Kej 7 (MAD27*17 Jun*Tahun 1)
Kejadian 7
Penjelasan Singkat
Air Bah
Isi Pasal
Air bah datang. Nuh dan keluarganya dipelihara.
Judul Perikop
Air bah (7:1-24)
Tafsiran: Kisah air bah ini mengungkapkan tentang dua hal bertentangan dalam kehidupan manusia. Di satu sisi, Allah menciptakan manusia untuk menjadi partner atau rekan kerja yang setia pada perjanjian-Nya. Allah berharap bahwa dalam kerja sama itu tercipta keharmonisan hubungan antara Pencipta dan ciptaan. Namun, pada pihak manusia, manusia yang sebenarnya adalah ciptaan yang patut taat kepada Allah, menolak untuk bekerja sama. Manusia menolak Allah! Penolakan ini mendatangkan murka Allah.
Di tengah-tengah narasi kemurkaan Allah terhadap dunia ciptaan-Nya yang lepas kendali, terselip kisah tentang belas kasihan Allah kepada Nuh dan keluarganya. Allah mempersilakan mereka masuk ke dalam bahtera, karena saat itu tak ada satu lokasi pun yang selamat dari keganasan air bah. Nuh beserta keluarganya harus rela "terkurung" di dalam bahtera bertingkat tiga, pengap dan gelap, selama + 244 hari (ayat 12,24; 8:6,10,12). Dengan cara itu mereka selamat dari kebinasaan. Tindakan penyelamatan Allah terhadap sekelompok kecil manusia yang menyambut rencana-Nya ini juga merupakan prinsip keselamatan Allah seterusnya untuk manusia. Di dalam Kristus, kita selamat sebab Allah sendiri pelindung-Nya. Namun, suatu saat pintu keselamatan akan tertutup bagi mereka yang menolak penyelamatan yang Allah sediakan.
Renungkan: Hanya di dalam kematian Kristus kita terluput dari hukuman Allah yang menimpa dunia kini dan kelak.
Manusia adalah puncak karya penciptaan Allah. Allah menciptakan manusia dengan tangan-Nya dan menghembuskan nafas-Nya sendiri ke dalam mulutnya. Allah menciptakan manusia segambar dengan Dia.
Akan tetapi, manusia tidak hidup sesuai dengan rancangan Allah tersebut. Manusia memberontak terhadap Allah. Akibatnya Allah murka dan memutuskan untuk memusnahkan segala yang ada di muka bumi (Kejadian 7:4). Apa yang Allah lakukan? Ia menurunkan hujan empat puluh hari empat puluh malam. Bayangkan! Hujan selama itu tentu saja akan membuat air meluap dan menghadirkan bencana air bah. Bisa dibayangkan betapa mengerikan keadaan bumi seusai penghukuman itu. Tidak akan ada lagi kehidupan di dunia ini. Alam semesta akan berakhir sia-sia dan sejarah manusia akan selesai begitu saja. Namun bukan demikian rancangan Allah. Ia tidak ingin membatalkan karya yang telah Dia mulai begitu saja. Karena itu Allah memilih seseorang untuk melanjutkan kehidupan di dunia ini. Dialah Nuh.
Allah memilih Nuh karena dialah pribadi yang tepat untuk memberikan gambaran mengenai umat yang hidup sesuai rancangan Allah (Kejadian 7:1). Ketaatannya melakukan perintah Allah untuk membuat bahtera (Kej. 6:22), kepatuhannya memasukkan hewan-hewan ke dalam bahtera sesuai firman Allah (Kejadian 7:5, 8-9), serta kesediaannya menuruti perintah Allah untuk masuk ke dalam bahtera bersama keluarganya (Kejadian 7:1, 7) memperlihatkan imannya kepada Allah.
Ini merupakan pelajaran penting bagi kita. Ketaatan atau perbuatan baik manusia bukanlah alasan bagi Allah untuk menyelamatkan manusia, karena kesalehan manusia bagaikan kain kotor di hadapan Allah (bdk. Yes. 64:6). Manusia hanya dapat diselamatkan oleh kasih karunia Allah melalui iman. Maka ketaatan atau perbuatan baik seharusnyalah lahir sebagai respons dan ucapan syukur atas kasih karunia Allah yang begitu besar itu. Jadi jangan pernah melakukan tindakan ketaatan atau perbuatan baik dengan maksud beroleh kasih karunia Allah dalam keselamatan.