Yak 1 (MAD2T*Pag*07 Mei*Tahun 1)
Yakobus 1
Penjelasan Singkat
Hikmat dicari dari Allah
Isi Pasal
Ujian iman. Persahabatan dengan yang jahat bukan dari Allah. Ketaatan sebagai ujian dari iman yang sejati.
Judul Perikop
Salam (1:1-1)
Iman dan hikmat (1:2-8)
Keadaan rendah dan keadaan kaya (1:9-11)
Pengujian dan pencobaan (1:12-18)
Pendengar atau pelaku firman (1:19-27)
Tafsiran: Mengapa orang benar menderita? Yakobus tidak memberikan jawaban untuk pertanyaan itu. Ia hanya menegaskan fakta bahwa gereja memang sedang menderita bagai dua belas suku yang dalam perantauan. Orang percaya menderita karena masih berada di dunia dan belum tiba di kediaman kekal. Maka Yakobus mendorong orang beriman agar memanfaatkan pencobaan untuk bertumbuh ke arah Tuhan, berdoa untuk mendapat hikmat, dan agar dalam pergumulan hidup yang berat justru iman menjadi tahan uji.
Yakobus membedakan pencobaan dari luar (Yakobus 1:2) dan karena kelemahan dari dalam diri sendiri (Yakobus 1:12). Dalam pengalaman nyata, kedua hal itu sering tidak dapat dipisah. Pembaca surat Yakobus saat itu, ada yang miskin atau ada yang menerima berbagai tekanan karena iman. Maka pencobaan masa itu berupa masalah material, sosial moral, juga spiritual.
Yakobus tidak memaksudkan 'jatuh' ke dalam pencobaan dalam arti terseret dan berbuat dosa. Namun hal yang sifat dan maksudnya jahat di tangan Iblis, diubah Allah hingga bersifat dan dimaksud untuk menguji iman umat-Nya. Melalui ujian, iman berkesempatan untuk berakar dan memiliki kualitas ketekunan. Apabila proses ini dijalani dengan benar, orang akan mengalami pengampunan dan imannya dimatangkan (Yakobus 1:3-4). Maksudnya hubungan dengan Tuhan makin akrab, sehingga pribadi pun makin serasi dengan sifat Tuhan. Maka orang Kristen seharusnya bersukacita waktu mengalami pencobaan, sebab intinya adalah ujian bagi iman.
Dalam situasi sedang dicobai, orang beriman sangat perlu hikmat. Dalam perspektif Alkitab, hikmat adalah kesalehan yang terjadi karena seseorang dekat dengan Allah. Menghadapi situasi yang menghasilkan kematangan iman, orang beriman perlu kepekaan membedakan kehendak Tuhan dan kekuatan untuk melaksanakannya dengan taat. Berdoa memohon hikmat juga merupakan latihan iman, sebab doa yang benar adalah doa yang sepenuhnya mempercayakan diri kepada Allah yang berkuasa dan berhikmat.
Apakah kekayaan dapat memecahkan masalah hidup? Kelompok pertama yang Yakobus sebut "saudara" adalah pembaca surat Yakobus yang, karena perubahan besar yang terjadi dalam hidup mereka, menjadi miskin. Ada yang semula kaya, tetapi harus merelakan harta mereka untuk menolong sesama yang menderita. Ada yang mengalami penderitaan karena perantauan ke wilayah lain. Ada juga yang, karena iman, harus kehilangan posisi dan miliknya. Semua itu menggambarkan perubahan kedudukan mereka dari tinggi ke rendah. Di mata orang di sekitarnya, mereka tidak lagi dianggap. Yakobus mengingatkan bahwa meski sekarang mereka rendah, tetapi mereka patut bermegah karena kedudukan yang tinggi di dalam Tuhan (Yakobus 1:9). Tinggi sebab mereka adalah ahli waris Kerajaan Allah.
Siapakah orang kaya di sini? Jika mereka orang kaya di luar Tuhan, ini mengingatkan mereka agar mencari nilai hidup dengan merendahkan diri kepada Tuhan. Bila yang dimaksud adalah orang percaya yang kaya, mereka patut bersyukur bahwa dengan menjadi bagian dari kelompok umat Tuhan yang, meski dipandang miskin dan hina oleh manusia, tetapi telah mendapat nilai hidup di dalam Tuhan (Yakobus 1:10-11).
