Fil 3 (MAD2T*Pagi*14 April*Tahun 1)
Filipi 3
Penjelasan Singkat
Kerugian karena Kristus/ Semua dipandang rugi karena Kristus
Isi Pasal
Kristus, tujuan iman, keinginan, dan pengharapan orang percaya.
Judul Perikop
Kebenaran yang sejati (3:1-16)
Nasihat-nasihat kepada jemaat (3:17--4:1)
Tafsiran: Menjadi pengikut Kristus merupakan sebuah keputusan yang harus sungguh-sungguh dijalani. Demikian juga bagi rasul Paulus. Kejayaan dan kemuliaan di masa lalu tidak lagi bernilai karena pengenalan akan Kristus. Apa yang dahulu dianggap bernilai, sekarang ini menjadi sama seperti sampah (Filipi 3:7-8).
Mengapa Paulus mengungkapkan hal ini? Dia sedang memperingatkan jemaat Filipi untuk berhati-hati terhadap "anjing-anjing, pekerja-pekerja yang jahat dan penyunat-penyunat yang palsu" (Filipi 3:2). Orang-orang itu menekankan hidup keagamaannya secara lahiriah semata (Filipi 3:4). Orang-orang yang demikian melakukan ibadahnya secara ritualistik dan legalistik. Mereka perlu diwaspadai karena ada di dalam jemaat dan berpotensi menyesatkan kerohanian jemaat. Dengan memakai kesaksian hidupnya, rasul Paulus menasihati jemaat Filipi. Dulu segala kemegahan lahiriah seperti itu dianggapnya keuntungan, tetapi sekarang tidak. Pengenalan akan Kristus itulah yang diingininya.
Nasihat ini ditulisnya dari penjara. Sekiranya Paulus tetap mengingini kejayaan dan kemuliaannya dulu, dia tidak akan ada di penjara. Paulus dengan tegas menyatakan imannya dan terus mengarahkan pandangannya ke depan bahkan 'berlari untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus' (Filipi 3:14).
Sikap Paulus ini tidak mudah untuk diteladani. Bagi kita yang berada dalam keadaan aman dan nyaman, mengikut Kristus adalah mudah. Akan tetapi, kalau kita berada dalam keadaan seperti Paulus tentu lain ceritanya. Godaan untuk kembali kepada kejayaan hidup di masa lalu akan sangat besar. Ingat saja pengalaman bangsa Israel ketika keluar dari Mesir (Bil. 11:4-6). Ketika merasa bosan, mereka dengan mudah merindukan kemakmuran di Mesir. Oleh karena itu, kita perlu bertekad seperti Paulus, "melupakan apa yang telah ada di belakangku" agar dapat fokus ke depan! Sebagai pengikut-pengikut Kristus seharusnya kita juga memiliki kesungguhan dalam iman. Iman yang sejati akan terlihat dalam kerinduan untuk semakin mengenal Kristus dan bertumbuh di dalam-Nya.
Sebagai manusia yang lahir di dunia ini, kita semua memiliki kewarganegaraan tertentu. Kita yang lahir di Indonesia adalah warga negara Indonesia. Perikop kita hari ini mengingatkan bahwa kita yang sudah diselamatkan di dalam Kristus adalah warga Kerajaan Surga (Filipi 3:20). Sebagai warga Kerajaan Surga, selayaknya kita hidup sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Surga dan tidak mengikuti nilai-nilai yang dari dunia. Nilai-nilai Kerajaan Surga itu terlukis di dalam sebuah lambang yang sangat kita kenal yaitu salib Kristus (Filipi 3:18).
Apa sajakah nilai-nilai lama yang harus kita tinggalkan? Kita dipanggil untuk tidak lagi hidup demi perut. Perut adalah lambang kepuasan hidup jasmani, ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai Kerajaan Surga. Karena kebutuhan makanan adalah kebutuhan yang paling mendasar dalam hidup manusia, maka jika manusia memuaskan perutnya saja, dapat diartikan bahwa ia hidup dengan tujuan yang sangat rendah. Bila hidup oleh dan untuk perut, juga dikendalikan oleh pikiran-pikiran duniawi, maka hasil semuanya itu adalah aib semata (Filipi 3:19).
Dunia memandang Salib sebagai hal yang rendah sedangkan Surga memandang Salib sebagai hal yang mulia. Pikiran duniawi memandang penjara Paulus sebagai sesuatu yang hina, sedangkan pikiran surgawi memandang sengsara penjara seperti yang Paulus alami sebagai jalan salib yang mulia. Lebih jauh lagi, pikiran surgawi melihat kehinaan tubuh dan penderitaan yang dialami di dunia sebagai sesuatu yang akan diubah menjadi kemuliaan di dalam kuasa kebangkitan Kristus.
Pesan-pesan inilah yang diberikan Paulus kepada jemaat di Filipi supaya tidak tawar hati melihat pemenjaraan dirinya. Paulus senantiasa mendorong segenap jemaat untuk tetap teguh di dalam Tuhan meskipun mereka mengalami situasi yang sulit (Filipi 4:1).
Kita juga harus tetap teguh di dalam iman walaupun situasi yang kita hadapi tidak menentu. Kita harus selalu ingat bahwa penderitaan yang kita alami sekarang ini adalah suatu proses menuju pemuliaan di surga kelak.