Kej 3 (MAD2T*13 Jun*Tahun 1)
Kejadian 3
Penjelasan Singkat
Kejatuhan
Isi Pasal
Pencobaan Hawa dan masuknya dosa ke dalam ras/bangsa. Perjanjian Allah dengan manusia yang jatuh dalam dosan dan pengusiran dari Taman Eden.
Judul Perikop
Manusia jatuh ke dalam dosa (3:1-24)
Tafsiran: Kisah yang luar biasa dalam perikop ini menjelaskan bagaimana dosa masuk ke dalam dunia dan merusak tatanan asri dunia ini. Pasangan suami istri (pasutri) pertama jatuh ke dalam dosa karena melanggar perintah Allah yang dengan jelas dan tegas disampaikan (Kej. 2:16-17).
Memang ular menjadi gara-gara pasutri pertama jatuh ke dalam dosa, namun tanggung jawab kesalahan itu bukan terutama pada ular melainkan pada diri mereka. Perempuan itu memberi diri meladeni tipu daya ular. Saat firman Tuhan diputarbalikkan, seharusnya ia menolaknya dengan tegas, bukan mendiskusikannya (ayat 2-3). Justru karena perempuan itu membuka ruang diskusi, ular berkesempatan menanamkan keraguan akan iktikad baik Tuhan. Bahwa Tuhan memaksudkan larangan memakan buah pengetahuan baik dan jahat itu adalah supaya manusia jangan menjadi sama seperti Diri-Nya (ayat 4-5). Justru itulah godaan yang manusia tidak dapat elakkan. Dalam hal ini, manusia pertama harus dipersalahkan karena ia hadir saat istrinya digoda. Namun bukannya mencegah, malah ia ikut hanyut dalam pelanggaran tersebut (ayat 6b). Pasutri pertama tergoda untuk menjadi sama dengan Pencipta-Nya. Kalau mereka menjadi sama dengan Tuhan, tahu mengenai apa yang baik dan yang jahat, maka mereka tidak lagi memerlukan Tuhan untuk mengatur kehidupan mereka dan memberi tahu berbagai perintah dan larangan kepada mereka.
Saat keduanya memakan buah larangan tersebut, mereka mendapati diri tidak lagi bisa terbuka di hadapan satu sama lain. Sadar akan ketelanjangan mereka, mereka memerlukan sesuatu untuk menutupi diri mereka dari penglihatan pasangannya. Itulah akibat dosa. Manusia jadi mengenali perkara yang baik dan yang jahat, tetapi tidak mampu memilih yang baik melainkan diperbudak oleh yang jahat. Tragis bukan? Hal itu akan nyata saat Allah meminta pertanggungjawaban pasutri pertama, mereka mengelak dan melemparkan kesalahan kepada pihak lain.
Ketika Tuhan berjalan-jalan di taman, langkah-langkah Allah terdengar bagaikan jejak-jejak penghakiman bagi manusia yang baru makan buah curian. Mereka bersembunyi. Allah bertanya kepada manusia, "Di manakah engkau?" Dua hal bisa kita amati di sini. Pertama, hubungan antara Allah dan manusia setelah kejatuhan dimulai dengan pertanyaan Allah kepada manusia. Pahamilah bahwa ketika kita jatuh ke dalam dosa, Allah menanyakan di mana diri kita. Kedua, arti dari "di mana" bukan hanya geografis, tetapi menanyakan posisi. Di mana posisi manusia setelah jatuh ke dalam dosa? Apakah ia memihak atau melawan Allah?
Adam menyalahkan Allah karena menciptakan wanita, dan Adam menyalahkan Hawa karena membuatnya jatuh ke dalam dosa. Yang satu (ayat 2:24) tidak lagi satu, terputus oleh pertikaian. Hawa menyalahkan ular. Ular tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Ternyata memang ia memperdayakan Hawa. Lalu, mereka dihukum. Kalau Adam berasal dari debu, maka ia akan kembali kepada debu. Pekerjaannya akan menjadi lebih sulit. Kalau Hawa berasal dari Adam, ia akan ditundukkan oleh Adam, dan kesulitan melahirkan. Ular akan merayap di tanah, sebuah kehinaan. Manusia terpisah dari Allah, dari sesamanya, dari dirinya, dan dari alam.
Dalam proses kejatuhan manusia, ular (binatang) seakan-akan menjadi berada di atas manusia. Tuhan menjanjikan bahwa posisi ini akan dibalik: manusia akan menang terhadap binatang (ayat 15). Ayat ini bisa kita tafsirkan menuju penggenapan kemenangan Kristus melawan dosa dan Iblis. Lalu manusia diusir keluar dari taman Eden. Kemudian, Allah membuatkan mereka "pakaian" dari kulit binatang, suatu tanda bahwa hanya darah yang bisa menyelamatkan mereka dari ketelanjangan.
Renungkan: Pakaian Anda yang indah menunjukkan keberdosaan Anda. Hanya darah Kristus yang bisa menutupi ketelanjangan Anda dan membasuh kecemaran Anda!