2 Pet 3 (MAD2T*Pagi*14 Mei*Tahun 1)
2 Petrus 3
Penjelasan Singkat
Kepastian akan penghakiman
Isi Pasal
Kembalinya Tuhan dan Hari Tuhan. Kembalinya Kristus secara umum akan disangkal.
Judul Perikop
Hari Tuhan (3:1-16)
Penutup (3:17-18)
Tafsiran: Banyak alasan mengapa manusia senang dengan kebiasaan instant. Misalnya, untuk mengatasi rasa lapar tidak perlu harus memasak terlebih dahulu, sebab restoran siap saji telah menyediakan berbagai makanan sesuai selera. Lalu untuk memenuhi keinginan seksual, tidak perlu harus menikah dulu, sebab kegiatan-kegiatan seksual di luar nikah sudah menjadi hal yang biasa, dan masih banyak contoh-contoh lain. Cepat, praktis, tidak buang-buang waktu, mendatangkan kepuasan dan kenikmatan. Itulah tanggapan masyarakat tentang gaya hidup instant.
Bila dalam pemenuhan kebutuhan jasmani saja orang tidak sabar, apalagi menanti kepastian untuk kehidupan kekal? Bagi sebagian orang, menanti hanya akan membuat hilangnya kesabaran. Ini nampak dari respons yang diberikan terhadap ajaran tentang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua di zaman Petrus. Ada orang-orang yang meresponinya dengan sikap apatis, ragu-ragu, dan tidak percaya. Ada yang beranggapan bahwa kedatangan Tuhan itu hanya akan membatasi kemerdekaan dan kebebasan dirinya dengan aturan-aturan. Bahkan ada yang mengejek dengan mengisi penantian itu untuk pemuasan hawa nafsu. Namun, seperti yang Petrus katakan, bahwa keadaan seperti itulah yang terjadi.
Keraguan terhadap janji-janji Allah muncul dari sikap tidak sabar yang berujung pada ketidakpercayaan manusia bahwa Allah akan menggenapi janji-Nya. Sama halnya ketika nabi-nabi Perjanjian Lama menubuatkan kedatangan Mesias, umat yang ada dalam masa itu tidak sempat melihat penggenapan janji Allah, tetapi umat yang hidup dalam Perjanjian Baru, mengalami penggenapan janji-Nya.
Sekarang ini Kristen hidup di dua zaman. Pertama, zaman penggenapan janji Allah akan kedatangan Kristus sebagai Mesias yang menyelamatkan umat manusia dari dosa. Kedua, zaman penantian akan penggenapan janji Allah tentang kedatangan Yesus yang kedua untuk menghakimi dan meminta pertanggung jawaban kita. Hal yang paling mungkin dilakukan Kristen pada masa penantian ini adalah sabar, tetap berada di jalan aturan Allah, dan berpegang teguh pada janji-janji-Nya.
Renungkan: Manusia tidak berhak menuntut Allah memenuhi janji-Nya menurut kehendak manusia dan tidak berhak menuntut Allah bergaya hidup instant.
Kebodohan orang-orang yang tidak percaya adalah menganggap bahwa kedatangan Tuhan Yesus yang kedua tertunda, dan mengatakan bahwa penundaan itu membuktikan ketidakbenaran firman Tuhan. Haruskah orang beriman memiliki pola pikir yang sama? Orang beriman harus tahu bahwa Allah tidak menunda kedatangan-Nya kedua. Perbedaan pandangan ini didasarkan pada cara Allah menghitung waktu berbeda dengan cara manusia. Bagi Tuhan satu hari sama dengan 1000 tahun dan 1000 tahun seperti satu hari. Berarti, manusia tidak dapat menduga dan mengatur kapan Allah harus bertindak apalagi menentukan penggenapan hari Tuhan. Sebenarnya bila perbedaan ini kita letakkan dalam kacamata Illahi maka kita tidak hanya dapat menerimanya, tetapi juga bergembira. Sebab waktu Allah, berhubungan dengan: "supaya semua orang berbalik dan bertobat". Itu berarti waktu Allah sama sekali tidak berhubungan dengan kelambanan atau kealpaan Allah atas janji-Nya, tetapi berhubungan erat dengan kasih-Nya kepada kita dan sabar menanti kita untuk berbalik dan bertobat. Bila Allah sang empunya waktu dan pemilik kita sabar menanti waktu yang tepat untuk mempersiapkan kedatangan-Nya dan menggenapi janji penghakiman-Nya, apakah kita milik kepunyaan-Nya tidak dapat bersabar?
