Gal 2 (MAD2T*Mlm*07 April*Tahun 1)
Galatia 2
Penjelasan Singkat
Petrus ditegur
Isi Pasal
Perjalanan Paulus ke Yerusalem dan pertentangannya untuk kebenaran. Pembenaran melalui iman di dalam Kristus tanpa perbuatan.
Judul Perikop
Paulus diakui oleh para rasul (2:1-10)
Paulus bertentangan dengan Petrus (2:11-14)
Yang terutama, juga untuk orang Kristen keturunan Yahudi (2:15-21)
Tafsiran:
Misi pengabaran Injil adalah tugas gereja. Itu sebabnya, setiap badan misi harus bekerja sama dengan gereja. Sebaliknya, gereja harus mendukung upaya pribadi-pribadi Kristen dalam menyaksikan Kristus kepada orang lain.
Sejak pertobatannya, Paulus sudah giat mengabarkan Injil, terutama kepada bangsa-bangsa nonyahudi. Ia telah menghasilkan banyak petobat baru dan banyak gereja selama belasan tahun. Namun, Paulus sadar bahwa pengabaran Injil bukan tugas pribadi semata-mata melainkan tugas gereja. Itu sebabnya, ia berkunjung ke Yerusalem untuk mendapatkan dukungan dari gereja dan tokoh-tokoh Kristen di sana, "supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha" (ayat 2). Maksudnya agar gereja yang terdiri dari orang-orang nonyahudi (Antiokhia) disambut ke dalam persekutuan dengan gereja Yerusalem. Paulus konsisten dengan tugas pengabaran Injil dan dengan tegas menolak upaya memasukkan unsur-unsur budaya Yahudi yang pada hakikatnya membelenggu kebebasan yang dihasilkan Injil sejati (ayat 4-5). Injil harus kontekstual dengan masyarakat di mana Injil itu diberitakan. Itu sebabnya ia membawa Titus yang tidak bersunat sebagai bukti hasil pelayanannya itu (ayat 3). Reaksi gereja di Yerusalem menggembirakan. Para pemimpin gereja terbuka melihat panggilan pelayanan Paulus kepada bangsa-bangsa nonyahudi sama seperti panggilan pelayanan Petrus untuk bangsa Yahudi (ayat 6-8). Gereja mendukung penuh pengabaran Injil kontekstual Paulus (ayat 9).
Tugas gereja bukan menghalang-halangi, sebaliknya mendukung, memperlengkapi, dan mengutus umat Tuhan untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa di dunia ini. Injil sejati harus diberitakan tanpa embel-embel atau muatan budaya lain yang hanya akan menghambat iman sejati
Doakan: Agar Tuhan menggerakkan gereja-gereja yang belum menjadikan misi sebagai prioritas utama program kerja mereka menjadi agen-agen penyalur kuasa dan kasih Allah kepada dunia ini.
Yesus mengasihi tanpa membeda-bedakan suku, bangsa, ras, dan bahasa. Petrus pada awalnya karena tidak mengerti hati Tuhan, masih menganggap tradisi Yahudi (=sunat) lebih penting daripada Injil. Sebaliknya Paulus menyatakan konsistensi imannya dengan berani menegor keras dan terbuka kepada Petrus yang tergolong seniornya (ayat 11,14). Pertama, hukum Taurat tidak dapat menyelamatkan manusia berdosa. Hanya kasih karunia dalam Kristus yang membenarkan seseorang. Kasih karunia dalam Kristus inilah yang mengubah inti kehidupan orang yang percaya. Hidup Kristus ada di dalam hidupnya (ayat 16-20). Kedua, sikap Petrus sebagai salah seorang pemimpin gereja mempengaruhi orang-orang lain sehingga mereka juga terseret dalam kemunafikannya (ayat 13). Kalau hal ini dibiarkan dapat mengacaukan dan merusak persekutuan Injil yang sudah Paulus rintis dan bina selama ini di Antiokhia.
Gereja harus menyadari bahwa peran penting mereka dalam pemberitaan Injil bukan hanya dengan menjadi juru bicara Tuhan, tetapi juga dengan menyaksikan kasih Allah melalui kehidupan. Pertama, gereja harus menolak segala ajaran yang menegakkan peraturan atau tradisi tertentu lebih tinggi daripada ajaran kasih karunia. Kedua, gereja harus mendidik umat Tuhan untuk tidak bersikap membeda-bedakan suku, bahasa, status sosial, pendidikan, dll. Sikap antidiskriminasi ini harus dimulai dari para pemimpin gereja!
Camkan: Jangan rusak kesaksian Injil kasih Allah dengan tindakan diskriminatif umat Allah.
Paulus telah dengan tegas menegur Petrus yang tidak jelas pendiriannya. Paulus kemudian menegaskan kenyataan bahwa sesungguhnya orang Yahudi sama dengan orang nonYahudi, sama-sama orang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diri sendiri dengan ketaatan melakukan Taurat. Karena hanya Kristuslah yang dapat membenarkan seseorang.
Kaum Yudaisme berkata bahwa apa yang dilakukan orang Kristen tidaklah sempurna. Tidak cukup bila orang hanya percaya kepada Yesus, karena ia harus melakukan hukum Taurat juga. Pandangan ini tentu tidak benar karena bila demikian berarti orang Kristen adalah orang berdosa sebab telah mengikuti ajaran Yesus yang menolak tuntutan Taurat. Bila demikian, tentu Yesus pun dapat disebut sebagai promotor atau pelayan dosa karena menganjurkan orang untuk tidak melakukan Taurat. Jelas saja Paulus membantah hal ini. Karena kalau ia kembali melakukan Taurat berarti ia membangun lagi tembok yang sudah dirobohkan dan berarti ia mengakui bahwa dirinya adalah pelanggar Taurat.
Paulus menegaskan bahwa ia sudah mati terhadap Taurat. Kita harus ingat bahwa kalau ada orang yang bisa mengatakan sudah sempurna melakukan Taurat, Pauluslah orangnya (Flp. 3:6). tetapi Paulus sadar bahwa melakukan Taurat tidak serta merta menjadikan dia benar. Maka hanya ada satu cara, yaitu percaya Yesus! Yesuslah yang membenarkan dan menyelamatkan manusia. Maka bagi Paulus, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri, melainkan milik Kristus. Dia sudah mati bersama Kristus yang disalibkan. Kristuslah yang menghidupkan dirinya. Jadi hidup Paulus bukan lagi untuk berjuang melakukan Taurat supaya dibenarkan, melainkan untuk Allah (Galatia 2:19).
Ada syair lagu yang demikian: "Hidupku bukannya aku lagi, tapi Yesus dalamku". Jadi pahamilah bahwa bukan melakukan Taurat yang menyelamatkan kita, tetapi percaya Tuhan Yesus saja yang membuat kita mendapat anugerah keselamatan. Ingatlah bahwa waktu kita percaya Yesus, maka Dia mengampuni dosa kita dan di hadapan Allah kita adalah orang benar.