Kej 43 (MAD2T*23 Juli* Tahun 1)
Kejadian 43
Penjelasan Singkat
Yusuf menjamu saudara-saudaranya
Isi Pasal
Kedatangan kedua saudara-saudara Yusuf ke Mesir karena mereka butuh.
Judul Perikop
Saudara-saudara Yusuf pergi ke Mesir untuk kedua kalinya (43:1-34)
Tafsiran: Terasa sekali kalau telah terjadi suatu perubahan karakter dalam diri Yehuda, khususnya dalam hal tanggung jawabnya atas keluarga. Yehuda bersedia untuk menjamin keselamatan Benyamin dan untuk itu ia berani menanggung dosa bila terjadi sesuatu atas diri Benyamin selama dalam perjalanan ke Mesir (Kejadian 43:9).
Sikap Yehuda dalam nas ini berbeda sekali bila dibandingkan dengan narasi-narasi sebelumnya. Kejadian 37:26-28 memberitahu kita bahwa Yehudalah yang menyarankan saudara-saudaranya untuk menjual Yusuf kepada orang Ismael. Ia pula yang secara tidak sadar berzina dengan Tamar menantunya sendiri (Kej. 38: 12-19). Perzinaan ini dipicu dari ketidakrelaan Yehuda untuk memberikan anaknya Syela sebagai suami bagi Tamar sebagai ganti kakaknya yang telah meninggal, yaitu Syua. Dari perzinaannya dengan Tamar, Yehuda memperoleh anak kembar yaitu Peres dan Zerah (Kej. 38:27-30).
Alkitab tidak mencatat dengan jelas kapan, di mana, dan bagaimana Yehuda mengalami "kelahiran baru". Kemungkinan besar pengalamannya dengan Tamar telah mengajarkan beberapa pelajaran (Kej. 38). Yehuda menjadi lebih bertanggung jawab terhadap hal-hal yang berhubungan dengan keluarganya. Perubahan karakter inilah yang memampukan dia untuk bertanggung jawab atas keselamatan Benyamin. Allah telah menyiapkan Yehuda melalui tekanan, tantangan, dan kesulitan sehingga nantinya ia menjadi nenek moyang dari raja-raja besar, bahkan Mesias lahir dari garis keturunan Yehuda.
Karakter seseorang memang dibentuk melalui proses yang terjadi dalam sepanjang hidupnya. Kita sendiri mungkin tidak nyaman ketika mengalami proses tersebut. Sebab proses itu dapat berupa tekanan dan tantangan hidup yang harus dihadapi atau dapat pula melalui kesulitan-kesulitan yang kita temui dalam kehidupan kita. Proses yang Allah izinkan terjadi atas Yehuda, dapat terjadi pula di dalam hidup kita agar rencana Allah digenapi. Maukah Anda juga dibentuk dan dibarui oleh Allah?
Sudah belasan tahun, Yusuf dan adiknya, Benyamin, terpisah. Kemungkinan besar Benyamin masih kanak-kanak ketika Yusuf dijual ke Mesir (Kej. 37:27-28). Dan kini ia begitu ingin memastikan bahwa adiknya berada dalam kondisi sehat walafiat. Keinginan Yusuf sangat wajar mengingat dia dan Benyamin memiliki ibu kandung yang sama, Rahel. Ia tidak ingin saudaranya seibu itu mengalami nasib seperti dia, dijual kepada para pedagang dari Midian untuk menjadi budak. Jadi karena itulah ia memaksa saudara-saudaranya dari lain ibu untuk membawa adiknya ke Mesir.
Yusuf sangat terharu hatinya dan merindukan adiknya. Ia menangis ketika melihat Benyamin adiknya dalam kondisi segar bugar tanpa kekurangan apa pun, sehingga ia perlu untuk meninggalkan ruangan agar dapat melampiaskan emosinya (Kejadian 43:29-30). Yusuf bahkan memperlakukan Benyamin secara istimewa dalam pesta yang diadakan untuk menyambut kedatangannya. Ia memberikan hidangan untuk Benyamin lima kali lebih banyak dibanding saudara-saudaranya yang lain.
Kelembutan hati Yusuf dan perhatian kepada saudara-saudaranya merupakan hasil kasih karunia Allah. Tidaklah mudah bagi Yusuf untuk mempertahankan imannya sebab selama bertahun-tahun ia hidup di Mesir. Di Mesir ia dikelilingi oleh dewa-dewa yang mati dan penyembahan berhala yang sia-sia. Dia bisa saja terpengaruh oleh cara hidup dan kepercayaan orang Mesir. Bisa saja dia mengeraskan hatinya dengan menyimpan dendam terhadap saudaranya. Namun Yusuf memilih untuk tidak melakukan hal itu. Sikap Yusuf benar-benar menunjukkan sikap seorang yang telah dewasa kerohaniannya serta penuh hikmat dari Allah.
Ketika kita hidup di tengah-tengah orang yang tidak percaya, masih mampukah kita mempertahankan iman kepada Allah yang sejati? Ketika kita diperlakukan jahat, masih mampukah kita memelihara kasih karunia di dalam hati kita?
Biarlah Tuhan membentuk kerohanian kita seperti Tuhan telah membentuk Yusuf agar kita pun dapat mempertahankan iman dan mampu menunjukkan kasih kepada sesama kita.