Kej 34 (MAD2T*14 Juli*Tahun 1)
Kejadian 34
Penjelasan Singkat
Sikhem
Isi Pasal
Tuaian tahun-tahun jahat terjadi pada Yakub dan keluarga. Dina ternoda dan pembalasan dendam yang berdarah.
Judul Perikop
Dina dan Sikhem (34:1-31)
Tafsiran: Sikhem bukan satu-satunya yang bertindak gegabah di dalam cerita ini. Yakub pun tak kalah gegabahnya dengan mendiamkan perkara tersebut. Ia secara pasif hanya menunggu anak-anaknya yang lain pulang dari padang. Entah apa yang mendasari sikap Yakub tersebut. Namun dengan mengambil sikap menunggu hingga anak-anaknya yang laki-laki pulang dari padang, Yakub seakan hendak melimpahkan penyelesaian masalah Dina kepada anak-anaknya tersebut, sebuah sikap yang disesalinya sendiri di kemudian hari (Kejadian 34:30).
Di sisi lain, Hemor -ayah Sikhem- justru bertindak cepat terhadap keinginan anaknya untuk memperistri Dina (Kejadian 34:6). Hemor menemui Yakub untuk melamar Dina serta menawarkan negerinya untuk ditinggali oleh keluarga Yakub (Kejadian 34:10). Juga Sikhem sendiri pun telah meminta maaf dan bersedia menikahi Dina. Sementara anak-anak Yakub malah merancang kejahatan terhadap Hemor dan Sikhem dengan mengajukan persyaratan berkedok ritual keagamaan (Kejadian 34:15). Dan Yakub, sekali lagi diam saja.
Kisah Dina merupakan wujud dari kegagalan orang tua yang menjadi teladan bagi anaknya. Namun yang paling utama adalah gagalnya manusia memenuhi kehendak Tuhan. Pada Kejadian 31:3 perintah Tuhan kepada Yakub sangat terang menyuruhnya kembali ke tanah nenek moyangnya, tempat di mana Ishak, ayahnya serta kaum keluarganya berada. Akan tetapi, dalam pejalanan menuju ke sana Yakub singgah dan mendirikan kemahnya di dekat wilayah orang kafir (Kej. 33:18-19). Ketidaktaatannya kepada perintah Tuhan ini ternyata mendatangkan petaka bagi keluarganya. Tak hanya itu, ketika prahara menimpa keluarganya, Yakub pun diam dan membiarkan anak-anak menyelesaikan perkara yang harusnya menjadi urusan orang tua. Sungguh bukanlah tindakan yang bijaksana.
Diam tak selalu emas! Ketika persoalan menimpa keluarga kita, baiklah orang tua segera mengambil tindakan untuk menyelesaikannya sambil datang kepada Tuhan dan berserah dalam doa. Sebab, mungkin saja persoalan itu disebabkan oleh sikap kita yang tidak taat pada perintah Tuhan.
Rasa cinta Sikhem yang muncul setelah memperkosa Dina membuatnya tak menyadari tipu muslihat yang dirancang oleh anak-anak Yakub, sehingga tawaran untuk disunat pun mereka terima.
Sementara, dendam yang membara dalam hati anak-anak Yakub membuat mereka mengabaikan makna penting sunat dalam sejarah perjumpaan kakek buyut mereka, Abraham dengan Tuhan. Sejak jaman Abraham, sunat sudah menjadi tanda dari perjanjian-kekerabatan antara Yahweh dengan Israel (Kej. 17:10-14). Orang Israel menggunakan kata ber?t, "perjanjian", untuk sunat. Jadi sunat adalah tanda perjanjian. Namun anak-anak Yakub justru tidak memedulikan semua itu. Ritual yang bermakna khusus itupun dijadikan sarana tipu muslihat untuk membuat pihak Sikhem terpojok, hingga tak memiliki pilihan lain selain harus memenuhinya.
Setelah pembunuhan keji itu dilakukan oleh Simeon dan Lewi, muncul anak-anak Yakub yang lainnya untuk menjarah harta benda dan menawan kaum perempuan serta anak-anak di kota itu (Kejadian 34:27-29).
Perbuatan mereka disesali oleh Yakub. Menggunakan sunat sebagai cara yang licik untuk membalas dendam sama halnya dengan pelanggaran terhadap suatu perjanjian. Maka ketika anak-anaknya menghianati perjanjian yang mereka buat sendiri, Yakub menganggapnya sebagai tindakan membusukkan namanya di depan penduduk kota Sikhem (Kejadian 34:30). Meski demikian tidak ada penyesalan dalam diri Simeon dan Lewi, karena yang terpenting adalah membalaskan sakit hati mereka atas perbuatan Sikhem.
Sungguh mengerikan dampak yang ditimbulkan dari perasaan yang berlebihan. Baik itu hasrat Sikhem untuk memiliki Dina, maupun dendam anak-anak Yakub, keduanya memiliki kekuatan yang dapat menghancurkan. Begitu pula kita, apa pun yang tengah bergelora di hati kita saat ini, janganlah sampai gelap mata, tetapi berdoalah kepada Tuhan. Sebab, beragam emosi yang membara di dalam benak manusia jika tidak ditundukkan di bawah kehendak Tuhan, maka hasilnya adalah kehancuran.