Kej 24 (MAD2T*04 Juli*Tahun 1)
Kejadian 24
Penjelasan Singkat
Ishak dan Ribka bertemu
Isi Pasal
Pengantin Ishak diperoleh melalui hamba Abraham.
Judul Perikop
Ribka dipinang bagi Ishak (24:1-67)
Tafsiran: Kita sering berhadapan dengan aneka pengambilan keputusan: apakah perlu pindah kerja demi kemajuan karier? Kemanakah kita harus menyekolahkan anak-anak kita? Komitmen apa yang harus kita setujui dan mana yang bisa kita tolak? Kita tentu ingin tahu, apa kehendak Tuhan untuk hal-hal semacam itu.
Abraham tahu bahwa Allah bermaksud memberikan tanah Kanaan kepada keturunannya sehingga orang Kanaan harus disingkirkan. Lalu keturunan Ishaklah nantinya yang bertugas mengusir bangsa Kanaan. Oleh karena itu Ishak tidak boleh menikah dengan wanita Kanaan karena dapat memungkinkan kompromi iman dikemudian hari. Jika Ishak beristrikan orang yang tak seiman, bisa saja si anak mengikuti iman ibunya sehingga tidak mengimani Allah yang diimani Abraham. Ini jelas tidak sesuai dengan kehendak Allah. Itulah sebabnya Abraham bermaksud mencarikan istri bagi Ishak dari kalangan sanak saudaranya. Maka ia menyuruh hambanya pergi ke tempat keluarganya untuk mencarikan istri bagi Ishak (Kejadian 24:2-8).
Pentingnya hal ini bagi Abraham dapat kita lihat dari permintaan agar hambanya bersumpah dalam nama Tuhan, yang empunya langit dan bumi, (Kejadian 24:3) bahwa ia akan melakukan permintaan Abraham. Sampai dua kali Abraham mengingatkan hambanya untuk tidak membawa Ishak ke Ur (Kejadian 24:6-8). Abraham tahu bahwa Allah telah memanggil dia keluar dari Ur dan menjanjikan negeri baru yang berkelimpahan. Maka ia atau keturunannya tidak boleh kembali ke sana, sesuai ketetapan Allah bagi dia.
Kita melihat bahwa Abraham begitu serius menerapkan kehendak Tuhan. Dia bukan hanya bisa menuntut janji Allah, tetapi bersedia juga mematuhi kehendak Allah dalam rangka penggenapan rancangan Allah bagi hidupnya dan keturunannya. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita: apakah kita melakukan segala sesuatu dalam koridor penggenapan rancangan Allah bagi hidup kita? Apakah ambisi terhadap anak-anak kita tetap didasarkan pada penggenapan kehendak Allah atas hidupnya juga? Kiranya teladan Abraham menolong kita untuk menjalani hidup sesuai ketetapan Allah.
Kita cenderung membaca tanda sesuai keinginan hati kita, karena itu kita sering salah membaca tanda dari Tuhan. Untuk itu memang diperlukan hikmat Tuhan, seperti yang dilakukan oleh hamba Abraham dalam nas hari ini.
Hamba Abraham tak kalah serius dalam menunaikan tugasnya. Ia memulai perjalanan dengan meminta petunjuk dan tanda dari Tuhan (Kej. 24:12-14). Tanda yang diminta sangat detail sehingga tak akan mudah terjadi secara kebetulan dan melahirkan salah persepsi bahwa tanda itu telah digenapi. Tanda yang ia minta juga menunjukkan hikmat dan iman bahwa Tuhan akan memberikan istri yang berbudi luhur kepada anak tuannya. Wanita itu tentulah seorang yang mempunyai belas kasihan kepada binatang (Kej. 24:14) serta berhikmat karena berhenti dekat sumur (Kej. 24:11).
Dalam perkenan Allah, ia menjumpai anak gadis yang melakukan persis seperti tanda yang ia minta dari Allah (Kerj. 24:14, 18-19). Namun ia tidak mau gegabah. Ia mengamat-amati, apakah situasi yang terjadi sesuai doanya kepada Tuhan (Kejadian 24:21). Jika tidak, ia akan menyimpulkan bahwa ia belum menemukan wanita yang tepat. Setelah melihat bahwa Ribka melakukan seperti tanda yang ia minta, hamba Abraham itu berkenalan dengan Ribka sehingga kemudian tahu bahwa Ribka ternyata anak dari Betuel, anak Nahor, saudara Abraham (Kej. 22:20-24). Hamba ini pun kemudian yakin bahwa Tuhan menuntun dia (Kejadian 24:26-27).
Dalam pergumulan iman, kadang kita membutuhkan tanda dari Tuhan, sebagai jawaban atau tuntunan. Namun kita harus memeriksa hati kita, jangan sampai kita meminta tanda untuk keuntungan diri dan bukan bagi terlaksananya maksud Tuhan di dalam hidup kita. Meminta tanda juga membutuhkan hikmat untuk memahami situasi, maka kita perlu terus mengamati dengan seksama apakah tanda itu benar-benar dari Tuhan.
Dan supaya kita tidak mudah jatuh pada hal-hal yang bersifat ekstrim, adalah baik untuk selalu bergantung pada firman Tuhan dan Roh Kudus yang akan memimpin kita pada kebenaran. Carilah konfirmasi Tuhan dari firman dan Roh Kudus-Nya.
Jalan sudah terbuka. Permintaan doa Eliezer sudah dikabulkan TUHAN. Eliezer sudah sampai di rumah keluarga Ribka. Sekarang apa yang harus dilakukan?
Eliezer menceritakan maksud kedatangannya, sebagai utusan Abraham untuk mencarikan istri bagi putranya, Ishak. Eliezer menceritakan bahwa TUHAN sendiri yang menjawab doa permohonannya agar ia dituntun ke tempat yang tepat. Tepat seperti doa permohonannya, ia dihantar sampai ke rumah Ribka. Sekarang ia menantikan jawaban keluarga Ribka.
Tanggapan keluarga Ribka, dalam hal ini diwakili Laban dan Betuel (ayah Ribka dan Laban), adalah percaya dan menerima maksud TUHAN atas diri Ribka (ayat 50-51). Ribka sendiri percaya dan menerima hal itu sebagai kehendak Tuhan (ayat 58). Sebagai tanda pinangan, dikeluarkanlah sejumlah perhiasan dan pakaian untuk Ribka dan saudara dan ibunya.
Segera setelah pinangan diterima, dan bermalam satu malam, Eliezer pamit pulang untuk membawa Ribka kembali ke kemah Abraham. Namun, pihak keluarga Ribka hendak menahan Ribka selama mungkin, dan meminta waktu sepuluh hari lagi. Eliezer berkeras untuk berangkat saat itu juga (ayat 54-56).
Tindakan Eliezer sungguh tepat. Tugas harus diselesaikan dengan tepat dan tuntas. Penundaan pulang mungkin mengakibatkan keluarga Ribka berubah pikiran, dan akhirnya menolak melepaskan Ribka. Sebenarnya kalau Eliezer mau berdalih, perjalanan jauh sehingga butuh waktu istirahat panjang, tentu saja perjalanan boleh ditunda satu atau dua hari lagi. Sebagai hamba yang baik, ia ingin menyenangkan tuannya bukan dirinya.
Renungkan: Semua tugas, besar maupun kecil, bila dilihat sebagai pelayanan kepada Tuhan dan sesama, pasti akan kita lakukan dengan penuh tanggung jawab.