Kol 3 (MAD2T*Pagi*16 April*Tahun 1)
Kolose 3
Penjelasan Singkat
Tanggung jawab rumah tangga
Isi Pasal
Persatuan orang percaya dengan Kristus di sini dan selamanya, dan buah dari persatuan tersebut.
Judul Perikop
Manusia baru (3:5-17)
Hubungan antara anggota-anggota rumah tangga (3:18--4:6)
Tafsiran: Perkara di atas (rohani) adalah perkara-perkara yang mendasar bagi kehidupan di dunia ini. Misal, kalau kita menyadari bahwa roh kita kekal dan satu hari kelak kita harus mempertanggungjawabkan kehidup-an kita kepada Tuhan, maka kesadaran itu akan mempengaruhi cara hidup, gaya hidup, tingkah laku, perkataan, dan pikiran kita.
Paulus berkata, karena kita sudah dibangkitkan bersama Kristus, kita harus memikirkan perkara-perkara di atas (ayat 1-2). Kita sudah disatukan dengan Kristus bersama kematian-Nya (ayat 3), maka pikiran dan hati kita harus disesuaikan dengan pikiran dan hati Kristus. Di sini ada proses identifikasi diri dengan Kristus. Hidup kita hanya untuk menyenangkan hati Allah, dan melakukan kehendak Allah, yaitu hal-hal yang mulia dan bernilai kekal.
Identifikasi diri dengan Kristus harus mewujud dalam transformasi hidup. Yaitu, perubahan hidup dari hidup duniawi -- semua perbuatan hawa nafsu yang mendatangkan murka Allah (ayat 5-7), dan semua karakter berdosa yang tidak pantas dilakukan oleh orang kudus (ayat 8-9) -- menjadi hidup baru, yang rohani, yang terus menerus diperbaharui semakin menyerupai gambar Allah (ayat 10). Dunia modern semakin menawarkan kegemerlapan dunia malam (dugem) yang penuh dengan pelampiasan hawa nafsu yang menjijikkan. Anda di Jakarta tentu sudah tahu buku yang menghebohkan Jakarta Undercover. Itulah dunia masa kini yang harus kita jauhi.
Anak Tuhan harus melakukan proses identifikasi diri dengan Kristus terus menerus dengan cara berdoa dan membaca firman. Hidup kita juga harus ditransformasi terus menerus, dengan menolak melakukan berbagai perbuatan jahat dan digantikan terus menerus dengan perbuatan baik.
Yang kulakukan: Meningkatkan kualitas waktu teduh saya, dan mempraktikkan hidup yang kudus, yang berkualitas, dan yang menjadi berkat bagi sesama.
Ada pandangan umum yang mengatakan: "Lebih mudah membangun dari pada memelihara. Lebih mudah memulai dari pada meneruskan." Mengapa demikian? Nampaknya, memelihara sesuatu yang sudah ada dan meneruskan suatu pekerjaan yang baik adalah suatu hal yang sulit dilakukan. Bagaimana dengan kehidupan spiritual kita, apakah kesulitan semacam ini juga muncul?
Paulus menasihati jemaat Kolose untuk mematikan segala yang duniawi (Kolose 3:5-8). Itu berarti, walaupun secara rohani jemaat Kolose sudah memiliki hidup yang baru, secara praktis sehari-hari mereka masih harus berjuang dalam memelihara kehidupan baru itu. Mereka harus secara sadar berusaha menepis kecenderungan mereka untuk kembali dalam kehidupan mereka yang lama. Hidup baru adalah pemberian Tuhan, tetapi pembaruan hidup itu haruslah kita pelihara dalam upaya yang berkelanjutan. Rasul Paulus melihat pentingnya pembaruan dengan ungkapan: menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru yang terus-menerus dibarui (Kolose 3:10).
Proses pembaruan dari kebiasaan-kebiasaan manusia lama menuju manusia baru itu perlu dilengkapi dengan adanya hal-hal yang harus dibuang dan hal-hal apa yang perlu dilaksanakan secara terus-menerus. Apa yang dilakukan oleh manusia lama digambarkan melalui sebuah daftar yang gamblang (Kolose 3:5, 8, 9). Kemudian, bagi manusia baru pun sebuah daftar tentang apa saja yang harus dilakukan sudah diberikan oleh Paulus (Kolose 3:12-15). Pedoman semacam ini amat berguna sebagai panduan hidup kita. Akan tetapi, kita tidak boleh memperlakukan daftar itu sebagai daftar hitam atau daftar putih yang kita pakai sebagai buku pintar untuk menyalahkan atau pun memuji orang tertentu. Seharusnya kita menyikapi daftar itu sebagai sesuatu yang utuh. Yang baik adalah ekspresi dari kasih Kristus. Sedangkan yang buruk adalah ekspresi dari kuasa kejahatan. Kita tidak perlu menghafal daftar itu, tetapi kita mewaspadai, jangan sampai hati kita dikuasi oleh kuasa kejahatan. Marilah kita memohon agar Tuhan menguasai hati kita dengan Roh dan firman-Nya.
