2 Kor 4 (MAD2T*Mlm*01 April*Tahun 1)
2 Korintus 4
Penjelasan Singkat
Paradoks orang Kristen
Isi Pasal
Kebenaran diajarkan, dipercayakan melalui hidup. Pengajaran ketuhanan Kristus. Penderitaan para pelayan Kristus yang sejati.
Judul Perikop
Harta rohani dalam bejana tanah (4:1-15)
Jangan tawar hati, juga waktu menghadapi maut (4:16--5:10)
Tafsiran: Pada masa Paulus, ternyata ada saja pengkhotbah-pengkhotbah yang memiliki motivasi yang tidak jelas. Mereka hanya ingin memiliki banyak pengikut.
Paulus, menyadari bahwa pelayanan itu diterima karena kemurahan Allah (2 Korintus 4:1). Artinya, bukan karena kemampuan diri Paulus sendiri. Itu sebabnya, yang Paulus beritakan dalam pelayanannya adalah Yesus Kristus. Itulah fokus pemberitaannya, bukan yang lain, dan bukan juga dirinya sendiri (2 Korintus 4:5). Ini penting, karena banyak pengkhotbah yang berbicara tentang pengalamannya sendiri. Mungkin bagi sebagian pendengar, hal ini akan menyentuh hati. Namun masalahnya, pengkhotbah semacam ini tidak membawa orang kepada Kristus, yang menyelamatkan.
Karena Kristus yang menjadi fokus pemberitaan, maka Paulus pun memberitakannya dengan integritas penuh (2 Korintus 4:2). Meski demikian, mungkin saja ada orang yang menutup dirinya terhadap kebenaran yang Paulus beritakan (2 Korintus 4:3-4). Namun, itulah orang-orang yang memang akan binasa.
Paulus sendiri sadar bahwa dirinya hanyalah bejana tanah liat yang dipakai untuk menyampaikan harta mulia itu (2 Korintus 4:7). Begitu berat pengalaman yang telah ia lalui sebagai akibat dari pelayanannya bagi Kristus dan bagi Injil-Nya: ditindas, habis akal, dianiaya, dan dihempaskan (2 Korintus 4:8-9). Namun lihatlah kemenangan yang Paulus alami: tidak terjepit, tidak putus asa, tidak ditinggalkan sendirian, tidak binasa. Paulus sadar benar bahwa kekayaan rohani yang ada padanya lahir sebagai akibat penderitaan yang ia tanggung dalam pelayanan. Melalui penderitaan, Allah membuat pelayanan Paulus semakin efektif. Karena itu, ia tidak menjadi patah semangat. Karena semua yang ia alami adalah untuk kepentingan jemaat Korintus yang ia layani dan bagi kemuliaan Allah.
Bila begitu berat kehidupan seorang hamba Tuhan sejati, adakah kita terus mengeluh atas pelayanannya, padahal hanya ada kekurangan kecil. Doakan agar ia terus fokus pada pemberitaannya. Ingatlah, tugas hamba Tuhan bukan menyenangkan hati kita, melainkan menyenangkan Allah.
Secara manusiawi Paulus lemah, tetapi secara rohani dengan setia Allah menyertai dan menguatkan perjuangan iman dan pelayanannya (ayat 16-17). Sekalipun daya fisik Paulus makin menurun, baik karena usia maupun penderitaan yang terus menerus, namun semangatnya menginjili tetap menyala-nyala. Mengapa? Karena dia sangat yakin bahwa di balik semua penderitaan ini kelak tersedia kemuliaan dari Tuhan (ayat 17). Bagi orang yang berorientasi pada upah yang kelihatan, seperti uang, materi dan lain-lain, ucapan Paulus ini omong kosong, tetapi bagi orang percaya, harapan itu benar (bdk. Rm. 5:2). Semangat dan harapan demikian harus tetap dipegang oleh pengikut Kristus.
Kehendak Tuhan makin nyata. Di dalam penderitaannya Paulus mengalami banyak berkat rohani. Ia belajar mengandalkan kekuatan rohani, bukan jasmaninya. Ia juga makin memusatkan perhatian kepada harapan surgawi, bukan pada gemerlap duniawi (ayat 1). Sementara menanti penggenapan janji itu, ia sudah mengalami "uang mukanya" dalam bentuk kuasa Roh (ayat 5). Dengan demikian ia belajar hidup dan melayani dalam iman bukan dalam penglihatan. Ia tahu, rumah kekalnya adalah surga, bukan dunia yang menuju kebinasaan ini (ayat 8b).
Renungkan: Siapa yang kita puaskan dalam pelayanan kita?
Doa: Berikan kami hati yang taat kepada kehendak-Mu.