak-Nya.