2 Kor 5 (MAD2T*Pagi*02 April*Tahun 1)
2 Korintus 5
Penjelasan Singkat
Keyakinan Paulus akan kekekalan
Isi Pasal
Mengapa kematian tidak mengerikan bagi hamba Tuhan. Motif dan tujuan pelayanan bagi Kristus.
Judul Perikop
Pelayanan untuk pendamaian (5:11-21)
Tafsiran: Tidak mudah untuk melihat penderitaan dengan harapan 'habis hujan akan tampak pelangi'. Lebih mudah bagi kita membayangkan penderitaan dengan gambaran 'habis hujan, banjir melanda'. Kesulitan saja yang akan muncul.
Paulus bukan sekadar melihat sisi positif, bila dia katakan bahwa meski tubuhnya menjadi lemah karena penderitaan yang dia alami tetapi kehidupan rohaninya diperbarui dan diperkuat oleh kuasa Allah (2 Korintus 4:16). Cakrawala pemikirannya menjangkau pengharapan kekal (2 Korintus 4:18), yakni tempat kediaman di surga, yang disediakan Allah untuk menggantikan tempat kediaman di bumi (2 Korintus 5:1). Ketika tubuh di bumi ini menderita, orang beriman berharap akan tubuh kebangkitan (2 Korintus 5:2), yakni tubuh kemuliaan yang akan diterima pada hari kedatangan Kristus (2 Korintus 5:3). Itulah rancangan Allah bagi manusia (2 Korintus 5:5). Dan penggenapan rancangan itulah yang secara serius kita imani dan harapkan.
Untuk itu, orang percaya menerima Roh Kudus sebagai jaminan (ay. 5, band. 2Kor. 1:22), bagaikan uang muka yang menjamin pembayaran sepenuhnya di masa kemudian. Maka karya Roh Kudus dalam hidup Paulus dan jemaat Korintus merupakan 'uang muka' dari keselamatan penuh yang akan mereka terima di masa datang. Roh Kudus menolong orang beriman agar di dalam penderitaan mengalami latihan dan penguatan iman. Sebab itu Paulus rela menanggung penderitaan (2 Korintus 5:6), karena ingin berkenan di hadapan Kristus yang akan duduk di takhta pengadilan supaya ia menerima apa yang patut diterimanya (2 Korintus 5:9-10).
Paulus melihat hidup serta pengalamannya berdasarkan perspektif kekekalan yang akan diterimanya kelak. Meski kini ia harus mengalami penderitaan, ia tetap menanggungnya dengan rela. Apakah kita juga sedang menjalani hidup ini dengan perspektif yang sama? Hidup dalam perspektif kekekalan akan memampukan kita menjalani tiap babak dalam hidup dengan tabah dan hati-hati, karena tahu bahwa akan tiba saatnya Tuhan datang dan mengenapi janji-Nya.
Bila dalam pasal 4:1 Paulus menjelaskan penyebab ia tidak tawar hati dalam pelayanan, kini ia menjelaskan hal-hal yang mendorong dia untuk terus giat melayani.
Pertama, Paulus tahu bahwa suatu saat ia dan semua orang akan berhadapan dengan takhta pengadilan Kristus. Itu memunculkan rasa 'takut akan Tuhan' dalam hatinya, yang kemudian memotivasi dia untuk mencari 'orang-orang terhilang' dan meyakinkan mereka tentang Injil. Ia tahu Allah memahami motivasinya, karena itu ia berharap agar jemaat Korintus memahami pula pelayanan dan motivasinya yang murni (2 Korintus 5:11), serta merasa bangga karenanya (2 Korintus 5:12). Sebab semuanya ia lakukan bagi kemuliaan Allah dan kepentingan mereka juga (2 Korintus 5:13).
Hal lain yang memberdayakan Paulus dalam pelayanan adalah 'kasih Kristus yang menguasai dia'. Yang Paulus maksud bukan kasihnya kepada Kristus, tetapi pergumulan akan kasih Kristus yang rela mati untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang (2 Korintus 5:14), agar mereka diperdamaikan dengan Allah (2 Korintus 5:17) dan menjadi ciptaan yang baru (2 Korintus 5:16). Orang yang memberikan dirinya digerakkan oleh kasih Kristus ini terlibat dalam pelayanan pendamaian. Inilah tugas yang Allah percayakan kepada Paulus (2 Korintus 5:18-19) sebagai utusan-Nya (2 Korintus 5:20-21). Dengan rela hati, ia pun menerimanya karena tahu bahwa orang yang telah diselamatkan hidupnya oleh Yesus, harus hidup untuk Dia dan melayani Dia (2 Korintus 5:15).
Kasih Kristus juga memberi Paulus cara penilaian yang baru terhadap sesamanya (2 Korintus 5:16-17). Berbagai embel-embel dan gelar yang sering orang banggakan, bukan lagi yang utama. Sesama orang beriman harus dilihat sebagai milik Kristus, yaitu orang yang sudah mengecap kasih-Nya. Terhadap sesama yang belum beriman kepada Kristus, ingatlah bahwa Kristus berkorban bagi mereka juga. Mereka perlu tahu bahwa hidup mereka berharga sebab Kristus juga berkorban bagi mereka. Kiranya kasih Kristus yang Paulus hayati ini juga menjadi tenaga pendorong kita dalam pelayanan.