Wahyu 22 (MAD2T*10 Jun*Tahun 1)
Wahyu 22
Penjelasan Singkat
Pohon Kehidupan
Isi Pasal
Surga baru dan sungai dari air kehidupan. Nasihat terakhir dari Kristus agar siap untuk kedatangan-Nya yang kedua.
Judul Perikop
Kedatangan Tuhan Yesus (22:6-17)
Penutup (22:18-21)
Tafsiran: Keadaan Bahagia Berlaku di Dalam Kota Kudus (22:1-5).
Aneh bahwa di dalam pasal 21 tidak dijelaskan adanya hal-hal yang alamiah, pohon, sungai, dan lain-lain, sebagaimana kita jumpai di dalam gambaran tentang Firdaus yang terdapat dalam Kejadian 2. Rincian semacam itu kini dikemukakan, mengingatkan kita bukan hanya pada pasal dalam Kitab Kejadian tersebut namun juga pada Yehezkiel 47:1-12. "Dosa membuat manusia terusir dari taman yang satu. Kasih karunia membuat manusia memasuki taman Firdaus abadi." Di dalam pasal ini kita menyaksikan keindahan, kehidupan penuh kelimpahan, kedaulatan Allah , kesehatan bagi bangsa-bangsa di bumi, keadaan di dalam mana tidak ada lagi laknat (ay. 3), baik atas manusia maupun atas bumi di mana manusia hidup atau di kota di mana dia tinggal. atau atas hubungan apa pun yang berlaku di antara manusia - Kristus telah menghapus kutuk atau laknat dengan segala akibatnya. Di sini juga tampak gambaran tentang pelayanan, penglihatan yang sempurna, yaitu melihat wajah Tuhan kita dan nama-Nya akan tertulis di dahi kita. Di sini dikemukakan dua penghapusan lagi yakni penghapusan hal-hal yang telah menyulitkan dan membebani manusia: penghapusan semua kutuk, dan penghapusan malam untuk selama-lamanya.
Sekalipun demikian, yang paling membahagiakan hati kita dari nas ini bukanlah aspek-aspek negatifnya, tetapi berbagai penegasan positif yang disebutkan. Di dalam pasal ini kebahagiaan yang diinginkan Allah selama ini dan disediakan oleh-Nya mencapai puncak kesempurnaan: di surga kita akan senantiasa melayani Tuhan (ay. 3b): kita akan melihat wajah-Nya; dan nama-Nya akan dimeteraikan di dahi kita (ay. 4): kita akan memerintah bersama dengan Dia untuk selama-lamanya (ay. 5). Di sini janji-janji yang dikemukakan dalam Matius 5:8; I Yohanes 3:2; I Korintus 15:49 dan lain-lain akan menjadi pengalaman abadi orang-orang percaya. Dengan kata lain, kita akan memancarkan sifat Allah. kita akan melayani Tuhan, kita akan memerintah bersama dengan Allah, senantiasa bersukacita dan penuh kepuasan ketika memandang wajah-Nya yang mulia. (Pembahasan yang tergolong paling mendalam dan memuaskan mengenai Kota Suci dapat dijumpai di dalam karya Govett, hlm. 549-610).
Semua rencana Allah yang ditetapkan sejak dunia didirikan, kini telah tercapai. Pemberontakan malaikat dan manusia telah dikalahkan sepenuhnya sebagai Raja atas segala raja yang memberlakukan kedaulatan-Nya. Orang yang ditebus melalui darah Anak Domba, telah bangkit dan berada dalam kemuliaan abadi. Hidup ada di mana-mana - dan maut tidak akan pernah mengganggu lagi. Langit dan bumi telah dibaharui. Terang, keindahan, kekudusan, sukacita, kehadiran Allah, penyembahan terhadap Allah, pelayanan kepada Kristus, keserupaan dengan Kristus - semua ini sekarang merupakan kenyataan abadi. Kosakata manusia untuk hidup sekarang ini tidak mampu untuk melukiskan dengan memadai apa yang telah dipersiapkan Allah bagi mereka yang mengasihi Dia.
Wahyu ditulis oleh Yohanes atas perintah Tuhan Yesus untuk menguatkan umat Tuhan yang sedang menghadapi penganiayaan yang kian hari kian berat. Intisari kitab Wahyu adalah bahwa Allah berdaulat atas sejarah dunia ini. Kuasa Iblis yang memakai pemimpin dan budaya dunia untuk menyesatkan umat manusia, tetap ada di bawah kendali Sang Pencipta dan Pemilik. Kristus telah memastikan bahwa semua rencana Allah bagi dunia dan bagi keselamatan umat-Nya tercapai dengan sempurna.
Pada perikop penutup ini sekali lagi Yohanes mendapatkan penegasan bahwa baik semua yang ia lihat dan catat, maupun yang tidak dicatatnya adalah tepat, setepat firman-Nya di Perjanjian Lama (Wahyu 22:6). Oleh karena itu, siapapun yang tidak percaya dan menolak firman-Nya, memang sudah dihakimi secara adil (Wahyu 22:11), yaitu mereka yang tetap tinggal dalam keberdosaan mereka (Wahyu 22:15). Sebaliknya, mereka yang percaya akan memperoleh upah percayanya itu yang dijaminkan oleh Kristus sendiri (Wahyu 22:12, 16). Merekalah yang diundang untuk menikmati kehidupan sejati kekal bersama Allah di surga mulia (Wahyu 22:17).
Pentingnya firman Tuhan ini bagi penghiburan dan penguatan umat Tuhan di sepanjang zaman ditegaskan melalui peringatan keras untuk tidak mengubah pesan Tuhan ini (Wahyu 22:18-19). Baik menambah maupun menguranginya, adalah sama dengan mengingkari hikmat dan kedaulatan Tuhan. Kita dipanggil untuk bersandar penuh pada Tuhan, dengan tidak mengompromikan firman-Nya dengan hikmat kita, apalagi menafsir menurut keinginan dan kepentingan sendiri. Wahyu diberikan bukan untuk umat berspekulasi mengenai masa depan melainkan untuk menolong umat Tuhan menghadapi situasi sulit yang bersifat kontra kebenaran dan antiKristus.
Renungkan: Yang kita butuhkan bukan membaca peta zaman pembuka rahasia masa depan, melainkan menaati firman-Nya, pedoman terpercaya menjalani hidup masa depan.