Kristen dan keluarganya. Seorang hamba Tuhan setelah mengadakan refleksi terhadap dirinya sendiri berkata: “kegagalan hamba Tuhan paling fatal adalah kegagalannya menjadi Kristen di tengah keluarganya”. Sekali pun hamba Tuhan disanjung jemaatnya namun penilaian keluarga jauh lebih penting dan berharga. Oleh karena itu aplikasi hidup Kristen yang dipaparkan Paulus kemarin diteruskan kepada relasi Kristen dengan keluarganya.
Apa yang membedakan keluarga Kristen dengan keluarga lainnya? Otoritas tertinggi bukanlah manusia tetapi Kristus. Relasi antar anggota keluarga, baik antar suami – istri maupun antar orang-tua – anak, semuanya berlandaskan kasih Kristus. Beberapa pengajaran mendasar akan kita pelajari: Pertama, istri sebagai pendamping suami berada di bawah pimpinan suaminya, tetapi tidak melampaui yang seharusnya menurut Tuhan (ayat 18). Apa pun jabatan istri di luar rumah, setinggi apa pun status sosial istri, dan betapa pun dominannya karakter istri, tidak membuat perintah ini dikompromikan. Kedua, suami pun tidak berarti dapat berlaku sewenang-wenang, karena dasar kepemimpinannya sebagai kepala keluarga adalah kasih (ayat 19). Kasih memampukan suami tidak bersikap demi dirinya sendiri, tetapi demi kebaikan orang yang dikasihinya. Betapa indahnya persekutuan suami istri yang sedemikian di dalam Tuhan. Keunikan masing-masing dipersatukan dan dibentuk bersama di dalam Tuhan. Ketiga, anak-anak mempercayakan hidupnya kepada orang-tuanya yang lebih dahulu belajar tentang hidup (ayat 20). Dalam proses pertumbuhannya anak-anak belajar menemukan diri dan menghadapi hal-hal baru dalam bimbingan orang- tuanya. Keempat, ayah tidak boleh menyakiti anaknya tetapi membimbing di dalam kelemahlembutan, sehingga anaknya menyaksikan kebenaran di dalam diri ayahnya (ayat 21). Teguran dan nasihat dimengerti anak-anak bukan sebagai suatu hal yang membatasi keinginan dan perkembangannya, tetapi mempersiapkan dan menempa anak-anak menjadi mandiri dalam lingkungan dan zamannya.
Renungkan: Keluarga bahagia adalah keluarga yang setiap anggota keluarganya, baik suami, istri, orang-tua, dan anak-anak hidup dalam ketaatan kepada firman Tuhan dan mempersilakan Dia hadir dalam keluarganya.
22, 23. Para hamba harus "terus bekerja bukan hanya ketika diawasi atasannya dan memiliki motivasi ingin dipuji, tetapi hendaklah mereka bekerja dengan tulus hati, yaitu dengan sikap pengabdian yang tulus. Seluruh pekerjaan, bagi orang Kristen, adalah terutama untuk Tuhan, yang menghakimi dengan segenap kejujuran dan keadilan.
24. "Hamba" setia Kristus menerima bagian seorang anak - bagian yang ditentukan. Upah (pembayaran yang tepat, Lightfoot) bukan hadiah berkelimpahan sebagaimana dikemukakan banyak kritikus, melainkan hadiah yang akan diberikan oleh seorang ayah ketika anaknya berkata, "Yah, tadi aku membersihkan kamarku, lho." Upah yang sesungguhnya adalah perkenan Bapa; hadiahnya hanyalah pelengkap saja - tetapi pelengkap yang sungguh tepat. Nyanyian yang berbunyi "semoga kami dapat berpesta di firdaus bersamamu" hanya tidak rohani bagi seorang Platonis. Namun motivasi memang perlu; selalu berhitung secara dagang membuat orang tidak dapat menikmati upah kristiani yang sesungguhnya (bdg. Kis. 8:18 dst.).
25. Menanggung. Maksudnya, menerima kembali, apakah di dalam hidup ini maupun di kehidupan yang akan datang. Di sini Allah dilihat sebagai penjamin keadilan (bdg. Rm. 12:19; II Kor. 5:10). Untuk hukuman yang setimpal sebagai tolok ukur yang adil bagi penjahat, lihat C. S. Lewis, "The Humanitarian Theory of Punishment," Res Yudicate, VI, 1953-54, hlm. 224-230. Lihat juga tafsiran atas 3:6). Tidak memandang orang mengacu kepada hamba maupun tuan, dan merupakan peralihan ke bagian berikutnya (bdg. Ef. 6:9; Im. 19:15).