Kej 37 (MAD2T*17 Juli*Tahun 1)

Kejadian 37

Penjelasan Singkat
Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya

Isi Pasal
Keturunan yusuf. Yusuf dibenci dan ditolak oleh saudara-saudaranya. Dimasukkan ke dalam sumur. Dibawa pergi oleh orang-orang non-Yahudi.

Judul Perikop
Yusuf dan saudara-saudaranya (37:1-11)
Yusuf dijual ke tanah Mesir (37:12-36)

Tafsiran: Keistimewaan masa depan Yusuf telah tampak ketika namanya ditulis mengawali riwayat keturunan Yakub pada pasal ini, "Inilah riwayat keturunan Yakub, Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun.." (Kejadian 37:2). Bukan si sulung Ruben atau si bungsa Benyamin, tetapi Yusuf yang disebutkan pertama kali. Tuhan berkehendak bebas untuk memilih siapa saja yang akan Dia pakai sebagai alat untuk menjalankan rencana-Nya, dan Dia memilih Yusuf.

Di usia muda, Yusuf telah menerima tanda akan masa depannya. Seperti halnya Yakub, ayahnya, yang menerima janji pemeliharaan Tuhan lewat mimpi, Yusuf pun mendapat pesan melalui mimpi yang menggambarkan keunggulan dirinya di antara saudara-saudaranya (Kejadian 37:7), bahkan di hadapan orang tuanya (Kejadian 37:10).

Sebagai orang yang dipilih Tuhan, jelas Yusuf bukan orang yang sempurna. Alkitab bahkan memperlihatkan betapa naifnya Yusuf sehingga menceritakan secara gamblang dan terbuka sebuah mimpi yang bersifat sangat sensitif itu kepada saudara-saudaranya dan bahkan kepada ayahnya. Respons kemarahan yang ditunjukkan oleh saudara-saudara Yusuf dan teguran yang diberikan oleh Yakub adalah respons yang wajar bagi siapapun yang mendengar kisah tersebut diceritakan oleh seorang muda dan seorang anak seperti Yusuf. Kisah Yusuf selanjutnya menjelaskan pada kita, sejauh apa Allah telah bertindak untuk membentuk Yusuf menjadi pribadi yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Keistimewaan Yusuf sebagai orang pilihan Allah tidak membuatnya bebas dari tempaan. Justru karena ia dipanggil untuk sebuah rencana istimewa bagi keluarga dan bangsanya, proses pembentukan karakternya pun berlangsung sulit. Ibarat emas yang harus dibakar dalam derajat panas api yang tinggi untuk mendapatkan hasilnya yang murni. Karenanya kisah Yusuf memberi pencerahan kepada kita ketika menghadapi persoalan hidup. Jangan menyerah oleh berbagai keadaan sulit, sebab setiap kesulitan adalah cambuk yang akan membawa kita semakin dekat pada masa depan yang Tuhan rancang bagi kita.

Seperti apa sifat dan karakter seorang Yusuf? Mengapa ia mendapat kasih sayang ayahnya melebihi saudaranya yang lain? Ayat 12 ? 36 menjelaskan bahwa Yusuf adalah anak yang taat. Ketika Yakub menyuruhnya pergi melihat saudara-saudaranya yang tengah menggembalakan kambing domba, ia menjawab, "Ya bapa". Padahal, saat itu ia belum mengetahui apa yang menjadi tugasnya nanti. Respons tersebut adalah tanda ketaatan kepada orang tuanya.

Yusuf juga adalah seorang yang penuh kasih, khususnya kepada para saudaranya. Ini tampak ketika ia tidak menemui mereka di tempat yang dimaksud, Yusuf tidak langsung berbalik pulang. Ia mondar-mandir dulu mencari mereka (Kejadian 37:15), sampai didapatinya saudara-saudaranya itu di Dotan yang berjarak sekitar 30 kilometer ke arah Selatan dari kota Sikhem. Sungguh sebuah perjalanan yang sangat jauh hanya untuk melihat keadaan saudara-saudaranya saja, tetapi itu pun dilakukannya.

Ironisnya, setelah susah payah Yusuf menemukan saudara-saudaranya itu, mereka malah menyusun rencana untuk membunuhnya. Ruben dan Yehuda sempat membela Yusuf dengan mengusulkan cara lain selain membunuh. Usul keduanya diterima oleh yang lain. Akhirnya, Yusuf dijual kepada orang Ismael, dan anak-anak Yakub membohongi ayah mereka soal Yusuf (Kejadian 37:31-32).

Menariknya, pasal ini tidak ditutup dengan tangis perkabungan Yakub, melainkan perjalanan keadaan Yusuf yang semakin dekat dengan kerajaan Mesir. Ini menandakan bahwa jalan hidupnya tidak berakhir oleh karena kejahatan saudara-saudaranya. Justru melalui kejahatan itu, Yusuf sampai pada pintu gerbang masa depannya.

Hal yang dapat diteladani dari kisah Yusuf ini adalah tetap memiliki ketaatan kepada Tuhan dan selalu berusaha mempraktikkan cinta kasih kepada sesama, sekalipun mereka berbuat jahat kepada kita. Seperti kata Paulus, "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!" (Rm. 12:21), sehingga jalan Tuhan tetap terbuka di tengah-tengah kesulitan kita.

Kesimpulan
Iri hati adalah kebusukan bagi jiwa dan membenci hal-hal unggul dan mulia yang tidak dapat diraihnya. “Kebencian menimbulkan pertengkaran” dan terus akan begitu, hanya akan berhenti pada pembunuhan.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)