Ibrani 4 (MAD2T*Mlm*01 Mei*Tahun 1)

Ibrani 4

Penjelasan Singkat
Hari perhentian orang kristen

Isi Pasal
Perhentian yang lebih baik untuk orang percaya. Karya penebusan yang sempurna.

Judul Perikop
Hari perhentian yang disediakan Allah (4:1-13)
Yesus sebagai Imam Besar (4:14--5:10)

Tafsiran: Di satu pihak kita mungkin merasa ngeri terhadap "perhentian" (misalnya, PHK); namun di pihak lain perhentian itu kita rindukan (misalnya bebas dari keharusan bekerja terus-menerus). Melalui penciptaan Allah menetapkan dan memberkati baik pekerjaan maupun perhentian, khususnya hari perhentian atau hari ketujuh, yang dianggap oleh para rabi sebagai perhentian kekal, karena dalam Kej. 2:1-3 tidak disebut lagi adanya petang dan pagi. Penulis surat kepada orang Ibrani menganjurkan, perhentian yang benar-benar perlu dan patut dirindukan ialah perhentian kekal dalam arti keselamatan.

Berusaha untuk masuk. Bagaimana cara "berusaha masuk ke dalam perhentian" (ayat 11)? Tak lain tak bukan "percaya dan taat" (ayat 3:18-19, 4:3,6,11). Para pembaca surat berada dalam keadaan berbahaya, bahkan ada yang sudah hampir "tidak percaya" dan "tidak taat" seperti bangsa Israel dahulu. Daripada menghadapi penderitaan sebagai Kristen mereka cenderung kembali pada kebiasaan-kebiasaan agama Yahudi, khususnya memperoleh keselamatan melalui ritus-ritus agama. Padahal sikap ikut-ikutan dalam pelaksanaan acara agama tanpa iman, tidak mungkin membenarkan kita. Segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata-Nya. Kepada-Nyalah kita harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita (ayat 13).

14-16. Dia berada di tempat Maha Kudus selaku imam besar kita. Hak-Nya untuk memperoleh kedudukan tersebut dijamin oleh kematian (dan juga pencurahan darah) dan kebangkitan-Nya. Dia telah melintasi semua langit ke dalam hadirat Allah. Dia berada di sana bukan hanya sebagai Putra Allah, tetapi juga sebagai Anak Manusia. Di dalam kesempurnaan kemanusiaan-Nya Dia sangat mengenal segenap kebutuhan, kekhawatiran, pencobaan dan persoalan kita sebab Dia pernah dicobai tanpa tunduk kepada pencobaan itu. Dia tabu sepenuhnya mengenai segala bentuk dosa tanpa Dia sendiri pernah berbuat dosa. Pengenalan puncak-Nya akan dosa diperoleh ketika Dia mengambil alih segenap dosa kita untuk dipikul-Nya sendiri di Kalvari.

Sekarang, karena Dia berada di hadirat Allah, kita dapat menghampiri Allah dengan penuh keberanian. Takhta kasih karunia Allah telah diubah dari takhta penghakiman menjadi takhta kemurahan sebab darah Yesus telah "dipercikkan" atas takhta tersebut. Simbolisme ini diambil dari tabut perjanjian di dalam Kemah Suci dan dari Hari Raya Pendamaian (Im. 16). Simbolisme dan penggantian kebiasaan Perjanjian Lama ini dijelaskan pokok demi pokok di dalam uraian penulis selanjutnya. Untuk saat ini, penulis menekankan kebenaran bahwa tersedia pertolongan bagi yang lemah, kemurahan bagi yang hancur dan kasih karunia untuk mendapat pertolongan, sebab Kristus imam besar kita yang berada di takhta Allah memenuhi segenap kebutuhan kita. Bantuan yang tidak berkeputusan ini langsung tersedia bagi setiap orang Kristen, tanpa diperlukan formalitas tertentu selain "memanggil nama Tuhan." Mungkin sedikit sekali nas di dalam Perjanjian Baru yang sekaya ini di dalam mengutarakan janji dan penghiburan bagi orang Kristen. Bila dipahami dengan benar, di sini terdapat salah satu kebenaran tertinggi di dalam Alkitab tentang Kristus dan orang-orang percaya. Di sini harus diperhatikan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan Kristus selaku imam besar dijelaskan secara lebih lengkap di dalam bagian-bagian berikutnya hingga 10:18; juga perbandingan dengan Musa dibahas di dalam bagian ini.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)