2 Tim 4 (MAD2T*Mlm*26 April* Tahun 1)
2 Timotius 4
Penjelasan Singkat
Syarat dari pelayan-pelayan
Isi Pasal
Hamba Kristus yang setia dan kesetiaan Kristus kepada milik kepunyaan-Nya.
Judul Perikop
Penuhilah panggilan pelayananmu (4:1-8)
Pesan terakhir (4:9-18)
Salam (4:19-22)
Tafsiran: Menuju garis finis. Sekali lagi Paulus berpesan pada Timotius untuk melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Namun, pada bagian ini Paulus memberikan alasan yang lain lagi, dari sudut pandang masa depan. Pertama, berkaitan dengan tugasnya sebagai pemberita firman dan pengajar, karena akan datang masa dimana orang lebih suka dengan ketidak benaran dan “dongeng” (ayat 2-4). Kedua,karena penghakiman yang akan datang. Dua kali Paulus menyinggung pengajaran tentang Allah sebagai Hakim. Kesadaran ini seharusnya juga menjadi inspirasi yang membuat Timotius makin sungguh-sungguh melayani. Ketiga, Karena apa yang menanti Paulus “mahkota kebenaran” (ayat 6-8), seperti atlit pada pertandingan olahraga Yunani/Romawi purba. Tetapi, mahkota kebenaran ini bukanlah imbalan setimpal atas jerih payah pelayanan Paulus. Paulus dengan jelas menyebutnya sebagai sesuatu yang “akan dikaruniakan”(ayat 8, apodosei). “Mahkota kebenaran” itu melambangkan pembenaran yang datangnya dari Tuhan sendiri, walaupun dihadapan pengadilan dan dimata dunia, Paulus adalah pesakitan yang duduk dikursi terdakwa. Sudut pandang kemasa depan inilah yang menjadi dasar supaya Timotius sebagai pemberita firman bersikap siap sedia (ayat 2), menguasai diri dalam segala hal (ayat 4), dan “menunaikan” tugas pelayanannya, seperti seorang atlit yang mencapai garis finis dengan baik.
Renungkan: Pelayanan kita yang terutama adalah kehidupan kita sehari-hari.
Bagaimana kita dapat mencapai garis akhir, bergantung pada cara kita memandang diri sendiri: sebagai atlit yang harus terus memotivasi diri, berlatih dan berjuang, atau penonton yang duduk santai?
Di bagian penutup suratnya, Paulus mendesak Timotius untuk segera menemui dia (ayat 9). Ia menitip salam untuk beberapa orang yang dia kenal (ayat 19-21). Ia juga meminta Timotius membawa beberapa benda yang dia butuhkan. Lalu apa hubungan semua itu dengan kita? Mengapa Allah membiarkan isi tulisan ini diperhitungkan sebagai tulisan yang diilhamkan Allah? Bila kita meneliti lebih jauh, ayat-ayat ini akan menolong kita mengenal dan memahami Paulus, terutama di saat-saat terakhir dalam hidupnya.
Di satu sisi, Paulus sangat manusiawi. Dalam saat-saat terakhir dalam hidupnya, ia merasakan kesepian karena teman-temannya telah pergi (ayat 10, 12). Tak ada yang menemani dia saat melakukan pembelaan (ayat 16). Ia pun bergumul dengan perasaan kecewa terhadap orang lain (ayat 10, 14). Namun di sisi lain, ia terlihat begitu kuat dan keyakinannya akan Allah begitu teguh (ayat 17-18). Gambaran ini memperlihatkan realita hidup orang beriman. Orang beriman ternyata tidak bebas dari masalah dan rasa kecewa terhadap orang lain. Akan tetapi, hal itu bisa diatasi dengan iman kepada Allah.
Permintaan Paulus akan kitab-kitab, termasuk perkamen, memperlihatkan kepada kita bahwa ia adalah seorang yang memiliki keinginan kuat untuk senantiasa belajar. Kita memang tidak tahu kitab atau perkamen apakah yang dia maksud. Namun kita bisa melihat bahwa ia tidak menyia-nyiakan waktu yang begitu banyak tersedia saat dia berada di penjara. Dia memanfaatkan waktu yang ada untuk sesuatu yang bisa memperdalam pengenalannya akan Allah dan menolong dia dalam melayani orang lain.
Bagi kita yang sudah berada di usia senja, teladanilah Paulus. Jangan patah semangat karena keterbatasan fisik. Lakukanlah sesuatu yang menolong kita semakin dekat dengan Allah. Bagi kita yang merasa masih memiliki waktu yang cukup panjang untuk tinggal di dunia ini, jangan sia-siakan waktu yang begitu banyak itu. Manfaatkanlah untuk sesuatu yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain.