Kej 49 (MAD2T*29 Juli*Tahun 1)
Kejadian 49
Penjelasan Singkat
Yakub memberkati anak-anaknya
Isi Pasal
Berkat Yakub yang penghabisan, nubuatan tentang suku-suku Israel.
Judul Perikop
Perkataan Yakub yang penghabisan kepada anak-anaknya (49:1-28)
Yakub meninggal dan dikuburkan (49:29--50:14)
Tafsiran: Sudah beberapa kali disebutkan bahwa kematian Yakub telah mendekat. Namun, proses menjelang ajal ini dituturkan dengan cara yang agak mengulur. Jika dalam bagian sebelumnya Yusuf dan keturunannya yang menjadi perhatian, sebagai kelanjutannya Kejadian 49:1-28 menggambarkan seluruh anak Israel mendapat wasiat berupa berkat, teguran, dan nubuat menyangkut pengalaman dan hidup yang akan mereka alami. Maka bacaan kita hari ini memuat pesan-pesan yang ditujukan kepada ketiga putra Yakub yang pertama.
Secara kronologis, Ruben adalah putra Yakub yang pertama dari Lea (Kej. 29:32). Menurut adat Semitik kuno, dialah yang berhak mendapat kehormatan dan hak istimewa dalam warisan (bdk. Ul. 21:15-17). Namun seperti yang terjadi pada Esau, hak kesulungan ini dapat berpindah kepada adiknya (Kej. 25:29-34). Dalam kasus Ruben, hak itu hilang karena tidur dengan ibu tirinya -Bilha- hamba Rahel (Kej. 35:22). Bagaikan air yang berbual-bual tak terbendung, hawa nafsu Ruben menjerumuskannya ke tindakan yang mencemari kekudusan ranjang ayahnya (4; bdk. 1Taw. 5:1). Karena perbuatan itu, maka hak kesulungannya berpindah.
Simeon dan Lewi, yang juga dilahirkan dari Lea, sama-sama memiliki watak keras dan bengis (5, 7). Dengan licik dan kejam mereka membantai laki-laki kota Sikhem sebagai pembalasan atas pemerkosaan yang dilakukan warga Sikhem terhadap Dina, saudara mereka (Kej. 34:25-29; bdk. 49:6). Akibatnya, kedua suku ini kelak terserak di antara suku-suku Israel lainnya. Suku Lewi akan melayani sebagai imam-imam (bdk. Ul. 10:8-9), sedangkan suku Simeon terserap ke dalam suku Yehuda dan hanya memperoleh tanah pusaka di tengah-tengah milik pusaka Yehuda (bdk. Yos. 19:1).
Seperti yang kita pelajari dari hidup Ruben, berkat kepada umat Tuhan bukanlah hak alami yang tak terbatalkan. Lagi pula, seperti wasiat terakhir Yakub dalam bacaan kita, adakalanya teguran dan peringatan keras justru merupakan warisan yang amat berharga demi pembelajaran bagi kita dan generasi mendatang.
Berbeda dengan nada peringatan keras yang terdengar dalam pesan terakhir Yakub kepada Ruben, Simeon, dan Lewi, kita mendengar nada sebaliknya dalam wasiat kepada Yehuda. Menggantikan kedudukan ketiga saudaranya itu, Yehuda menjadi yang terkemuka di antara anak-anak Israel. Sekalipun tanpa hak kesulungan, Yehuda akan memimpin keturunan ayahnya. Serupa dengan pengalaman Yusuf (Kej. 37:7-10), saudara-saudara Yehuda akan sujud kepadanya (Kejadian 49:8).
Yehuda digambarkan sebagai singa yang menggentarkan hati para lawannya (Kejadian 49:9). Dialah yang akan memegang tongkat kepemimpinan bukan saja atas bangsanya sendiri, tetapi juga atas bangsa-bangsa (Kejadian 49:10). Di bawah kepemimpinan Yehuda, negeri mereka akan berlimpah anggur dan susu, gambaran mengenai kesejahteraan dan kemakmuran yang luar biasa (Kejadian 49:11-12). Gambaran-gambaran yang diberikan di sini tidak perlu dimengerti secara harfiah. "Mata yang merah karena anggur" (Kejadian 49:12) tidak berarti bahwa mabuk anggur merupakan ciri kemakmuran. Maksudnya hanyalah untuk menggambarkan kelimpahan anggur dalam negeri itu di kemudian hari.
Sebenarnya berkat yang diungkapkan Yakub mengenai Yehuda ini pernah digenapi pada masa kejayaan Israel di bawah pemerintahan Raja Daud. Israel begitu makmur dan berkuasa di antara bangsa lain. Namun, penggenapan itu masih belum merupakan penggenapan yang bersifat sepenuhnya. Sebab penggenapan yang sesungguhnya hanya ada di dalam diri Yesus Kristus. Umat pengikut Kristus di kemudian hari memahami penggenapannya yang penuh dalam kedatangan Mesias. Dialah "singa dari suku Yehuda" (Why. 5:5) yang telah menang atas Iblis dan maut. Melampaui kelimpahan anggur dan susu yang fana, Kristus yang telah menang itu menjanjikan buah pohon kehidupan bagi semua yang menang bersama Dia (Why. 2:7). Berkat Yakub dalam wasiat terakhirnya benar-benar melampaui batas suku Yehuda. Kini berkat itu ditawarkan kepada kita yang bersedia menanggapi undangan Yesus Kristus, Sang Singa dari Yehuda.
Bacaan hari ini berbicara tentang berkat kepada keturunan Yakub dari Lea (Zebulon, Isakhar), Zilpa -hamba Lea- (Gad, Asyer), serta Bilha -hamba Rahel- (Dan, Naftali). Masing-masing mendapat berkat yang berlainan sebagaimana watak mereka yang berbeda pula.
Apa yang dikatakan tentang para leluhur Israel ini terwujud dalam situasi kehidupan suku-suku Israel kemudian. Wilayah suku Zebulon terletak dekat pantai Laut Tengah, cocok sebagai pelabuhan (Kejadian 49:13). Isakhar dibandingkan dengan keledai beban yang kuat, yang menundukkan bahunya untuk memikul beban (Kejadian 49:14). Boleh jadi, gambaran ini berbicara tentang kehidupan suku Isakhar yang memilih untuk menghamba kepada suku atau bangsa lain. Nama Dan, yang seakar dengan kata kerja "d?n" ('mengadili'), akan berperan dalam peradilan (Kejadian 49:16; Kej. 30:6). Simson, salah seorang "hakim" terkenal, adalah orang Dan (Hak. 13). Suku ini digambarkan sebagai ular yang menyerang secara diam-diam, seperti yang dilakukan terhadap Lais (Hak. 18:1-2, 27-29). Keturunan Gad kelak berdiam di sebelah timur Sungai Yordan, daerah yang mudah diserang oleh Moab (Yos. 13:24-28; 2Raj. 3:4-5). Suku Asyer, seperti yang dinubuatkan, kelak tinggal di daerah yang subur (Kejadian 49:20). Gambaran rusa yang terlepas mengenai Naftali agaknya menunjuk kepada watak suku ini yang senang kebebasan (Kejadian 49:21).
Hubungan antara gambaran yang diberikan dan kenyataan hidup masing-masing suku keturunan leluhur Israel memperlihatkan bahwa masing-masing mereka memiliki peluang dan tantangan sesuai dengan watak dan perilakunya.
Menariknya, di tengah-tengah wasiat Yakub terselip seruan akan keselamatan dari Tuhan (Kejadian 49:18). Ada yang berpendapat, seruan ini "mengganggu" alur pesannya. Namun, kita dapat memaknai seruan itu sebagai sebuah doa di tengah-tengah segala tantangan hidup yang telah dilihat oleh Yakub bahkan sebelum hal itu terjadi. Bukankah seruan seperti ini yang perlu kita ungkapkan kepada Tuhan ketika menatap ke hari depan yang penuh tantangan bagi kita dan anak cucu kita?
Tentang wasiat Yakub kepada kedua putra Rahel, Yusuf dan Benyamin, kita lihat bahwa pesan untuk Yusuf lebih banyak dan positif ketimbang Benyamin. Secara singkat dapat dicatat, Benyamin dibandingkan dengan serigala yang menerkam (Kejadian 49:27). Gambaran ini cocok untuk suku Benyamin yang dikenal kelak sebagai pejuang yang ganas (Hak. 12:30; 19-21).
