2 Kor 11 (MAD2T*Pagi*05 April*Tahun 1)
2 Korintus 11
Penjelasan Singkat
Bualan saleh Paulus
Isi Pasal
Cemburu ilahi Paulus demi Kristus. Peringatan terhadap guru-guru palsu. Paulus terpaksa bermegah.
Judul Perikop
Paulus tidak mementingkan diri (11:7-33)
Tafsiran: Kepedulian Paulus yang sedemikian besar tentang kemurnian gereja membuat ia malah dianggap bodoh dan berbuat salah. Paulus mendesak jemaat Korintus untuk mengetahui kesejatian Paulus sebagai rasul Yesus Kristus.
Paulus kuatir bahwa kesetiaan jemaat Korintus kepada Kristus pudar karena mereka tertarik pada rasul-rasul yang tak ada taranya (2 Korintus 11:5). Paulus mengingatkan bahwa mereka sudah dipertunangkan kepada Kristus. Karena Kristus sudah menebus mereka, maka mereka harus setia kepada Dia. Jangan sampai mereka tertarik pada pemberitaan "para rasul yang tak ada taranya" tentang Yesus yang lain, roh yang lain dan injil yang lain (2 Korintus 11:4). Apa lagi ketertarikan itu disebabkan oleh kebodohan Paulus, yaitu tidak terampil dalam berbicara (2 Korintus 11:6). Meski demikian, Paulus berhasrat murni terhadap kesucian kasih dan kesatuan jemaat. Sebab dialah yang mempertemukan Kristus kepada mereka. Ia tak mau mereka ditipu dan disimpangkan seperti yang pernah terjadi pada Hawa (2 Korintus 11:3).
Hal lain yang menyebabkan jemaat Korintus mengkritik Paulus adalah keputusannya untuk tidak bergantung secara finansial kepada mereka. Ia bekerja untuk memenuhi kebutuhannya selama melayani di Korintus. Andai masih ada kekurangan, jemaat-jemaat lainlah yang Paulus bebani untuk mendukung kekurangan ini. Itu disebutnya sebagai 'merampok jemaat lain' (2 Korintus 11:8). Mungkin hal itu dipandang tidak pantas. Mereka juga mungkin merasa terhina sebab Paulus menolak membebani mereka tetapi membebani jemaat lain. Lebih-lebih, "para rasul yang tak ada taranya" itu justru menuntut penghargaan secara finansial dari jemaat Korintus.
Jemaat Korintus tampaknya memandang rasul hanya dari segi tampilan lahiriahnya saja, tanpa memperhatikan pengajaran atau motivasinya. Godaan untuk mementingkan tampilan lalu mengabaikan hal-hal sentral kekristenan seperti ajaran, kesucian hidup, dll., makin menggila di zaman kita ini. Ingatlah bahwa tampilan sering kali menipu. Hanya Kristus yang harus menerima iman, harap dan kasih kita.
Apa jadinya bila pengajaran palsu lebih disukai daripadapengajaran benar? Apa jadinya bila kebenaran dianggap sebagai kebodohan dan kebodohan dianggap sebagai kebenaran?
Melalui teks ini, kita melihat bahwa jemaat Korintus telah terjebak ke dalam kondisi-kondisi yang terbalik dan Paulus pun telah dianggap sebagai orang bodoh (2 Korintus 11:16, 19). Semua ini diakibatkan oleh pengaruh sekelompok orang yang Paulus sebut sebagai rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus (2 Korintus 11:13). Orang-orang tersebut telah begitu dalam menancapkan pengaruhnya kepada jemaat Korintus, sehingga mereka tetap sabar meski diperhamba, dihisap, dikuasai, diperlakukan secara angkuh, dan bahkan ditampar oleh rasul-rasul palsu tersebut (2 Korintus 11:19-20). Sebenarnya Paulus sangat heran sekaligus sangat prihatin terhadap kondisi jemaat Korintus. Karena itu Paulus menyindir dengan menyebut mereka sebagai orang-orang yang begitu bijaksana (2 Korintus 11:19). Padahal maksud Paulus, mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang begitu bodoh.
Kita pun bisa saja terjebak ke dalam berbagai kebodohan. Mungkin saja kita, secara tidak sadar, telah menganggap diri kita sebagai orang-orang yang lebih berhikmat dari orang lain, dan merasa bahwa ajaran yang kita terima lebih benar dari orang lain. Masa kini pun, banyak orang Kristen yang disesatkan oleh ajaran-ajaran dari sekelompok pekerja curang. Akibatnya, mereka jadi kagum dan tunduk kepada "hamba Tuhan", melebihi kekaguman dan ketundukan mereka pada ajaran Alkitab. Solusi terbaik agar kita dapat terhindar dari kondisi-kondisi terbalik di atas adalah kembali kepada Alkitab. Kita harus rajin membaca dan merenungkan-nya secara pribadi. Alkitab harus menjadi sumber pengajaran tertinggi. Demua ajaran serta kesaksian pengalaman rohani harus tunduk ke bawahnya.
Renungkan: Sudahkah Anda menjadikan Alkitab sebagai sumber kebenaran tertinggi?
Apakah Anda pernah menilai kualitas hamba Tuhan dari kerapiannya dalam berpakaian, banyaknya gelar yang dia sandang atau dari caranya berbicara? Kita, sebagai jemaat, sering terjebak menilai seorang pengkotbah dari penampilan luar, bukan dari kedalaman iman, keteladanan atau kualitas khotbah yang dia sampaikan. Para hamba Tuhan juga sering tergoda dengan banyaknya orang yang mengagumi dirinya, atau dari dahsyatnya pengalaman ajaib yang pernah dia alami, dan banyak ukuran lahiriah lainnya.
Hal demikian bukan baru sekarang terjadi. Itu sudah terjadi juga pada hamba-hamba Tuhan yang ada di tengah jemaat Korintus. Jemaat ini juga memiliki pandangan yang keliru bahkan terkesan sangsi akan kualitas kerasulan Paulus. Namun hal ini tidak terlalu dirisaukan oleh Paulus. Bahkan ia memberikan tanggapan yang bersifat paradoks dengan menyatakan, "Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku" (2 Korintus 11:30). Sebetulnya bisa saja Paulus membanggakan garis keturunannya, pengalaman pertobatan (Kis. 22:6-15), atau latar belakang teologisnya (2 Korintus 11:22).
Ada enam kelemahan yang menjadi kemegahan rasul Paulus, yakni penganiayaan fisik seperti didera, disesah (2 Korintus 11:24, 25); bahaya dalam perjalanan seperti banjir, karam laut, perampok dan perompak (2 Korintus 11:26); kelelahan fisik karena kerja berat sehingga sering tidak tidur (2 Korintus 11:27); minimnya akomodasi karena sering kelaparan, tanpa pakaian, kedinginan bahkan harus berpuasa (2 Korintus 11:27). Belum lagi penderitaan dalam Injil, dengan sering dikejar-kejar untuk ditangkap bahkan dipenjara (2 Korintus 11:23, 32). Juga penderitaan karena penggembalaan, ketika orang yang pernah dilayani kemudian dia dapati tersandung (2 Korintus 11:29). Paulus memaknai semua itu sebagai kelemahan yang membuat dirinya semakin dikuatkan dalam Kristus (2 Korintus 11:30).
Dalam hal apakah kita memegahkan diri? Dalam hal seperti tampilan, gaya berpakaian, atau kefasihan bicara? Hendaknya kita bermegah dalam pengorbanan, penderitaan demi pelayanan Injil dan karena mengikuti teladan Kristus.