Kel 16 (MAD2T*Mlm*07 Ogos*Tahun 1)
Keluaran 16
Penjelasan Singkat
Manna dan burung puyuh didatangkan
Isi Pasal
Sungut-sungut umat. Manna dan burung puyuh diberi oleh Allah.
Judul Perikop
Manna, Sabat (16:1-36)
Tafsiran: Bagaimana agar kita tidak kehilangan sukacita dan damai sejahtera saat krisis menerpa hidup dan masa depan seakan gelap? Mungkin kita tengah mengalami krisis keuangan atau ancaman PHK di ambang pintu? Dalam saat krisis seperti itu, berpalinglah kepada Tuhan dan ingatlah kebaikan yang pernah Dia nyatakan dalam Alkitab dan yang juga telah Dia nyatakan dalam hidup Anda.
Mengapa umat Israel mudah sekali bersungut-sungut tatkala menghadapi sedikit situasi yang tidak mengenakkan? Mereka lupa bahwa Tuhan telah sejak permulaan menyatakan pertolongan-Nya dengan tak henti-henti. Baik pertolongan yang menyelamatkan mereka dari rongrongan musuh, maupun dari kehausan dan kelaparan (Kel. 15:22-27). Syukur bahwa Allah Israel adalah Allah yang panjang sabar. Walau Musa bisa bosan dan merasa dibebani dengan sungut-sungut umat (ayat 6-8), Allah tetap menyatakan kasih dan kepedulian-Nya. Ia memberikan dengan limpah apa yang mereka butuhkan. Baik manna di pagi hari maupun daging di sore hari (ayat 12). Tentu agar mereka mendapatkan dan menikmati berkat Tuhan tersebut, ada yang mereka perlu taati dari Tuhan. Pertama, bangun pagi-pagi dan memungut manna untuk makanan mereka setiap hari. Kedua, tidak rakus melainkan mengambil secukupnya sesuai kebutuhan masing-masing keluarga. Ini senada dengan isi doa yang diajarkan Yesus, "Berikanlah kami pada hari ini, makanan kami yang secukupnya." (Mat. 6:11). Ketiga, percaya kepada Tuhan yang dengan ajaib akan memberkati hari keenam sehingga manna yang mereka ambil hari itu akan cukup untuk hari itu dan hari Sabat (ayat 5). Ketidaktaatan pada pengaturan Tuhan membuat berkat berubah menjadi kutuk (ayat 20).
Respons apa yang sepatutnya kita berikan kepada Tuhan yang penuh kemurahan? Jangan bersungut-sungut melainkan naikkan syukur dengan sepenuh hati. Taati petunjuk firman-Nya agar kita dapat menyaksikan karya Tuhan yang luar biasa dan yang akan mencukupkan segala kebutuhan kita.
Mengapa ada orang Kristen yang sulit menyediakan waktu untuk beribadah? Karena ibadah tidak dianggap sebagai prioritas. Yang terpikir hanyalah kerja, kerja, dan kerja. Seolah ibadah merupakan pemborosan waktu, padahal waktu adalah uang.
Tuhan sudah memerintahkan Israel untuk mengumpulkan manna dua kali lipat di hari keenam karena di hari ketujuh manna tidak akan turun. Ternyata di antara umat Israel masih ada yang keluar untuk mencari manna pada hari Sabat (ayat 27). Mengapa demikian? Berarti ada umat yang tidak percaya pada penetapan Tuhan sehingga mencoba mengatur hidup dengan cara mereka sendiri. Mereka kecele karena ternyata manna tidak diturunkan pada hari Sabat. Mereka belum memahami makna merayakan dan menguduskan Sabat. Padahal Tuhan memberikan Sabat agar umat Israel dapat beristirahat memulihkan kekuatan mereka dan dapat bersekutu dengan Tuhan dalam ibadah mereka. Melalui semua itu kekuatan mereka akan dipulihkan. Mereka juga akan memperoleh pedoman firman Tuhan yang memberkati hidup mereka setiap hari. Sebagai tanda bahwa berkat dan pemeliharaan Tuhan itu langgeng, secara simbolis satu buli-buli berisi satu gomer manna disimpan di hadapan tabut perjanjian (ayat 32-34). Manna yang secara ajaib tidak busuk maupun rusak merupakan lambang berkat Tuhan yang tak pernah mubazir. Secara faktual, Tuhan memelihara umat Israel selama 40 tahun perjalanan mereka di padang gurun (ayat 35). Sungguh Tuhan tahu memelihara umat-Nya dan sudah terbukti bahwa pemeliharaan-Nya itu dahsyat.
Kita perlu memelihara disiplin ibadah agar poros hidup kita bukan pada yang sementara, tetapi pada Tuhan. Hanya jika hari-hari kegiatan kita bertumpu pada Tuhan, barulah seluruh hidup kita akan bermakna kekal dan kita mampu mengisi hidup kita secara utuh! Karena itu jangan pernah abaikan hari ibadah sebab dari situlah mengalir kekuatan untuk kita menjalani hari-hari kita dengan berkemenangan.