Wahyu 18 (MAD2T*06 Jun*Tahun 1)
Wahyu 18
Penjelasan Singkat
Jatuhnya Babel
Isi Pasal
Bentuk terakhir dari kemurtadan umat Kristen dan peringatan bagi umat Allah. Pandangan manusia dan malaikat tentang Babel.
Judul Perikop
Jatuhnya Babel (18:1-20)
Babel tidak akan bangkit lagi (18:21-24)
Tafsiran: Segenap unsur yang bersekongkol tersistem melawan Allah dilukiskan dalam Why ps. 17 sebagai Babel, pelacur besar, Roma. Gambaran kehancuran mereka akibat murka Allah dalam ps. 17 kini dibentangkan secara gamblang dan rinci. Murka Allah yang menghancurkan dunia yang jahat ini kini menjadi alasan untuk umat Allah menjaga kekudusan (Wahyu 18:4) dan bersukacita! (Wahyu 18:20). Sementara itu semua yang tertarik dan berkompromi dengan dunia (Babel), akan meratapi kengerian dan kemalangan besar mereka (Wahyu 18:11-19).
Di hadapan kemuliaan Allah (Wahyu 18:1), semua kemegahan, kemewahan dunia yang menjadi magnet mengecoh orang terlibat dalam pesta dosa (bdk. ps. 17) tak lebih hanyalah tempat kediaman roh-roh jahat dan najis belaka (Wahyu 18:2-3). Kini tindakan penghukuman Allah siap Ia jatuhkan setimpal tumpukan kejahatan mereka, bahkan dua kali lipat sebab mereka telah meninggikan diri seolah menganggap diri Ilahi (Wahyu 18:7-8). Ini menegaskan bahwa hukuman Allah terutama ditujukan atas kualitas bukan kuantitas dosa. Segala kemegahan dan kedigjayaan dunia ini yang seolah bisa berlangsung permanen ternyata hanya dalam waktu sekejap (satu jam) menyebabkan semua musuh Allah itu binasa ditimpa murka Allah.
Semua orang Kristen masih ada dalam dunia dan tidak luput dari tekanan, godaan, rayuan yang datang dari gaya hidup dan sistem pemikiran bergaya Babel. Nama untuk itu kini: sekularisasi, hedonisme, materialisme, relativisme, "dunia dugem", kongkalikong, dlsb. Firman ini mengingatkan orang Kristen agar tidak menduniawi meski masih hidup dalam dunia ini. Juga agar tidak putus asa karena konsekuensi tekanan terhadap sikap memelihara kerohanian iman dan etika Kristen. Kesadaran status kita yang mulia yang Allah anugerahkan, mencegah kita kompromi dengan dunia!
Renungkan: Dalam terang pemaparan eskatologis ini, panggilan Kristen adalah: hidup kudus dan bersukacita terus dalam kesucian dan kemuliaan Allah!
Yesus menegur para perempuan yang menangisi-Nya saat digiring ke Golgota, agar mereka menangisi diri sendiri (Luk. 23:28-30). Kematian Kristus tidak perlu ditangisi karena merupakan cara kemenangan atas dosa. Sebaliknya, yang patut ditangisi ialah mereka yang bertanggung jawab menyerahkan Yesus untuk disalibkan!
Bila pasal 17 berbicara mengenai Babel yang bebal akan dihancurkan, maka pasal 18 merupakan kumpulan seruan atau tangisan dan nyanyian celaka (Wahyu 18:10, 16, 19) akan kehancuran Babel. Sang pelacur yang telah memikat dan memperdaya banyak bangsa untuk menyembah sang anti-Kristus, akan ditinggalkan oleh mereka yang dahulu terjerat oleh nafsu najisnya.
Pertama-tama, seruan yang menyatakan kehancuran Babel (Wahyu 18:2-3). Alasan diberikan, yaitu karena Babel telah mencabuli para bangsa, raja, dan pemegang kendali ekonomi dunia. Seruan tadi kemudian ditujukan kepada umat Allah agar berhati-hati dan menjauhkan diri dari godaan sang pelacur tersebut (Wahyu 18:4-5). Akhirnya, seruan kepada para penegak kebenaran untuk membalaskan kejahatan Babel setimpal (Wahyu 18:6-8).
Kedua, tangisan bagi Babel diserukan oleh mereka yang sudah pernah mencicipi kecabulannya. Berturut-turut para raja (Wahyu 18:9-10), para pedagang (Wahyu 18:11-16), dan para pelaut (Wahyu 18:17-19). Ratapan mereka bukan simpati karena kehancuran Babel, melainkan karena dampak kehancuran yang akan mereka rasakan juga. Ini adalah tangisan yang mengasihani diri sendiri. Kehancuran Babel berarti juga kehancuran semua ikatan-ikatan dosa dalam berbagai aspek kehidupan.
Ratapan bagi Babel pada sisi yang lain merupakan seruan kebahagiaan buat umat Tuhan yang saleh (Wahyu 18:20). Karena dengan hancurnya sendi-sendi kehidupan yang sudah digerogoti kanker dosa, hancur pula kekuatan yang selama ini menekan dan membuat menderita umat yang menolak kompromi dengan dosa!
Apakah Anda dapat bersuka cita ketika kejahatan dibongkar? Atau malah berduka cita dan ketakutan karena Anda terlibat di dalamnya?