Kej 27 (MAD2T*07 Juli*Tahun 1)
Kejadian 27
Penjelasan Singkat
Yakub Esau
Isi Pasal
Cara curang Yakub untuk mendapatkan berkat Ishak. Penyesalan Esau.
Judul Perikop
Yakub diberkati Ishak sebagai anak sulung (27:1-40)
Yakub lari ke Mesopotamia (27:41--28:9)
Tafsiran: Hidup dalam dunia yang berdosa membuat apa yang terjadi sering sekali berbeda dengan yang kita harapkan. Sering ketika kita melihat bahwa orang lain tidak melakukan kewajiban mereka yang merupakan hak kita, kita lalu merasa berhak untuk meraih hak tersebut dengan cara apa pun.
Ishak telah tua dan ia berkeinginan untuk memberi berkat sulungnya kepada Esau. Rupanya kasih Ishak kepada Esau membuat ia tidak memedulikan nubuat Tuhan yang menyatakan bahwa berkat itu harus diberikan kepada Yakub (Kej. 25:23). Matanya yang "rabun" mungkin gambaran dari kebutaan hatinya yang bersikeras memberkati Esau walau telah ditolak Allah (Mal. 1:2-3). Esau pun menunjukkan sikap yang tidak terpuji, meski ia telah menjual hak kesulungannya kepada Yakub dengan sumpah (Kej. 25:33), ia tetap saja menginginkan berkat tersebut.
Ketika Ribka mendengar hal itu, ia pun mencari jalan keluar sendiri bagi anak kesayangannya. Jelas Ribka ingat bahwa Tuhan telah menetapkan Yakub sebagai penerima berkat sulung tersebut, dan ia tidak rela jika berkat kesulungan tersebut dimiliki Esau. Ia berusaha menipu Ishak demi mendapatkan apa yang menjadi hak anak kesayangannya.
Mungkin Ribka beranggapan, karena Yakub yang berhak mendapatkan hak kesulungan maka adalah wajar jika ia menipu Ishak untuk mendapatkannya. Ia bahkan berkata bahwa ia rela menanggung kutuk dari Ishak jika ternyata Yakub ketahuan membohongi ayahnya (Kejadian 27:12-13). Dengan sungguh-sungguh mereka merencanakan untuk menipu Ishak agar memberikan berkat tersebut kepada Yakub.
Apakah Allah berkenan ketika kita mencoba meraih hak kita dengan cara yang salah? Tentu tidak. Karena itu walaupun orang lain mengambil apa yang merupakan hak kita, marilah kita tetap berusaha untuk mencoba menggapai hak kita dengan cara yang benar. Jika memang Tuhan telah memberikan sesuatu bagi kita, maka hal itu pasti menjadi milik kita dan tidak seharusnya kita mencoba meraihnya dengan cara yang tidak berkenan kepada Tuhan.
Allah kita adalah Allah yang berdaulat penuh, dan karenanya apa yang telah dirancang-Nya pasti akan terjadi. Ketidaktaatan manusia tidak dapat menghalangi Allah dalam menggenapi rencana-Nya.
Karena kasihnya kepada Esau, Ishak mengabaikan nubuat Tuhan kepada Ribka bahwa "anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda." Ia tetap mau memberikan berkat kesulungan, yaitu berkat untuk mewarisi perjanjian Allah dengan Abraham dan Ishak, kepada Esau. Namun dengan bantuan Ribka, Yakub menipu Ishak. Ia memakai pakaian yang indah kepunyaan Esau, membalutkan kulit anak kambing di kedua tangannya, dan membawa makanan kesukaan Ishak yang disiapkan oleh Ribka (Kejadian 27:15-17). Bahkan tanpa malu Yakub menyatakan bahwa adalah Tuhan Allah Ishak yang membuatnya mencapai tujuannya ketika Ishak bertanya mengapa ia dapat dengan begitu cepat kembali dari perburuannya (Kejadian 27:20). Sungguh ironis bahwa ketika Yakub menipu ayahnya ia meyakinkan ayahnya bahwa Tuhanlah yang memberikannya keberhasilan. Tidak mengherankan Ishak yang sudah rabun tersebut kemudian percaya dan memberkati Yakub.
Tanpa Ishak sadari, ia memberkati Yakub dengan berkat sesuai dengan apa yang telah Allah rencanakan bagi Yakub. Allah telah bernubuat bahwa Yakublah yang akan menjadi besar dan mewarisi perjanjian Allah dengan Abraham (bdk. Kej. 26:23) Lalu Ishak memberkati Yakub bahwa bangsa-bangsa akan takluk kepadanya, ia akan menjadi tuan atas saudara-saudaranya, dan siapa yang mengutuknya akan terkutuk dan siapa yang memberkatinya akan diberkati (Kejadian 27:27-29).
Dengan demikian kita melihat bahwa walaupun Ishak tidak berniat untuk menaati Allah dan berencana untuk memberkati Esau, pada akhirnya ia melakukan persis seperti yang Allah kehendaki, yaitu memberikan berkat anak sulung kepada Yakub.