Yusuf sebagai "orang yang teristimewa di antara saudara-saudaranya" (Kejadian 49:26) menerima berkat yang khusus dari ayahnya. Ia dibandingkan dengan pohon buah-buahan muda yang tumbuh subur (Kejadian 49:22), yang menerima kelimpahan air dari atas dan bawah (Kejadian 49:25). Sungguh luar biasa berkat yang diterima Yusuf dalam wasiat Yakub tersebut.
Namun, kehidupan dan berkat yang berlimpah seperti itu tidaklah menjadikan kehidupan Yusuf dan keturunannya terbebas dari tantangan. Kekayaan yang dinikmati oleh Yusuf dan keturunannya pada gilirannya akan menyulut kecemburuan dan permusuhan dari lawan-lawannya. Inilah yang digambarkan sebagai para pemanah yang menyerangnya (Kejadian 49:23).
Kelak keturunan Yusuf berperan penting dalam kehidupan suku-suku Israel di tanah Kanaan. Yosua, tokoh yang memimpin Israel masuk ke Kanaan dan membagi-bagi tanah itu di antara suku-suku Israel adalah seorang Efraim. Samuel bin Elkana, yang mengurapi Saul dan Daud, juga berasal dari suku Efraim (Kejadian 49:1Sam 1:1).
Segala kelimpahan dan berkat serta kekuatan mengatasi para lawan diyakini bersumber dari Allah yang disebut berulang kali dengan beragam gelar "Yang Mahakuat, pelindung Yakub", "Gunung Batu Israel" dan "Allah Yang Mahakuasa". Keyakinan yang sama kiranya juga mengilhami hidup kita sebagai umat yang diberkati Tuhan. Kehidupan kita pun tidak akan kebal dari tantangan dan kesulitan. Namun, kita pun dapat meyakini bahwa Allah yang melindungi Yusuf adalah Allah yang juga akan melindungi kita. Dialah sumber berkat dan kekuatan yang sungguh-sungguh dapat diandalkan, baik pada masa kelimpahan maupun pada masa penuh tantangan.
Bagaimana kita memandang kematian? Apakah sebagai akhir atau sesuatu yang melanjutkan hidup yang sudah kita lalui meski dalam cara yang berbeda? Bagaimana kita menyikapi kematian? Ini bukan pertanyaan yang akan diterima dengan nyaman oleh kebanyakan orang. Mengapa? Sebab ada sesuatu yang misterius tentang apa yang terjadi dalam kematian dan akibatnya sesudah itu yang kita tidak tahu, di luar kendali kita, dan bersifat final. Itu sebabnya kita gelisah bahkan takut. Namun ada orang yang dapat menatap bahkan mempersiapkan kematian serta penguburannya dengan penuh keyakinan. Yakub termasuk orang yang demikian.
Ketika ia mengumpulkan anak-anaknya dan memberikan nubuat berkat, intinya ia menyiapkan perpisahan dirinya dari mereka. Berulang kali ia meminta dan memastikan berbagai hal sehubungan dengan penguburannya. Dan seperti cara kematian Abraham, ia pun meninggal dengan cara yang sangat indah. Ia menarik kakinya, berbaring, lalu pergi.
Oleh karena Yusuf adalah pembesar Mesir, kematian Yakub, ayahnya, mendapat penghormatan dan tata cara penguburan menurut kebudayaan Mesir. Ada persamaan dan perbedaan penting antara perlakuan Mesir dan perlakuan keluarga Israel tentang orang mati. Keduanya sama-sama meyakini adanya hidup kelanjutan dari orang yang sudah mati, seperti yang ditandai oleh pengawetan mayat pada orang Mesir. Pada keluarga bapak leluhur tidak diadakan pengawetan mayat, tetapi ungkapan "dikumpulkan bersama Abraham, Sara, Ishak, Ribka, Lea..." menunjukkan bahwa ada sesuatu yang berlanjut di antara mereka.
Demikianlah kita seharusnya memandang kematian, yaitu sebagai permulaan dari kekekalan yang indah dan bukan sekadar akhir dari kehidupan yang fana. Keindahan kekekalan itu dapat kita nikmati bila kita berada dalam hubungan yang benar dengan Allah, oleh iman kepada Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Kematian akan mempertemukan kita dengan Allah dan orang-orang beriman yang sudah mendahului kita.