Kej 14 (MAD2T*24 Jun*Tahun 1)

Kejadian 14

Penjelasan Singkat
Pertempuran raja-raja

Isi Pasal
Abram mengantar Lot. Penolakan Abram untuk berkompromi dengan Raja Sodom.

Judul Perikop
Abram mengalahkan raja-raja di Timur dan menolong Lot (14:1-16)
Pertemuan Abram dengan Melkisedek (14:17-24)

Tafsiran: Konflik dan kedamaian adalah dua hal yang bertolak belakang. Konflik membuat ikatan kasih menjadi hilang. Ibu Teresa pernah berkata "Jika tidak ada kedamaian di antara kita, itu dikarenakan kita melupakan bahwa kita memiliki satu sama lain."

Dalam perikop ini, kita melihat teladan Abram serta mempelajari kekuatan kasih yang tanpa batas dan tidak terhalangi oleh kegagalan sekalipun. Sebenarnya ada dua faktor yang dapat menghalangi Abram untuk menyatakan kasihnya. Pertama, kekuatan para musuh. Di pasal ini, penulis mengisahkan adanya dua kekuatan besar yang bermusuhan, yaitu Kedorlaomer dan sekutunya di satu pihak serta Sodom dan Gomora beserta sekutunya di pihak lain (Kejadian 14:1-7). Kerajaan Kedorlaomer dan sekutunya adalah kerajaan yang besar. Mereka adalah bangsa yang kuat dan terlatih berperang.

Kedua, adalah konflik yang pernah muncul antara Abram dengan Lot mengenai ladang penggembalaan. Konflik yang menyebabkan terpisahnya tempat tinggal mereka, ternyata tidak disimpan Abram di dalam hatinya. Maka ketika mendengar bahwa Lot menjadi tawanan perang, Abram menunjukkan kasih yang besar dengan mengerahkan pasukan untuk mengejar musuh (Kejadian 14:14), tanpa memikirkan risikonya. Mengapa Abram bersedia melakukan hal itu? Karena Lot adalah keponakan, yang sudah dianggap sebagai anaknya. Juga karena kepercayaan Abram pada kekuatan Tuhan (Kej. 14:20).

Menolong orang saja sudah merupakan sesuatu hal. Apalagi bila menolong itu membuat kita harus berhadapan dengan risiko. Maka menolong orang yang pernah bermasalah dengan kita sudah merupakan hal berbeda. Mungkin kita masih akan pikir-pikir untuk melakukannya. Namun ingatlah perkataan Tuhan Yesus, "Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka" (Luk. 6:35). Maka sebaiknyalah kita mengingat bahwa hubungan yang telah terjalin dengan orang yang pernah berkonflik dengan kita jauh lebih indah dibanding konflik yang terjadi. Ingatlah, kekuatan kasih justru semakin nyata ketika diperhadapkan dengan tantangan dan konflik.

Yakobus menasihati kita supaya jangan memperlakukan orang kaya dan orang miskin berbeda, tetapi ini bukan berarti kita harus memperlakukan semua orang sama. Nas kita hari ini mengajarkan bahwa kita seharusnya bersikap berbeda terhadap orang benar dan terhadap orang fasik.

Dengan sengaja penulis menyisipkan kisah tentang Abram dengan Melkisedek (Kejadian 14:18-20) di tengah kisah Abram dengan raja Sodom (Kejadian 14:17, 21-24). Ini menunjukkan bahwa penulis hendak mengontraskan sikap Abram terhadap Melkisedek dengan sikapnya terhadap raja Sodom. Melkisedek adalah raja Salem (raja Yerusalem), juga adalah imam Allah yang Maha tinggi (Kejadian 14:18). Ia datang membawa roti dan anggur serta memberkati Abram. Abram merespons dengan memberikan perpuluhan (Kejadian 14:19-20).

Raja Sodom yang musuh-musuhnya telah dikalahkan oleh Abram (Kej. 14:1-16) datang untuk mengambil orang-orangnya yang telah ditolong oleh Abram. Ia bermaksud memberikan semua jarahan yang telah dimenangkan dalam pertempuran tersebut kepada Abram. Bisa jadi sebagian jarahan tersebut merupakan harta Sodom yang telah diambil musuhnya. Namun Abram sama sekali tidak mau mengambil apa pun, supaya jangan ada perbincangan bahwa raja Sodom telah membuat Abram kaya (Kejadian 14:21-24).

Sikap Abram yang begitu menghormati Melkisedek, tetapi tidak mengindahkan raja Sodom menunjukkan bahwa ia lebih menghormati orang yang takut akan Allah. Walaupun bersikap baik terhadap raja Sodom akan memberikan keuntungan secara finansial, tetapi Abram menolak harta dari raja Sodom. Sebaliknya Abram malah memberikan perpuluhan kepada Melkisedek. Bagi Abram bukan harta yang penting, tetapi siapa orang tersebut di mata Allah.

Kita perlu belajar dari Abram yang melihat seseorang bukan berdasarkan keuntungan atau manfaat yang dapat kita terima dari kita, tetapi berdasarkan relasi orang tersebut dengan Tuhan. Seperti dituliskan dalam Mazmur 15:4 bahwa sikap yang benar adalah "memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan Tuhan."

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)