Allah berdaulat dan apa yang menjadi rencana-Nya pasti akan tergenapi. Karenanya kita harus selalu taat pada perintah-Nya, karena rela atau tidak, kita akan menggenapi pula apa yang telah dikehendaki-Nya.
Allah memang berdaulat, tetapi bukan berarti manusia tidak perlu bertanggung jawab atas dosanya. Ketika manusia dalam ketidaktaatannya menggenapi rencana Tuhan, ia tetap harus menanggung konsekuensi dari dosanya itu.
Berkat Ishak bagi Yakub menggenapi apa yang telah Allah nubuatkan sehingga Esau tidak lagi mendapatkan berkat sulung tersebut. Walaupun Yakub mendapat berkat tersebut dengan cara menipu ayahnya, bukan berarti Esau tidak bersalah. Nama Yakub memang berarti "dia memegang tumit" dan secara figuratif berarti "dia menipu", Namun Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa kesalahan Esau sangat besar, ia dikatakan telah "memandang ringan hak kesulungannya." Ia dengan sadar menjual hak kesulungan itu kepada adiknya demi mendapatkan semangkok sup (Kej. 25:34). Dengan demikian sekarang Esau menerima konsekuensi dari perbuatannya, yaitu kehilangan berkat dari hak kesulungan tersebut.
Dengan demikian Ishak terpaksa memberikan berkat yang tersisa bagi Esau. Ia akan menjadi hamba adiknya, walaupun kelak mungkin keturunannya akan melemparkan kuk tersebut dari tengkuknya (Kejadian 27:40).
Mungkin ketika Esau menjual hak kesulungannya dia tidak berpikir panjang, atau memang tidak terlalu menghargai hak kesulungan tersebut. Esau memandang ringan perjanjian yang telah Allah berikan kepada Abraham, yang lalu diwariskan kepada Ishak, dan kemudian diwariskan kepada keturunan Ishak. Sekarang Esau harus menerima konsekuensi dari ketidakberimanannya. Ia mendapatkan berkat yang tersisa setelah berkat yang baik diberikan kepada Yakub. Ia memandang rendah hak kesulungannya dan sekarang tidak mendapatkan berkat dari hak kesulungan tersebut.
Sebagai umat Allah yang sudah ditebus oleh Yesus Kristus, kita tidak terbebas sama sekali dari konsekuensi atas dosa kita. Kita akan menuai apa yang telah kita tabur. Marilah kita berupaya melakukan segala sesuatu dengan baik supaya kita dapat menuai buah yang baik, dan bukan yang buruk.
Orang tua yang tidak bijaksana dapat menimbulkan banyak masalah dalam keluarga. Ishak dan Ribka secara membabi buta membela anak kesayangan masing-masing. Tindakan yang mereka lakukan berakibat buruk dalam relasi antara Esau dan Yakub dan memecah belah keluarga tersebut.
Perpecahan timbul akibat orang tua pilih kasih terhadap anak-anak mereka. Tak heran bila ada rasa dendam di kemudian hari. Namun yang diperbuat Ribka ialah kembali memisahkan kedua anaknya jauh-jauh agar tidak saling bertemu. Dengan alasan supaya Yakub mendapatkan seorang istri dari sanak keluarganya, maka Ribka mengirim Yakub ke rumah Laban disertai berkat Ishak, ayahnya. Karena Ribka merasa gusar dengan istri-istri Esau yaitu perempuan Het (Kejadian 26:35, 27:37, 28:8). Sayang sekali Ribka, sebagai ibu, menjadi inisiator perpecahan di antara anak-anaknya dengan dasar kasih mereka yang egois dan persoalan mereka sendiri tanpa menyelesaikan persoalan yang sebenarnya terjadi. Di kemudian hari perpecahan ini berlanjut di antara keturunan Esau dan Yakub, yaitu Israel dan Kanaan. Sungguh tragis.
Inilah akibat dari dosa orang tua yang tidak taat kepada Allah. Ishak bersikeras memberkati Esau walau sudah tahu bahwa hal itu tidak sesuai kehendak Allah, sementara Ribka memakai penipuan untuk memaksakan penggenapan nubuat Tuhan atas Yakub tentang berkat anak sulung. Kepergian Yakub menunjukkan betapa keluarga yang semula tinggal bersama kemudian terpencar karena pertikaian saudara. Ribka sendiri menanggung akibat yang berat dari penipuannya karena setelah Yakub pergi, ia tidak pernah lagi berjumpa dengan Yakub. Ribka meninggal sebelum Yakub kembali pada keluarganya.
Peranan orang tua sangat penting dalam perjalanan rumah tangga dan keharmonisan keluarga. Karena itu sebagai orang tua, marilah kita belajar untuk selalu taat pada kehendak Tuhan atas keluarga kita. Kita juga harus senantiasa memohon hikmat dari Tuhan supaya kita mampu membimbing anggota keluarga kita untuk senantiasa taat pada-Nya.