Ibrani 9 (MAD2T*Pagi*04 Mei*Tahun 1)
Ibrani 9
Penjelasan Singkat
Persembahan korban Hukum Taurat
Isi Pasal
Peraturan dan tempat kudus dari perjanjian yang lama sebagai gambaran dari yang baru. Realitas perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah Kristus.
Judul Perikop
Tempat kudus di bumi dan di sorga (9:1-10)
Kristus adalah Pengantara dari perjanjian yang baru (9:11-28)
Tafsiran: Penulis Ibrani melanjutkan uraiannya mengenai keterbatasan Perjanjian Sinai dengan menunjukkan sifat kemah suci, pusat ibadah umat Perjanjian Lama. Pertama, kemah suci dibangun oleh tangan manusia, karena itu sifatnya tidak permanen (ayat 1). Kedua, ruang kudus di bagian depan kemah suci menunjukkan "jalan masuk" ke ruang mahakudus masih terbatas (ayat 2-5, 8). Hanya imam besar yang dapat masuk ke ruang mahakudus, satu tahun sekali setelah ia mempersembahkan kurban pendamaian di ruang kudus. Ketiga, keseluruhan ritual kemah suci bersifat sementara karena ini merupakan kiasan bagi masa perjanjian yang baru (ayat 9-10).
Dengan demikian, ajaran dan perintah Perjanjian Sinai untuk ditaati dan dilakukan umat PL merupakan ritual sementara, yang secara simbolis memperagakan karya pendamaian Allah bagi umat-Nya. Karya pendamaian Allah itu terwujud penuh dan nyata saat Kristus menjadi Imam Besar, yang mempersembahkan Diri-Nya sendiri sebagai kurban pendamaian di kayu salib. Melalui karya-Nya, tirai pemisah ruang kudus dengan ruang mahakudus tersingkap (Mat. 27:51). Melalui diri-Nya manusia dapat langsung beribadah kepada Allah.
Karya Kristus sudah sempurna di kayu salib. Oleh sebab itu, kita tidak lagi mempersembahkan kurban pendamaian sebagai syarat untuk menghampiri Allah. Kristus adalah pengantara kita satu-satunya. Allah memperdamaikan diri-Nya dengan kita melalui Kristus. Sekarang, Allah berbicara kepada kita melalui Kristus yang dinyatakan dalam firman-Nya, yakni Alkitab. Itu sebabnya, gereja tidak berfungsi sebagai kemah suci. Liturgi gereja berpusatkan pada pemberitaan firman Tuhan, bukan pada persembahan kurban. Pusat ibadah bukan tertuju pada altar gereja melainkan pada firman Allah.
Renungkan: Karya Kristus merupakan dasar pembebasan kita dari belenggu dosa. Firman-Nya membimbing kita hidup dalam kebenaran!
Perjanjian Sinai menggunakan domba dan lembu sebagai persembahan kurban yang mendamaikan Allah dengan umat PL. Padahal kematian domba dan lembu tidak pernah bisa menggantikan kematian manusia. Itu sebabnya, ritual kurban PL hanya merupakan gambaran akan kurban yang lebih besar dan lebih sempurna, yang akan datang.
Kristus bukan hanya Imam Besar yang mendamaikan umat manusia kepada Allah, Dia juga kurban pendamaian yang sempurna. Penulis Ibrani memakai dua macam perbandingan untuk menjelaskan hal ini. Pertama, kalau darah binatang yang dipercikkan dalam ritual pendamaian bisa menguduskan kenajisan lahiriah manusia (ayat 13), maka darah Kristus mampu membersihkan kenajisan batin manusia agar manusia kembali berkenan kepada Allah (ayat 14).
Kedua, hanya melalui kematian si pembuat wasiat maka harta warisan bisa diturunkan kepada ahli warisnya (ayat 17). Darah melambangkan kematian. Darah domba dan lembu yang dikurbankan melambangkan pengampunan dosa bagi semua orang yang menerimanya dengan iman (ayat 18-22). Darah Kristus yang dicurahkan merupakan harta warisan, yaitu keselamatan, yang diberikan-Nya kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Kematian Kristus mengampuni dosa dan menyucikan hidup manusia.
Kristus mati supaya dosa-dosa kita dapat diampuni. Dia memberi hidup-Nya kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kini, kita hidup karena Diri-Nya. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menyia-nyiakan pengurbanan-Nya yang sangat besar itu. Apa yang harus kita lakukan? Hiduplah berkenan kepada-Nya dengan tidak melakukan segala hal yang najis dan tidak mulia. Layanilah Dia dengan kekudusan tubuh kita, dan saksikanlah kasih pengurbanan-Nya kepada orang lain agar mereka mengalami pengampunan dan penyucian-Nya.
Mengapa kurban-kurban dan tata ibadah dalam Perjanjian Lama meski dilakukan demikian rumit dan akurat, tidak mampu untuk menyelesaikan masalah dosa secara tuntas? Sebab upacara tersebut hanya lambang dari persembahan terbaik yang Tuhan Yesus lakukan (ayat 21).
Dosa adalah masalah yang sangat serius sehingga hanya Allah yang dapat menyelesaikannya secara tuntas. Dalam ritual Perjanjian Lama, pengudusan dilakukan dengan memakai darah binatang sebagai kurban yang dipercikkan pada kemah suci, perabotan, dan orang-orang di dalam kemah itu. Sesungguhnya dosa harus diselesaikan dengan persembahan darah kurban yang lebih mulia, yaitu darah Kristus sendiri. Oleh karena itu, Allah mengutus Kristus untuk menyelesaikan dosa, yakni dengan mewakili manusia berdosa di hadapan-Nya (ayat 24). Kelebihan Kristus dibandingkan imam besar keturunan Harun adalah Ia mempersembahkan Diri-Nya sendiri satu kali untuk selamanya sebagai kurban penghapusan dosa yang menghasilkan keselamatan (ayat 25-28a). Dengan pengurbanan-Nya itu, Ia bukan masuk ruang mahakudus, di Bait Allah, tetapi Ia masuk ke surga dan menyebabkan orang yang percaya kepada-Nya layak untuk masuk surga. Sekarang, anak-anak Tuhan sedang mencicipi sebagian dari berkat keselamatan itu. Kelak pada saat Kristus datang kedua kali, mereka akan menikmati keselamatan secara penuh (ayat 28b).
Kesempatan untuk layak masuk surga ini hanya ada dalam hidup yang sekali ini. Apakah Anda sudah termasuk golongan orang yang dikuduskan oleh darah Kristus karena menyambut Yesus Kristus dalam hidup Anda? Bagaimanakah respons Anda sebagai orang yang dilayakkan dengan hadirat-Nya tiap-tiap hari? Bagaimanakah seharusnya kita bersikap terhadap sesama kita yang belum menerima berita sukacita ini?