Kej 47 (MAD2T*27 Juli*Tahun 1)
Kejadian 47
Penjelasan Singkat
Yusuf memperkenalkan saudara-saudaranya
Isi Pasal
Yakub dan keturunannya ditinggikan di Gosyen.
Judul Perikop
Yakub dan Firaun (47:1-12)
Tindakan Yusuf (47:13-26)
Yakub pada akhir hidupnya (47:27-31)
Tafsiran: Sejak awal hidup Yusuf terlihat paparan kemuliaan dalam hidupnya. Ketika mengurusi keluarga asalnya, satu persatu kemuliaan dirinya terperaga indah. Menakjubkan, seorang yang berasal dari kaum gembala, melalui tempaan berat sampai jadi budak dan terpenjara, memperlihatkan ini:
Pertama, ia melaporkan kedatangan keluarga asalnya itu kepada Firaun. Memang Yusuf adalah orang kepercayaan Firaun, tetapi ia juga bawahan Firaun. Ia minta izin untuk keluarga asalnya itu tinggal di Mesir.
Kedua, Yusuf memperkenalkan para saudaranya kepada Firaun. Tindakan ini menunjukkan pengampunannya terhadap mereka. Tak ada dendam dalam hati Yusuf. Seperti Kristus memperhitungkan kita yang berdosa di dalam Dia, demikian Yusuf memperlakukan mereka sebagai saudara, tanpa keterangan buruk masa lalu mereka. Karena hal ini, saudaranya mendapat pekerjaan menjadi gembala ternak Firaun.
Ketiga, sesudah memperoleh perkenan Firaun untuk keluarganya tinggal di Gosyen, Yusuf membawa Yakub, ayahnya. Luar biasa tindakan Yusuf! Firaun ia perlakukan sebagai raja, penguasa dunia waktu itu. Kini ia memperlakukan Yakub, ayahnya, sebagai wali yang melaluinya berkat-berkat Allah dialirkan. Ia meminta agar Yakub memberkati Firaun. Firaun adalah raja dunia, tetapi Yakub adalah orang pilihan Allah yang melaluinya berkat-berkat Allah mengalir untuk dunia ini. Yusuf menempatkan kuasa dunia di bawah kuasa Ilahi.
Pernyataan Yakub untuk Firaun mengandung nubuat penting bagi Firaun, juga bagi kita. Ia menyebut perjalanan hidupnya sebagai "hari-hari, " yang menegaskan kesementaraan hidup. Bagi Yakub, hidup di dunia adalah "pengembaraan" sebab kita semua seharusnya fokus pada sasaran hidup berjumpa Pencipta dan Penyelamat kita. Ia menyebut bahwa dibanding bapa leluhur lain, hidupnya penuh penderitaan.
Tuhan memang tidak menawarkan hidup yang mulus dan penuh kemudahan, melainkan hidup yang membuat orang belajar untuk bergantung dan menantikan Tuhan.
Peran apa yang dijalankan orang yang menjadi alat penyelamatan hingga keselamatan bisa dicicipi orang banyak?
Waktu menafsirkan mimpi Firaun, Yusuf memberi petunjuk agar hasil dalam tujuh tahun kelimpahan tidak dihabiskan, tetapi disimpan untuk mengantisipasi tujuh tahun kekeringan. Sebagai wakil Firaun, Yusuf telah melaksanakan petunjuk Ilahi yang ia sampaikan sehingga perbendaharaan Mesir tak sampai terguncang oleh krisis. Sayang rakyat Mesir tidak mengikuti petunjuk dan teladan Yusuf. Akibatnya secara bertahap mereka mengalami pukulan dahsyat kelaparan.
