Gal 4 (MAD2T*Mlm*08 April*Tahun 1)
Galatia 4
Penjelasan Singkat
Kristus membebaskan kita dari Hukum Taurat
Isi Pasal
Penebusan seutuhnya orang percaya dari hukum Taurat. Menjadi anak Allah melalui Roh Kudus. Bahaya dari tergelincir ke dalam legalitas. Kemustahilan mencampur hukum Taurat dan kasih karunia.
Judul Perikop
Tak ada lagi perhambaan (4:1-11)
Ingatlah akan hubungan kita yang semula (4:12-20)
Hagar dan Sara (4:21-31)
Tafsiran: Dalam suratnya, Paulus menyebut jemaat Galatia telah berlaku bodoh (Gal. 3:1). Mengapa demikian? Sebelum kedatangan Kristus, setiap orang berusaha mencari keselamatan dengan usahanya sendiri. Orang Yahudi, meski mereka merupakan anak perjanjian (Gal. 3:29), tetapi tampak tidak ada bedanya dengan hamba, karena mereka masih hidup dalam perwalian dan pengawasan hukum Taurat (Galatia 4:1, 2). Sedangkan orang Galatia sendiri hidup menghambakan diri pada roh-roh dunia yang lemah dan miskin. Mereka memelihara atau merayakan hari-hari tertentu atau waktu-waktu tertentu lain supaya selamat di dalam hidupnya (Galatia 4:9, 10). Padahal Paulus pernah memberitakan kabar baik kepada mereka dengan gambaran yang sangat jelas (Gal. 3:1). Berita itu adalah bahwa kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk membebaskan mereka dari semua tuan yang selama itu membelenggu mereka (Gal. 3:25-29). Dengan demikian mereka beroleh kasih karunia dari Allah, mereka diangkat menjadi anak Allah dan menjadi ahli waris keselamatan kekal yang selama itu mereka cari (Galatia 4:4-7). Namun saat itu Paulus khawatir dengan kondisi orang-orang di Galatia (Galatia 4:11), karena mereka telah menerima ajaran lain yang tampaknya seperti injil, tetapi bukanlah injil (Gal. 1:6). Akibatnya mereka kembali menghambakan diri kepada roh-roh dunia.
Keselamatan yang dianugerahkan Allah kepada kita sebenarnya tidak hanya mencakup kehidupan kekal kelak, tetapi juga ketika kita hidup di dunia ini dan kini. Kita tidak lagi perlu mencari keselamatan hidup dengan jimat-jimat atau melakukan ritual pada waktu-waktu tertentu. Karena itu berarti kita menyia-nyiakan anugerah keselamatan dari Tuhan.
Pernahkah Anda diperhadapkan pada dua pilihan yang membingungkan? Lalu manakah yang Anda pilih, yang kelihatan benar atau yang sungguh-sungguh benar?
Dalam surat Galatia nyata betul kekhawatiran Paulus akan pilihan hidup jemaat Galatia yang telah dia injili sebelumnya (Gal. 4:11). Paulus tidak menduga bahwa jemaat Galatia, yang dahulu begitu takjub kepada berita yang dibawa Paulus ternyata begitu cepat berubah dan meninggalkan kebenaran yang telah diajarkan oleh Paulus (Gal. 1:6). Kebenaran akan anugerah keselamatan yang mereka terima ternyata tidak betul-betul dipahami secara utuh. Situasi ini membuat mereka mengambil pilihan yang salah bahkan fatal, yaitu ketika ada orang-orang menawarkan ajaran yang salah. Orang-orang tersebut giat berusaha menarik jemaat di Galatia supaya mengikuti ajaran yang mereka tawarkan (17, 18).
Menyadari bahwa Galatia sedang menuju kebinasaan, Paulus menggugah mereka untuk memikirkan kembali jalan yang sudah mereka tempuh. Mereka sudah memulai di dalam Roh, apakah mereka mau mengakhirinya di dalam daging (Gal. 3:3)? Maka dengan penuh kasih, Paulus kembali meminta mereka untuk hidup seperti dirinya. Dulu pun Paulus sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangnya, tetapi setelah mengenal Allah, ia meninggalkan semuanya (Gal. 1:13, 14) karena ia tahu betapa tak ternilainya kasih karunia keselamatan itu. Paulus tidak akan menggantikannya dengan apapun, bahkan sekalipun ia menderita karenanya.
Maka dalam menghadapi ajaran-ajaran yang salah itu, Paulus menasihatkan supaya mereka berdiri teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan oleh siapapun, supaya mereka sungguh-sungguh merdeka, sesuai anugerahkan Kristus kepada mereka (Gal. 5:1).
Di tengah kita pun banyak ajaran yang bertentangan dengan kebenaran Injil. Namun jangan sampai salah memilih ajaran karena akan membuat kita makin jauh dari Tuhan. Marilah kita mengenal Kristus dengan pemahaman yang benar supaya kita bisa memilih ajaran yang benar dan sehat.
Tak seorang pun yang bangga menjadi hamba karena seorang hamba tidak memiliki hak apa pun untuk hidupnya sendiri. Semua orang ingin merdeka. Orang Yahudi membanggakan kemerdekaan mereka sebagai keturunan lahiriah Abraham. Namun, Paulus justru menunjukkan bahwa tidak semua anak-anak lahiriah Abraham adalah orang-orang merdeka sejati!
Paulus memakai ilustrasi Hagar dan Sara untuk menunjukkan dua macam kehidupan (ayat 22-26). Keduanya memang melahirkan anak-anak bagi Abraham, namun status mereka berbeda. Hagar melambangkan hidup perhambaan. Memang ia melahirkan anak pertama bagi Abraham menurut urutan waktu. Namun, Hagar tetap seorang hamba yang statusnya tidak pernah diubah menjadi istri. Jadi, keturunannya pun tidak akan mewarisi janji Allah bagi Abraham. Hagar melambangkan gunung Sinai, yaitu orang-orang yang hidup di luar anugerah keselamatan, yaitu mereka yang hidupnya menggantungkan diri pada usaha sendiri (=melakukan Taurat). Hagar melambangkan Yerusalem duniawi (ayat 25). Sara melambangkan hidup oleh kasih karunia. Ia mandul, namun oleh anugerah Allah ia menjadi ibu bagi anak-anak perjanjian. Sara melambangkan Yerusalem surgawi, yaitu tempat anugerah Allah dicurahkan (ayat 26-27). Jadi, anak-anak yang lahir dari Sara adalah ahli waris janji-janji Allah semata-mata oleh karena anugerah-Nya (ayat 28). Tidak mengherankan kalau anak-anak Tuhan akan selalu mendapat aniaya dan dengki dari anak-anak hamba yang tidak mendapat hak (ayat 29-30).
Mengandalkan apa pun yang disejajar dengan karya penyelamatan Kristus berakibat pada perhambaan. Orang Kristen menjalankan perintah-perintah Allah bukan sebagai hamba, melainkan sebagai orang merdeka. Ketaatan hamba terpaksa, ketaatan orang merdeka adalah ucapan syukur.
Renungkan: Orang yang sudah dimerdekakan dalam Kristus, namun berpaling lagi kepada perhambaan dosa, menginjak-injak dan menghina Kristus yang telah menebusnya.