Kej 26 (MAD2T*06 Juli*Tahun 1)
Kejadian 26
Penjelasan Singkat
Ishak diberkati
Isi Pasal
Perjanjian diteguhkan kepada Ishak. Penyelewengan Ishak di Gerar, Ishak sebagai penggali sumur.
Judul Perikop
Ishak di negeri orang Filistin (26:1-35)
Tafsiran: Kehidupan iman kadang sangat mengherankan: seorang percaya bisa saja mempunyai iman yang teguh di satu saat, tetapi kemudian ia diliputi keraguan di saat lain. Nas hari ini menunjukkan bahwa Ishak juga bisa beriman, tetapi kadang ia bisa juga dikuasai keraguan.
Ishak mengalami masa kelaparan seperti yang pernah dialami Abraham, ayahnya (bnd. Kej. 12:10-20; 20:1-18). Namun jika Abraham dibiarkan Tuhan pergi ke Mesir, saat itu Tuhan meminta supaya Ishak tidak pergi ke Mesir. Lalu Tuhan menjanjikan pernyertaan dan berkat-Nya (Kejadian 26:2). Tuhan juga meneguhkan bahwa Ia akan menepati sumpah-Nya kepada Abraham dan menjanjikan berkat yang sama seperti yang Ia ucapkan kepada Abraham (Kejadian 26:3-5). Ishak pun taat kepada Tuhan dan menetap di Kanaan, di kota orang Filistin di Gerar (Kejadian 26:6). Di sini terlihat bahwa Ishak beriman sehingga ia menaati Tuhan dan tidak pergi ke Mesir.
Namun ada saat Ishak menunjukkan ketiadaan iman, yaitu ketika ia merasa tidak yakin bahwa Allah dapat menyelamatkan dirinya dari tangan Abimelekh, raja orang Filistin. Sama seperti yang pernah dilakukan Abraham sebelumnya (Kej. 12:13; 20:2), Ishak juga mengatakan bahwa istrinya adalah saudaranya. Alasan yang ada dalam pemikiran Ishak juga sama seperti yang ada dalam pikiran Abraham sebelumnya: "Jangan-jangan aku dibunuh oleh penduduk tempat ini karena Ribka" (Kejadian 26:7; bnd. Kej. 12:12).
Mengapa di satu sisi Ishak begitu yakin bahwa Allah akan memeliharanya dari bencana kelaparan, tetapi di sisi lain ia ragu bahwa Allah dapat menyelamatkan dia dari tangan orang Filistin? Alkitab tidak menjelaskan alasan keraguan Ishak, tetapi kita dapat menyimpulkan bahwa orang beriman pun suatu saat bisa saja diliputi keraguan karena iman orang percaya bukanlah merupakan iman yang sempurna. Di sisi lain, kita pun memiliki titik lemah dan kerentanan yang berbeda-beda. Sebab itu kenali kelemahan diri kita dan minta Allah menguatkan kita. Dan jika ketidakpercayaan mencoba menguasai hati kita, mintalah pertolongan Allah supaya iman kita diteguhkan dan pengharapan kita tidak bergeser.
Ketika Allah memberkati kita, bukan berarti bahwa kita tidak akan menghadapi tantangan. Kekayaan yang diperoleh Ishak ternyata sempat menghadirkan kesulitan bagi dirinya. Lalu bagaimanakah sikap Ishak menanggapi hal itu?
Karena Allah meminta Ishak untuk tetap tinggal di Kanaan dan tidak pergi ke Mesir ketika terjadi kelaparan (Kejadian 26:2-3), maka Ishak menetap di Gerar, daerah orang Filistin. Di situ Allah memberkati Ishak secara luar biasa sehingga ia mendapat hasil panen seratus kali lipat. Ishak pun menjadi sangat kaya (Kejadian 26:12-13). Melihat kemajuan Ishak, Abimelekh, raja orang Filistin itu, merasa terancam dan menutup sumur-sumur milik Ishak. Sampai kemudian Ishak diusir oleh Abimelekh (Kejadian 26:16). Karena tidak mau cari ribut, Ishak pun menyingkir. Namun itu tidak menghentikan gangguan dari orang-orang yang masih saja berusaha mengusik dia (Kejadian 26:22).
Namun Tuhan tidak tinggal diam. Ia kemudian menemui Ishak dan menyatakan janji dan jaminan-Nya atas hidup Ishak. Janji dan jaminan itu kemudian tampak melalui perubahan sikap Abimelekh terhadap Ishak. Abimelekh, yang melihat penyertaan Tuhan atas Ishak, sadar bahwa lebih menguntungkan jika menjadikan Ishak sebagai sekutu daripada sebagai musuh. Lalu Abimelekh meminta supaya mereka mengikat perjanjian (Kejadian 26:28-31). Kedatangan Abimelekh seolah merupakan konfirmasi dari penyataan Tuhan sebelumnya mengenai penyertaan yang akan diberikan Allah kepada Ishak. Dan ini masih belum selesai. Konfirmasi berikutnya nyata ketika hamba-hamba Ishak menemukan sumur-sumur (Kejadian 26:32-33). Ini merupakan konfirmasi atas penyataan Tuhan mengenai berkat-berkat yang akan dilimpahkan kepada Ishak. Nyata benar penyertaan dan pemeliharaan Allah bagi Ishak di tempat itu.
Memang akan ada aneka reaksi orang ketika melihat berkat Tuhan atas hidup kita. Ada yang merasa tersaingi, ada juga yang ingin menarik manfaat dari kebersamaannya dengan kita. Namun jangan sampai kita bersungut-sungut karena reaksi yang muncul itu. Yang perlu kita ingat adalah bahwa semua itu merupakan wujud pemeliharaan Tuhan atas hidup kita.