Kej 9 (MAD2T*19 Jun*Tahun 1)
Kejadian 9
Penjelasan Singkat
Kematian Nuh
Isi Pasal
Perjanjian Nuh. Aib Nuh dan dosa Ham.
Judul Perikop
Perjanjian Allah dengan Nuh (9:1-17)
Nuh dan anak-anaknya (9:18-29)
Tafsiran: Perjanjian yang ada di dalam Alkitab biasanya melibatkan tiga hal: pihak-pihak yang berjanji, isi perjanjian, dan syarat-syarat perjanjian. Isi perjanjian biasanya menyangkut tentang apa yang harus dilakukan oleh kedua belah pihak. Syarat perjanjian adalah sanksi yang diberlakukan kalau seandainya salah satu pihak tidak setia kepada isi perjanjian yang dibuat. Dalam perjanjian antara Allah dan manusia, tentu saja Allah tidak mungkin tidak setia karena Ia selalu menggenapi janji-Nya kepada umat-Nya.
Dalam perjanjian antara Allah dan Nuh, Allah memerintahkan Nuh dan keturunannya untuk beranakcucu, memenuhi bumi, serta menguasainya (Kejadian 9:1-2, 7). Perintah ini sama seperti perintah yang Tuhan telah berikan sebelumnya kepada Adam. Selain perintah tersebut, Tuhan menyatakan pemeliharaan-Nya dengan mengizinkan Nuh untuk tidak membatasi jenis makanannya hanya dengan tumbuh-tumbuhan saja seperti sebelumnya (Kejadian 9:3-4). Namun ada perintah lain lagi yang Tuhan berikan kepada Nuh dan keturunannya, yaitu perintah untuk menghargai nyawa sesama manusia alias dilarang untuk membunuh (Kejadian 9:6). Sanksinya adalah Tuhan sendiri yang akan menuntut balas (Kejadian 9:5)!
Setelah menyatakan apa yang akan dilakukan Nuh dan keturunannya, Tuhan menyatakan apa yang akan Dia lakukan. Tuhan berjanji untuk tidak lagi memusnahkan penghuni bumi dengan air bah (Kejadian 9:11). Dan sebagai tanda yang mengingatkan Dia kelak, Tuhan akan memperlihatkan busur-Nya bila awan menunjukkan tanda akan hujan.
Pemulihan alam ciptaan memberikan mandat baru bagi Nuh dan keturunannya, suatu mandat yang harus mereka pikul. Namun mandat itu disertai dengan janji pemeliharaan Allah. Kembali kita melihat keharmonisan hubungan Allah dengan manusia, yang mau berjalan di jalan-Nya. Manusia melakukan segala perintah Allah, dan Allah pun akan menjalankan pemeliharaan-Nya atas manusia dengan setia.
Bagaimana hubungan Anda saat ini dengan Allah? Kiranya Tuhan menolong kita untuk berada di dalam hubungan yang erat terpaut dengan Allah.
Hidup berlanjut terus, dosa pun mengikutinya. Kisah Nuh dan anak-anaknya menggambarkan lagi kebobrokan umat manusia. Nuh mabuk dan telanjang. Setelah manusia berpakaian, dalam dosanya ketahuanlah bahwa ia sebenarnya telanjang. Anaknya, Kanaan, tidak merasa itu mempermalukan. Ia malah memanggil kedua saudaranya, yang segera menutupi ketelanjangan ayah mereka. Sebagaimana Allah menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa, Sem dan Yafet menutupi ketelanjangan Nuh. Mereka tidak ingin melihat ketelanjangan itu.
Firman ini berbicara tentang masalah seksualitas, entah dalam tingkat yang tinggi ataupun rendah. Yang kita ketahui adalah bahwa dalam periode-periode sejarah selanjutnya, perintah untuk menghormati orang tua dan tidak menyingkapkan aurat ayah merupakan hal-hal yang amat penting. "Menyingkapkan" aurat di sini mungkin mengacu ke hubungan seksual dengan istri Nuh (atau bahkan homoseksual) -- Imamat 18. Namun, bisa juga hanya sekadar ketelanjangan biasa. Intinya Allah ingin manusia berseksualitas terhormat. Peraturan Allah selanjutnya tentang seksualitas perlu kita hayati sebagai anugerah-Nya.
Kutukan Allah perlu kita perhatikan. Kutukan ini dahsyat. Kanaan akan menjadi yang terendah di antara saudara-saudaranya. Perhatikan kontras antara Ham dan Sem. Sem akan beranak cucu dan menghasilkan bangsa Semit, Israel. Ham akan memperanakkan bangsa Kanaan. Kedua bangsa ini akan bertarung akhirnya. Maka, kisah ini mencoba menceritakan asal-usul pertarungan dua bangsa. Keturunan Ham berlaku tidak bermoral dan tidak menuruti kehendak Allah. Keturunan Sem menaati perintah Alah. Keturunan Sem akan menang bukan karena kekuatan mereka, tetapi karena janji berkat Allah!
Renungkan: Kemenangan Anda terhadap dosa bukan dengan kekuatan Anda, tetapi karena kebergantungan pada janji Allah.