Manusia memang cenderung tertarik pada harta, akibatnya bergumul setiap hari untuk bekerja dan mencari harta benda. Padahal hidup hanya untuk harta tidak boleh menjadi pilihan hidup. Fokus hidup harus tetap hanya pada status sebagai umat tebusan Allah. Kebanggaan ini yang seharusnya menjadi ciri utama umat Allah. Cobaan karena adanya perubahan status dari kaya menjadi miskin seharusnya disikapi dengan hikmat Ilahi dan penuh syukur.
Perubahan terus berlangsung di dunia ini dan menjadi bagian hidup kita setiap hari. Namun kiranya setiap perubahan tidak membuat hati kita beralih dari Tuhan. Kiranya hidup kekal dalam kasih Allah yang tak berubah itu memampukan kita menjalani hidup yang kokoh dan mendorong lahirnya kemegahan di dalam Kristus.
Semua orang pernah mengalami pencobaan di dalam hidupnya. Pemicunya adalah keinginan diri. Setelah terseret dan terpikat, lalu ditindaklanjuti hingga berujung pada dosa. Dosa selalu melahirkan maut (Yakobus 1:14-15). Oleh karena itu, Yakobus menyatakan, "Berbahagialah orang yang tahan uji" (Yakobus 1:12). Artinya pencobaan itu tidak harus berujung pada dosa. Ada pencobaan yang berujung pada mahkota kehidupan. Ini terjadi jika orang bertahan dan menolak daya tarik kejahatan. Mahkota kehidupan diberikan Allah sebagai bukti bahwa orang tersebut setia mengasihi Allah. Yakobus menolak pendapat bahwa pencobaan di dalam diri manusia berasal dari Allah. Allah tidak pernah mencobai seorang pun (Yakobus 1:13)!
Tahan uji dalam pencobaan menjadi kunci sukses dalam mengarungi kehidupan iman Kristen. Alkitab mengisahkan berbagai teladan dari para tokoh iman. Yesus sendiri memperlihatkan ketahanan-Nya dalam ujian setelah Ia menyelesaikan masa empat puluh hari puasa. Pimpinan Roh Kudus dalam diri Tuhan juga memberi kesaksian bahwa Roh Kudus berperang aktif dalam hidup-Nya. Roh Kudus memampukan orang Kristen untuk mengenali kuat kuasa-Nya melalui ketahanan dalam pencobaan. Tahan uji membuktikan bahwa orang Kristen menggunakan sepenuhnya perlengkapan senjata rohani (Ef. 6:10-20). Setiap kali menang, maka layaklah orang Kristen disebut berbahagia. Nilai moral yang tinggi dalam ketaatan membuat hidup menjadi berhasil.
Orang Kristen perlu serius memperhatikan kondisi tahan uji, karena Allah memang menginginkan kita menjadi tahan uji. Dia bukan hanya mengizinkan adanya pencobaan tetapi juga membimbing kita untuk lulus dari pencobaan, bagaimana pun bentuk dan sifatnya. Asal kita punya semangat untuk tahan uji, maka meski di sekitar kita banyak yang kalah dalam pencobaan, kita tidak akan menjadi sama seperti mereka. Lihat terus pada mahkota kehidupan yang Allah janjikan! Itu akan membuat kita terus memiliki semangat juang untuk mengalahkan pencobaan.
Jika Allah memakai pencobaan untuk menguji iman, tidakkah itu berarti Allah sendiri sumber pencobaan? Jika di balik pencobaan ada maksud Allah yang baik bagi orang beriman, tidakkah Allah menggunakan yang jahat untuk menghasilkan yang baik?
