Kej 41 (MAD2T*21 Juli*Tahun 1)
Kejadian 41
Penjelasan Singkat
Mimpi Firaun
Isi Pasal
Mimpi Firaun. Diangkatnya Yusuf di Mesir dan istri bukan Yahudinya.
Judul Perikop
Mimpi Firaun (41:1-36)
Yusuf di Mesir sebagai penguasa (41:37-57)
Tafsiran: Adakalanya Tuhan ingin mengajar kita untuk bersabar dalam menantikan waktu yang ditetapkan-Nya untuk memberikan berkat kepada kita. Yang kita butuhkan adalah kepercayaan penuh kepada Dia, ketika segala sesuatu dalam hidup kita berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
Fakta bahwa Yusuf pernah menafsirkan mimpi kepala juru minuman dan kepala juru roti menunjukkan bahwa Allah telah berbicara kepada Yusuf. Dapatkah Anda bayangkan perasaan Yusuf ketika itu? Tentu ia senang ketika Allah berbicara dan memberi arti mimpi masing-masing pegawai Firaun. Sangatlah normal jika Yusuf berharap bahwa hal itu akan membuka jalan keluar bagi dirinya yang sedang di penjara. Namun yang terjadi, Yusuf dilupakan oleh orang yang telah ia tolong. Dua tahun lamanya Yusuf dilupakan. Dua tahun lamanya Yusuf memiliki waktu untuk merenungkan mengapa Tuhan seakan-akan meninggalkan dia. Namun Yusuf tetap sabar, ia tidak menjadi marah dan kecewa pada Tuhan.
Dalam penentuan Tuhan, masa dua tahun yang seolah tanpa hasil, ternyata membawa dia untuk menghadap Firaun.
Kepercayaan Yusuf pada Tuhan teruji melalui cara ia menjawab pertanyaan Firaun mengenai kehebatan yang ia miliki. Tanpa ragu, Yusuf mengedepankan pertolongan Tuhan dan bukan menyombongkan dirinya. Ini menunjukkan bahwa Yusuf tidak marah dan tidak kecewa kepada Tuhan. Yusuf tetap setia, tetap percaya dan tetap bersandar pada Tuhannya.
Bagaimana dengan kita sendiri? Ketika Tuhan seolah diam dan tidak menjawab doa kita, apakah kita juga mampu bersikap seperti Yusuf yang tidak menjadi kecewa pada Tuhan? Adakah kita mampu merendahkan diri dan mengakui kekuasaan serta berkat Tuhan di dalam hidup kita sebagai ganti dari keinginan hati untuk dikenal sebagai pribadi yang hebat? Tetaplah percaya kepada Tuhan sebab Ia tahu apa yang harus diperbuat dan kapan harus melaksanakan rencana-Nya tersebut. Yang kita butuhkan adalah belajar untuk tetap percaya dan tidak menjadi kecewa, bahkan di dalam saat-saat ketika Tuhan seolah diam.
Kekayaan dan kekuasaan sering membuat orang lupa kepada Allah yang merupakan sumber kekayaan, kuasa, dan hikmat. Sebagai orang yang paling berkuasa dan paling kaya di Mesir, Firaun tidak membayangkan bahwa mimpi yang ia alami ternyata membuat dirinya ketakutan dan khawatir, apalagi setelah ia mendapati bahwa tidak seorang pun dapat mengartikan mimpi tersebut.
Pengalaman Yusuf dalam menafsirkan mimpi juru minuman telah membawa dirinya bertemu orang paling berkuasa di Mesir. Melalui penjelasan Yusuf, Firaun bukan saja mendapat jalan keluar dari kekhawatirannya, tetapi juga mendapat kesempatan untuk mengenal Allah yang disembah oleh Yusuf. Melalui hikmat Tuhan kepada Yusuf, Firaun bukan saja mengetahui apa yang akan terjadi dengan kerajaannya, tetapi juga mengetahui apa yang harus dilakukan agar bahaya kelaparan tidak menghancurkan negerinya. Yusuf bukan saja telah menolong Firaun untuk melihat apa yang akan terjadi di masa mendatang, tetapi ia juga menolong Firaun untuk mengambil langkah-langkah yang tepat dan segera di masa sekarang. Sungguh ironis, bahwa orang yang paling berkuasa di Mesir harus meminta nasihat dari seorang tahanan. Namun jika ada Allah yang mengatur semua itu, maka segalanya mungkin.
Dari peristiwa ini kita belajar bahwa melalui kuasa dan hikmat-Nya, Allah dapat menjalankan rencana-Nya secara sempurna. Sekalipun kondisi Yusuf sangat jauh di bawah keadaan yang normal, namun Tuhan dapat mengubah kehidupan Yusuf secara seketika. Dari seorang tahanan di Mesir, menjadi seorang paling berkuasa setelah Firaun tidaklah mungkin terjadi tanpa pertolongan Tuhan.
Tidak jarang kehidupan kita pun seolah terperosok begitu dalam hingga kita sulit melihat jalan keluar dari keadaan tersebut. Tetapi lihatlah bagaimana Tuhan dapat mengubah hidup Yusuf secara luar biasa. Sebagaimana Yusuf bergantung pada hikmat Tuhan, kita pun harus bergantung pada-Nya. Sebagaimana kuasa Tuhan telah mengubah Yusuf, kuasa yang sama itu juga mampu meluputkan kita.
Faktor apa yang menjadi penentu layak tidaknya seseorang memasuki peran Ilahi bagi hidupnya? Faktor apa yang mendorong semua pihak mengakui bahwa sudah waktunya seseorang mengemban peran Ilahi lebih besar?
Firaun mengakui dua hal tentang Yusuf. Pertama, kesanggupannya mengartikan mimpi Firaun. Kedua, nasihat bijaknya agar Firaun mengangkat seseorang untuk menjalankan berbagai kebijakan ekonomi dan logistik. Akal budi dan kebijaksanaan Yusuf sangat memengaruhi pertimbangan Firaun untuk mengangkat Yusuf menjadi penguasa yang diusulkan Yusuf sendiri. Sepanjang sejarah dunia kita melihat bagaimana peradaban manusia mengalami peningkatan yang sangat berarti diakibatkan oleh pendidikan yang baik. Namun kepandaian dan pengetahuan tidak identik dengan akal budi dan kebijaksanaan. Pendidikan juga tidak otomatis menjamin orang pandai identik dengan orang berhikmat.
Ada faktor penentu di balik kedua hal itu yang akhirnya membuat Firaun mantap untuk mengangkat Yusuf menjadi orang kedua sesudah dia: "Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?" (Kejadian 41:38). Sungguh mencengangkan bahwa dari bibir mulut seorang kafir keluar pengakuan demikian tentang orang kepunyaan Allah. Karya dan kehadiran Roh Allah sedemikian cemerlang sampai orang yang menyaksikannya dapat dengan tepat menyimpulkan dari mana sumber semua itu. (bdk. pengakuan Nebukadnezar tentang Daniel dkk.).
Alangkah beda kriteria orang zaman ini tentang bagaimana orang dapat mendaki jenjang pengaruh dan kepemimpinan. Kebanyakan dilakukan dengan menggunakan daya tarik uang, atraksi artis, atau kepandaian melobi. Tidak heran bila kepemimpinan dunia makin terpuruk! Jika umat Tuhan meniru strategi dunia, gereja akan ikut hancur bersama kehancuran dunia! Kuasa sebesar dan semulia yang harus diemban para pemimpin hanya sanggup dan layak dipikul oleh mereka yang telah ditempa dan dikuasai oleh Roh Allah!