Tentang hari Tuhan yang dinantikan penggenapannya, Petrus menjelaskan bahwa pada hari itu seluruh alam semesta akan mengalami kebinasaan. Allah akan menggantinya dengan langit dan bumi baru. Semua orang dan bangsa-bangsa dihadapkan pada penghakiman Allah. Namun, ia tidak menguraikan panjang lebar tentang sifat hari Tuhan itu, karena penjelasannya lebih mengarah pada fakta dan kepastian penggenapan hari Tuhan itu. Berbahagialah orang beriman yang tetap setia menanti dan mempertahankan sikap hidup benar di hadapan Allah. Berbahagialah orang yang melihat penundaan penggenapan hari Tuhan ini sebagai perpanjangan waktu yang dikaitkan dengan sifat Allah yang penuh kasih.
Renungkan: Bila kita melihat bahwa penundaan dan perpanjangan waktu penggenapan hari Tuhan sebagai suatu kesempatan dari Allah untuk berbalik, bertobat, dan beroleh selamat, marilah kita responi kesempatan itu.
Penutup surat 2 Petrus ini mengulang nasihat Petrus pada khotbah mininya di pembukaan. Umat Tuhan harus bertumbuh dalam iman mereka supaya mereka tidak terseret dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum.
Seberapa sih bahayanya penyesatan yang sedang terjadi di jemaat yang dilayani Petrus ini? Bukankah Petrus sudah dengan gamblang membongkar kejahatan mereka? Bukankah Petrus sudah menunjukkan motivasi busuk mereka? Apalagi bahayanya?
Bahayanya ada pada kedagingan mereka sendiri. Bagaimana pun jemaat adalah manusia biasa yang masih memiliki tubuh lama yang bisa berdosa. Godaan dari pengajar sesat pada hakikatnya mengumbar kedagingan walau berkedok pengajaran yang canggih. Kalau jemaat tidak bertumbuh dalam iman mereka, betapa mudah untuk terjebak dengan keinginan memuaskan hawa nafsu kedagingan. Ibarat orang yang sudah pernah mencicipi sesuatu yang enak, walaupun tahu bahwa sesuatu itu racun yang perlahan namun pasti merusak, rasa enak itulah yang sulit dilawan. Mungkin dengan mengatakan, sesekali saja tidak akan apa-apa. Akan tetapi, sekali mencoba, pasti akan ada dua kali, tiga kali dan seterusnya. Jadi sangat berbahaya!
Jadi, bertumbuh dalam iman itu mutlak untuk menghindarkan diri dari kejatuhan ke dalam dosa hawa nafsu. Bagaimana caranya bertumbuh? Di khotbah mininya, Petrus mendaftarkan berbagai kebajikan yang perlu ditumbuhkembangkan dalam kehidupan orang percaya. Kebajikan atau karakter Kristus ini pada hakikatnya anugerah Tuhan kepada orang percaya. Jadi, untuk dapat bertumbuh dalam kerohanian, kita tidak dapat tidak harus bersandar penuh pada Tuhan. Jangan sekali-kali berupaya dengan kekuatan diri sendiri. Jalankan disiplin rohani membaca-gali Alkitab dengan setia. Seimbangkan kehidupan membaca firman Tuhan dengan berdoa mohon Roh Kudus memberi kekuatan dan kuasa untuk melakukan kehendak Allah dalam hidup ini. Perangi keinginan daging dengan mempraktikkan buah Roh setiap hari!