Kej 4 (MAD2T*14 Jun*Tahun 1)
Kejadian 4
Penjelasan Singkat
Kematian Habel
Isi Pasal
Anak-anak Adam yang pertama, Kain dan Habel. Peradaban yang pertama. Kelahiran Set.
Judul Perikop
Kain dan Habel (4:1-16)
Keturunan Kain, Set dan Enos (4:17-26)
Tafsiran: Dosa memang memiliki efek menular. Satu dosa dalam diri seseorang dapat melahirkan dosa lain dalam diri orang tersebut. Satu orang berdosa bisa ditiru orang lain dan mengakibatkan orang yang meniru itu jadi berdosa pula.
Apa yang terjadi pada Adam dan Hawa, berdampak lebih dahsyat pada Kain dan Habil. Bila Adam menyalahkan Hawa sebagai penyebab kejatuhan mereka ke dalam dosa, Kain tega membunuh Habil sebab kurban persembahannya tidak diterima oleh Tuhan (Kejadian 4:5, 8). Bila Adam dan Hawa harus terusir dari Taman Eden dan berjuang melawan semak duri dan ketandusan tanah untuk dapat beroleh bahan makanan; Kain harus terusir dari tempat tinggalnya serta menjadi pelarian dan pengembara di bumi (Kejadian 4:14).
Puji syukur kepada Tuhan, karena walau manusia semakin terpuruk oleh karena dosa, kasih setia Allah tetap menyertai dan melindungi mereka. Untuk Adam dan Hawa, Tuhan mengenakan pakaian kulit untuk menutupi ketelanjangan mereka. Hewan yang dikurbankan nyawanya demi Adam dan Hawa mungkin adalah cikal bakal ritual persembahan kurban yang diatur oleh Taurat. Demikian juga tindakan Allah mengusir pasangan suami istri pertama itu dari Taman Eden adalah tindakan anugerah agar manusia tidak mengalami hidup dalam penderitaan dan belenggu dosa secara kekal (Kejadian 3:22-24). Demikian juga dengan Kain. Tuhan memang telah menghukum dia karena darah Habel, adiknya, dengan menjadi pelarian dan pengembara di muka bumi. Namun Ia menjanjikan Kain perlindungan dari pembalasan dendam (Kejadian 3:15).
Dosa dapat berefek bola salju, semakin menggelinding semakin dahsyat kerusakan yang dihasilkan. Namun anugerah penebusan dan pemeliharaan Allah jauh lebih hebat. Kasih setia Allah tetap menopang ciptaan-Nya dari kehancuran total. Kasih dan pengurbanan-Nya telah, sedang, dan akan terus memperbarui setiap orang yang hancur, asal mau bertobat. Kita yang terpuruk oleh dosa, mari sujud di hadapan-Nya, meminta belas kasih dan pengampunan-Nya. Alami pembaruan dan pemulihan-Nya, lalu bangkitlah menjadi saksi-saksi-Nya.
Ada ungkapan mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Orang yang belajar dari pengalaman akan menuai hal yang baik. Namun orang yang tidak mau belajar, bisa mengulangi kesalahan yang sama. Namun banyak orang yang justru belajar secara salah dari pengalaman yang telah terjadi sebelumnya. Mereka tidak mampu memahami makna dan inti yang sebenarnya dari peristiwa yang telah terjadi. Inilah yang dialami oleh Lamekh dalam bacaan kita hari ini.
Lamekh adalah cucu Kain, saudara Habel yang mati dibunuh Kain. Lamekh banyak tahu tentang kisah yang terjadi antara Kain dan Habel. Dia bahkan tahu bahwa Allah telah berfirman untuk melindungi Kain dalam pelariannya (Kejadian 4:15). Kisah Kain ini rupa-rupanya tertanam dalam pikiran Lamekh sehingga ketika terjadi peristiwa Lamekh membunuh seorang laki-laki karena berseteru dengan dia, Lamekh mengklaim bahwa Allah juga akan melakukan hal yang sama terhadap dia, bahkan lebih dari pada itu (Kejadian 4:23-24). Ini merupakan keyakinan sepihak dari Lamekh, karena sesungguhnya Allah tidak pernah datang kepadanya dan menyampaikan hal demikian. Lamekh mendasarkan hal ini pada pemahamannya yang salah tentang pengalaman Kain, kakeknya. Lamekh mengerti secara keliru mengenai kebaikan dan kedaulatan Allah yang diberikan kepada Kain. Dia menganggap bahwa hal yang sama dapat juga berlaku atas dirinya. Lamekh menghalalkan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah demi mencapai tujuannya sendiri (Kejadian 4:24). Kebaikan Allah dimaknai Lamekh secara sempit, demi pembenaran diri.
Kisah Lamekh menarik untuk direnungkan. Apa yang dia alami adalah contoh keyakinan yang salah dan kekeliruan dalam memahami sebuah pengalaman. Tuhan memberikan kepada kita begitu banyak kisah dalam Alkitab. Mari kita belajar dengan baik dan memahami kebenaran yang sesungguhnya ada di balik setiap peristiwa yang terjadi. Jangan sampai keliru dalam memetik pelajaran sebab apabila kita salah, kita dapat menerapkan hal yang salah pula dalam kehidupan kita. Tak mungkin menjadi pelaku kebenaran dalam kekeliruan.