2 Kor 3 (MAD2T*Pagi*01 April*Tahun 1)
2 Korintus 3
Penjelasan Singkat
Kemuliaan Injil
Isi Pasal
Pelayanan Kristus diakui. Sifatnya yang rohani dan mulia.
Judul Perikop
Pelayan-pelayan perjanjian yang baru (3:1-18)
Tafsiran: Paulus tidak merasa perlu meminta surat pujian dari siapa pun (2 Korintus 3:1). Bagi dia, jemaat Korintus yang merupakan hasil pelayanannya itulah yang menjadi surat rekomendasinya. Keberadaan jemaat Korintus menjadi bukti bahwa Paulus sungguh seorang rasul (2 Korintus 3:2). Lebih-lebih cintanya kepada jemaat Korintus, membuat jemaat itu terukir di hatinya menjadi surat pujian. Surat pujian itu bukan ditulis oleh tinta tetapi oleh Roh Allah (2 Korintus 3:3). Paulus merujuk kepada Musa yang menerima dua loh batu yang berisi hukum Allah, yang ditulis oleh jari-jari Allah sendiri. Musa adalah pelayan dari perjanjian yang lama, sementara Paulus adalah pelayan dari perjanjian yang baru. Dengan pemberitaan Injil yang dia lakukan, Paulus menjadi gerak jari-jari Kristus menulis, bukan di batu tetapi di hati manusia. Sifat dari surat pujian Paulus ini sungguh mengandalkan dan meninggikan Allah semata (2 Korintus 3:4-6).
Inilah perbedaan yang sangat menonjol antara Paulus yang sedang dianggap enteng dan para pelayan palsu yang sedang dikagumi oleh jemaat Korintus. Meski sadar bahwa pemberitaan Injil yang dia kerjakan menampakkan hasil, Paulus paham bahwa itu bukan karena kecakapan dirinya. Roh Allah saja yang membuat orang merespons Injil. Oleh sebab itu surat rekomendasinya bukan berisi tulisan tangan manusia tentang pekerjaannya, tetapi pemaparan karya Roh Kudus dalam pemberitaan Injil.
Kita harus sadar bahwa Allah yang memampukan kita untuk melayani. Maka kita tidak perlu meninggikan diri bila merasa mampu, dan tidak perlu mundur bila merasa tidak sanggup. Ingatlah bahwa Dia yang bekerja dalam pelayanan yang kita lakukan bagi Dia. Bila kita tidak terlibat pelayanan, marilah kita menghormati pelayan Tuhan. Jangan kita mengkultuskannya bila ia punya banyak kemampuan atau merendahkannya bila ia terlihat belum mampu. Yang lebih penting, jangan kita mudah menilai menurut ukuran-ukuran lahiriah. Belajarlah menilai segala sesuatu dari sudut rohani!
Hukum Taurat ditulis untuk menyadarkan orang akan dosa. Hukum itu tidak menyelamatkan sebab tak seorang pun yang memiliki hati yang murni tanpa cela dan yang mampu memenuhi secara sempurna tuntutan Taurat. Walaupun tak menyelamatkan, kemuliaan Allah tampak ketika Allah memberikan hukum itu melalui Musa (ayat 7). Itu menunjukkan bahwa hukum Taurat adalah sabda Allah sendiri yang menyatakan sifat dan kehendak-Nya. Berita Injil lebih mulia daripada Taurat. Injil terjadi karena Kristus dalam kasih-Nya telah datang untuk menyelamatkan. Bila kemuliaan Taurat membuat orang tidak tahan di hadapan Allah, Injil justru membuat orang masuk dalam persekutuan dengan Allah (ayat 9). Bila kemuliaan Taurat bersifat sementara, Injil bersifat kekal (ayat 11).
Yang dapat membuka selubung. Orang Yahudi berpegang pada prinsip usaha menaati Taurat. Menurut Paulus, hati mereka masih terselubung seperti muka Musa yang baru turun dari Sinai (Kel. 34:33). Sebenarnya Kristus telah membuka selubung Taurat melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Tetapi dalam pengalaman nyata dalam pelayanan, kita jumpai orang-orang yang tidak mengalami dampak Injil itu. Mengapa demikian? Karena berita keselamatan itu hanya dapat dimengerti dan bermanfaat bagi pembaca dan pendengarnya, bila mereka menyerah untuk dipimpin oleh Roh Kudus (ayat 14-16). Hal yang rohani hanya dapat dipahami dan dialami bila orang memohon pertolongan Roh Allah. Apakah tiap kali Anda melayani Anda berdoa agar Roh menyingkapkan hati orang yang Anda layani? Apakah Anda mengingatkan mereka akan tanggungjawab mereka meresponi?
Renungkan: Daya yang besar untuk melayani Tuhan dengan benar lahir dari pengenalan yang jernih akan kemuliaan Injil dan dari persekutuan yang hidup dengan Kristus oleh Roh Kudus.
Doa: Kami berdoa bagi mereka yang hatinya masih terselubung terhadap berita keselamatan itu.