Kej 25 (MAD2T*05 Juli*Tahun 1)
Kejadian 25
Penjelasan Singkat
Kematian Abraham
Isi Pasal
Abraham menikahi Ketura. Ishak menjadi ahli waris Abraham. Kematian Abraham. Keturunan Ismael dan Ishak. Kelahiran Esau dan Yakub dan dijualnya hak kesulungan.
Judul Perikop
Keturunan Abraham dari Ketura (25:1-6)
Abraham meninggal dan dikuburkan (25:7-11)
Keturunan Ismael (25:12-18)
Esau dan Yakub (25:19-34)
Tafsiran: Abraham adalah model tentang prinsip keselamatan. Imannya kepada janji Allah membuat ia dibenarkan. Keselamatan adalah penerimaan atas tindakan penyelamatan Allah, bukan perjuangan moral dan ibadat agar diperkenan Allah. Imannya yang taat juga menunjukkan kesejatian iman. Dari seluruh perjalanan hidup Abraham, kita menyaksikan campur tangan Allah dan respons manusia yang menghasilkan lukisan kehidupan yang indah dan menantang.
Meski Abaham adalah teladan tentang banyak hal penting tadi, tetapi kehidupan pernikahannya jauh dari ideal. Hampir saja penggenapan janji Allah gagal karena ia mengambil Hagar sebagai alternatif mengatasi kemandulan Sara. Sesudah Sara meninggal ia memperistri Ketura. Dari Ketura lahir enam orang anak sedangkan Ismael, anaknya dari Hagar, menghasilkan dua belas orang yang kelak menjadi para pemimpin suku. Asyur dan Midian dari Ketura, serta Kedar dari Ismael. Kelak nama-nama itu akan menjadi nama bangsa yang banyak menimbulkan masalah bagi Israel. Buah pahit kekeliruan bapak orang beriman harus terus dicicipi umat pilihan Allah. Suatu pelajaran penting untuk kita simak!
Meski banyak kekurangan dan kegagalan, Abraham mengakhiri hidup dengan kemuliaan. Ia mengamankan warisan bagi Ishak, anak dari perjanjian Allah. Abraham berinisiatif memberi dulu bagian Ishak, baru pemberian untuk anak-anak yang lain, yang tidak termasuk perjanjian Allah. Kedua, Abraham mengakhiri hidup secara menakjubkan pada usia 175 tahun, 100 tahun sesudah ia menaati Allah untuk pergi mendiami tanah Kanaan. Komentar firman tentang dia, "telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur" (Kejadian 25:8). Ia mati bukan karena sakit melainkan dalam bahasa aslinya, karena "menyerahkan nyawanya." Sesudah melalui tahun-tahun yang penuh arti dan dalam kelimpahan hidup, ia pergi menemui yang Empunya hidup. Meski arti hidup tak tergantung pada panjangnya usia, alangkah indah bila memiliki hidup yang bernas dengan kesaksian dalam usia cukup panjang!
Banyak orang menganggap bahwa jika Allah sudah menetapkan sesuatu, manusia tidak perlu bertanggung jawab atas hal itu. Namun nas hari ini menunjukkan, walau ketetapan Allah pasti terjadi, kita tetap memiliki tanggung jawab.
Waktu Ribka mengandung kedua anak kembarnya, Allah bernubuat bahwa "anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda" (Kej. 25:23). Karena Allah adalah Allah yang berdaulat maka ini berarti bahwa walaupun Yakub adalah anak yang muda, tetapi dialah yang mendapatkan hak kesulungan.
Esau dan Yakub kemudian tumbuh dewasa. Suatu kali Esau kelaparan dan meminta masakan kacang merah milik Yakub. Sebagai imbalan, Yakub meminta hak kesulungan Esau (Kejadian 25:29-31). Yakub sangat serius hingga ia meminta Esau untuk bersumpah (Kejadian 25:33).
Yang menarik, walaupun tindakan Esau sebenarnya menggenapi apa yang telah dinubuatkan Allah, Alkitab mencatat bahwa Esau dikecam karena memandang enteng hak kesulungan (Kejadian 25:34). Mengapa Esau dianggap bersalah, padahal ia menggenapi apa yang telah ditetapkan Allah? Ternyata ketetapan Allah tidak menihilkan tanggung jawab manusia. Allah kita adalah Allah yang berdaulat maka setiap orang pasti akan menggenapi apa yang telah Dia rencanakan. Namun orang yang menggenapi rencana Allah tersebut tetap bertanggung jawab atas perbuatannya.
Esau memandang ringan hak kesulungannya berarti ia memandang ringan perjanjian Allah dengan Abraham dan Ishak yang akan diwariskan kepada keturunan Ishak yang memiliki hak kesulungan. Ini menunjukkan bahwa ia tidak percaya terhadap perjanjian Allah itu. Sebab itu ia dikecam. Ia bertindak atas kehendaknya sendiri, untuk itu ia harus bertanggung jawab.
Kisah ini merupakan peringatan bagi kita untuk secara sadar bertanggung jawab atas setiap perbuatan kita. Jangan mengira bahwa karena segala sesuatu yang di muka bumi ini terjadi atas kehendak Allah, maka kita mengalihkan tanggung jawab atas perbuatan salah kita kepada Allah. Ingatlah bahwa ketetapan Allah bukan meniadakan tanggung jawab manusia (bnd. Luk. 22:22).