Yakobus menolak pemikiran berbahaya itu. Kesimpulan seperti itu adalah jalan berpikir yang sesat sebab tidak sama dengan pernyataan Alkitab tentang sifat Allah yang kudus, benar dan baik adanya. Seperti sudah disinggung dalam bagian sebelum ini, pencobaan bukan datang dari Allah, tetapi dari si jahat. Juga karena adanya kecenderungan dalam diri manusia sendiri ketika merespons pencobaan. Maka jangan pernah meragukan kebaikan Allah meski sedang mengalami pencobaan yang berat sekali pun. Karena yang datang dari atas adalah pemberian yang baik dan anugerah yang sempurna belaka (Yakobus 1:17). Orang Kristen harus berpegang pada keyakinan tersebut sebab Allah terang adanya. Tidak akan pernah terjadi, dari terang lahir atau keluar kegelapan (Yakobus 1:17a). Allah bukan hanya terang adanya, Ia pun tidak berubah, bukan seperti ciptaan yang dapat berubah (Yakobus 1:17b).
Sifat Allah yang terang dan kekal itu menyebabkan kehendak-Nya selalu bertujuan baik. Hal itu nyata dalam firman-Nya. Bahkan firman kebenaran dari Allah juga merupakan prinsip, melalui mana Allah berkarya dan bertindak. Bahwa orang Kristen mengalami kelahiran baru dan menjadi anak sulung, sebagai hasil karya pembaruan Allah, menjadi bukti bahwa Allah itu baik, benar dan terang adanya! Karena hidup baru di dalam Kristuslah yang merupakan anugerah terbesar Allah bagi orang percaya.
Bagaimana respons kita saat jatuh ke dalam pencobaan? Milikilah harapan pada Allah tentang hal-hal baik yang akan terjadi dalam hidup kita, karena Dia senantiasa mengerjakan hal terbaik dalam hidup umat-Nya. Berharap pada-Nya akan mengarahkan hati kita untuk tidak terfokus pada masalah, tetapi pada pekerjaan-Nya yang penuh kuasa dan ajaib!
Mendengar tanpa melakukan tidak ada artinya. "Jika padaku ditanyakan apa akan kusampaikan dalam dunia yang penuh dengan cobaan. Aku bersaksi dengan kata, tapi juga dengan karya menyampaikan kasih Allah yang sejati”. Syair lagu yang dimuat dalam Kidung Jemaat 432 ini mengingatkan tentang hal yang sesungguhnya harus Kristen lakukan, yaitu menjadi pendengar sekaligus pelaku firman Tuhan. Yakobus memberi penjelasan penting lainnya tentang arti berbahagia yang sesungguhnya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua Kristen "berbahagia" mendengar penjelasan ini.
Ketidakbahagiaan ini lebih disebabkan oleh sikap penolakan diri untuk menjadi pelaku firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Penolakan ini bukan disebabkan oleh ketidakmampuan melakukan tetapi karena ketidakmauan! Orang-orang yang seperti ini lebih senang menuruti kehendak hati dan kebenaran dalam persepsi diri sendiri daripada menuruti kehendak dan kebenaran Allah.
Menjadi pendengar atau pelaku bukanlah merupakan pilihan bagi Kristen dan hal ini tidak dapat dipisahkan dari sumbernya, yakni firman Tuhan. Jadi dapat dipastikan bahwa pernyataan dan peringatan Yakobus ini berhubungan erat dengan tema: “Kristen dan Firman-Nya”. Bagaimana Kristen tahu kebenaran dan prinsip-prinsip hidup Kristen yang sesuai dengan firman-Nya, selain dari membaca dan mendengar firman-Nya. Namun apa gunanya pengetahuan tanpa aplikasi? Tidak ada! Jika demikian pengetahuan tentang kebenaran ini seharusnya nyata dalam tindakan-tindakan dan perilaku yang bercermin dan mencerminkan firman-Nya. Kedua proses ini tidak berlaku sebaliknya atau dapat dipisahkan. Mendengar tanpa berbuat seperti orang yang bercermin tapi kemudian lupa apa yang dilihatnya. Sebaliknya tanpa membaca dan mendengar firman-Nya, orang tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Menjadi pendengar dan pelaku firman akan membongkar sifat lama dan dosa yang masih menempel, dan menggantinya dengan sifat baru dan buah Roh.
Renungkan: Bagaimana kehidupan kekristenan Anda, berapa kali Anda bercermin kepada kebenaran firman-Nya namun kemudian melupakannya. Firman yang Anda baca, renungkan, dan gali setiap hari, sampai dimanakah fungsi kebenaran- Nya? Respons ketaatan yang akan membuka kesempatan agar kuasa firman-Nya menyempurnakan kita.