Rakyat Mesir yang mengabaikan petunjuk dan teladan Yusuf harus membayar harga sangat mahal. Tak satu pun dapat luput dari malapetaka. Semua mengalami kekeringan, kemiskinan, dan kelaparan. Yusuf kini memegang kunci keselamatan. Orang harus datang kepada dia menurut semua ketetapannya agar luput dari bencana. Mereka mendapat makanan yang menyambung hidup mereka dari Yusuf dengan jalan menukar dengan semua yang mereka miliki. Pertama dengan uang, sesudah uang habis dengan ternak, lalu sesudah tak ada lagi ternak akhirnya dengan tanah mereka. Sampai akhirnya seluruh rakyat dan segenap tanah Mesir menjadi milik Firaun; nota bene semua di bawah kuasa Yusuf!
Apakah tindakan Yusuf merupakan pemerasan berselubung tindakan penyelamatan? Sesungguhnya uang, ternak, dan tanah sudah tak bernilai. Uang tak dapat dipakai membeli apa pun saat itu. Ternak bukan lagi komoditi, tetapi beban yang malah mengancam hidup pemiliknya. Tanah pun tak lagi berguna karena tak bisa menghasilkan apa pun. Dengan kata lain, mereka membayar penyelamatan yang Yusuf berikan dengan sesuatu yang sama sekali tidak bernilai!
Bukankah penyelamatan oleh Yusuf ini mencerminkan penyelamatan yang kita peroleh dari Yesus? Ia memberikan segala-galanya untuk keselamatan kita. Kita hanya menukar dengan memercayakan seluruh hidup yang telah gagal dan hancur ini ke bawah kepemilikan dan pengaturan-Nya.
Setelah melalui pergulatan hidup yang panjang (Kej. 47:9), tibalah saatnya bagi Yakub untuk meninggalkan pesan terakhir. Keturunan Yakub untuk sementara hidup aman dan sentosa di tanah asing (Kejadian 47:27). Hingga menjelang ajalnya, Yakub diberi gambaran mengenai penggenapan janji Tuhan bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar (Kej. 28:3; 35:11). Selama tujuh belas tahun ia masih hidup menyaksikan perkembangan yang membesarkan hati ini.
Hanya saja, semuanya ini terjadi di tanah asing! Setelah melalui tahun-tahun pengembaraan yang "buruk adanya" (Kejadian 47:9), janji Tuhan mengenai tanah yang akan diberikan sebagai milik keturunan Abraham belum menjadi kenyataan (Kej. 15:7). Bagaimana sikap Yakub selaku pewaris janji Tuhan menghadapi kenyataan ini? Menjelang ajalnya, ia meminta Yusuf mengikat diri dengan sumpah kepadanya (Kejadian 47:29).
Yakub sadar ajalnya kian mendekat dan hal terbaik yang dapat ia lakukan adalah menatap ke depan kepada janji Allah yang akan memberi tanah Kanaan kepada keturunan Abraham. Dalam pesan terakhirnya, Yakub meminta Yusuf untuk membawanya "keluar" dari Mesir. Pesan ini mengingatkan anak cucu Israel untuk tetap mengingat janji Tuhan kepada leluhur mereka.
Bagi Yusuf sendiri dapat dikatakan, ia boleh saja menikmati jabatan sedemikian tinggi di Mesir, tetapi Mesir bukanlah tujuan terakhir. Mesir buat sementara memang menjanjikan keselamatan dari kelaparan, tetapi Mesir bukanlah negeri perjanjian itu sendiri.
Dari akhir hidup Yakub, kita kembali belajar mengenai pentingnya pengharapan. Pengharapan berarti kita bersiteguh dalam keyakinan kita akan apa yang belum terlihat dan terwujud. Kita memiliki dasar yang teguh untuk itu, sebab yang kita nantikan ialah penggenapan janji Tuhan. Kepada umat Israel dahulu dan juga kepada kita sekarang yang menantikan Tanah Perjanjian abadi (Flp. 3:20). Dan sebagaimana Allah setia menggenapi janjinya pada Israel, Allah juga setia menggenapi janjinya pada kita.