Kej 12 (MAD2T*22 Jun*Tahun 1)
Kejadian 12
Penjelasan Singkat
Pemanggilan Abram
Isi Pasal
Panggilan Abram. Penyembahannya dan ujiannya. Kengerian di Mesir.
Judul Perikop
Abram dipanggil Allah (12:1-9)
Abram di Mesir (12:10-20)
Tafsiran: Dalam kehidupan sebagai orang percaya, kita kerap diperhadapkan pada situasi-situasi yang dilematis, khususnya yang menyangkut masa depan kita. Dalam keadaan seperti itu, keraguan dan kebimbangan akan sering menggelayuti pikiran kita ketika kita harus menentukan pilihan apa yang harus kita ambil atau keputusan apa yang harus kita berikan. Kita bingung karena kita sama sekali tidak memiliki gambaran tentang apa yang akan terjadi ke depan. Di sinilah dibutuhkan kepekaan dan keberanian untuk meminta Tuhan menunjukkan kepada kita apa yang harus kita lakukan. Iman yang besar merupakan pijakan kita untuk meyakini bahwa apapun yang Tuhan putuskan untuk kita lakukan, itu merupakan hal yang terbaik.
Abram berasal dari keluarga mapan. Terah, sang ayah, begitu mengayomi keluarganya sehingga ketika memutuskan untuk pindah dari Ur-Kasdim, dia membawa serta seluruh anggota keluarganya (Kejadian 11:31). Tidak terkecuali Abram, anaknya, beserta Sarai, istri Abram. Ketika mereka sampai di Haran, ayah Abram yakni Terah, meninggal. Lalu Tuhan menyuruh Abram memisahkan diri dari keluarga besarnya. Panggilan Allah diikuti janji bahwa Allah akan membuat Abram menjadi bangsa yang besar dan membuat namanya masyhur serta menjadikannya berkat (Kejadian 12:2). Panggilan Allah ini mungkin saja membuat Abram bingung, karena sebelumnya sang ayahlah yang selalu memberikan keputusan. Kini Abram harus memutuskan sendiri, apakah dia akan pergi seperti yang diperintahkan Allah kepadanya atau tidak. Namun Abram memilih taat kepada perintah Tuhan. Ia berangkat meninggalkan keluarga besarnya dan membiarkan Tuhan memimpin perjalanannya (Kejadian 11:4-9).
Abram menjadi teladan kita dalam hal iman dan ketaatan. Iman kita harus dilatih untuk melakukan langkah-langkah yang seolah mustahil, tetapi yang sebenarnya telah Tuhan perintahkan kepada kita. Jangan biarkan rasio kita mengalahkan suara Tuhan. Ambilah langkah yang diperlukan jika kita telah mendengar perintah Tuhan. Bila itu merupakan pimpinan Tuhan yang sejati, semua akan berakhir dengan baik.
Tetap taat dan berharap pada janji Tuhan memang tidak mudah, apalagi di saat susah. Saat itu Kanaan dilanda kelaparan. Sementara mereka yang tinggal di Mesir memiliki suplai makanan berlebih ketimbang negeri lain. Ini disebabkan keberadaan Sungai Nil yang memberi andil besar bagi irigasi dan pertanian di Mesir. Maka untuk sementara waktu Abram pindah ke Mesir, menantikan kesempatan baru (ayat 10). Di Mesir ternyata Abram bukan hanya mendapati makanan, tetapi juga pembelajaran berharga tentang makna mengimani janji Tuhan.
Karena takut dibunuh, Abram meminta Sarai mengatakan separuh kebenaran dengan mengaku diri sebagai adiknya. Memang Sarai masih famili dengannya (Kej. 20:12), tetapi Sarai juga isterinya. Mungkin Abram berpikir bahwa dengan cara yang ditempuhnya ini, janji Tuhan (Kej. 12:2) akan tergenapi? Mungkin Abram berpikir bahwa untuk menjadi bangsa besar, masyhur, dan menjadi berkat untuk bangsa lainnya adalah melalui kompromi dengan Mesir dan memberikan Sarai sebagai isteri Firaun? Fokus iman Abram rupanya telah bergeser! Di tengah kendala yang dia hadapi, sumber selamat dan hidupnya bukan lagi pada Tuhan, tetapi pada Sarai! (ayat 13). Keputusan Abram untuk berbohong mengindikasikan iman yang bimbang terhadap pemeliharaan dan perlindungan Tuhan. Namun Tuhan setia. Ia mengajar Abram untuk tidak menggeser fokus keselamatan dan kehidupannya pada Sarai.
Hidup beriman harus senantiasa diisi oleh ketaatan dan pengharapan yang berpusat kepada Tuhan. Kita percaya bahwa ada bagian Tuhan dan ada bagian kita dalam perjalanan pemenuhan janji Tuhan dalam hidup ini. Tuhan memelihara, melindungi, dan menuntun kita menurut rencana-Nya yang baik bagi kehidupan anak-anak yang Dia kasihi. Bagian kita adalah percaya, taat, dan berharap akan pemeliharaan dan perlindungan-Nya, walau menghadapi kesulitan. Pada saat menemui tantangan dalam hidup beriman, jangan biarkan ketakutan dan dusta mengaburkan iman sejati kepada Tuhan.