Kel 18 (MAD2T*Mlm*08 Ogos*Tahun 1)
Keluaran 18
Penjelasan Singkat
Musa bertemu dengan istri dan anaknya
Isi Pasal
Musa berkumpul dengan istri dan anak-anaknya. Hakim-hakim dipilih untuk menyelesaikan permasalahan umat.
Judul Perikop
Yitro mengunjungi Musa (18:1-12)
Pengangkatan hakim-hakim (18:13-27)
Tafsiran: Mungkin di antara sanak saudara dan kerabat kita, ada yang tidak seiman dengan kita. Kita tentu memiliki kerinduan untuk membagikan Kabar Baik tentang Kristus kepada mereka. Namun bagaimana caranya?
Hari ini kita membaca bagaimana Musa memperlakukan mertuanya, yaitu Yitro, yang berkepercayaan lain. Saat Yitro datang mengunjungi Musa membawa serta istri Musa dan kedua anaknya, Musa menghormati Yitro dengan sujud di hadapannya (ayat 7). Padahal Musa saat itu adalah pemimpin bangsa. Sikap rendah hati seperti ini merupakan kesaksian yang baik. Kemudian Musa menceritakan kepada ayah mertuanya, mengenai segala sesuatu yang Tuhan sudah lakukan bagi mereka (ayat 8). Musa berkisah tentang bagaimana Tuhan menunjukkan kasih dan kuasa-Nya dalam menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Musa juga memberi kesaksian bahwa Tuhan sudah menolong dan memimpin mereka dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam per-jalanan di padang gurun. Kesaksian Musa berbuahkan pengakuan dari Yitro bahwa Tuhan Allah Israel lebih besar daripada segala allah (ayat 11). Bukan hanya pengakuan, tetapi Yitro bahkan ikut mempersembahkan kurban bakaran di hadapan Allah Israel, yang kemudian disantap bersama-sama dengan tetua Israel dan Harun (ayat 12). Artinya Yitro diterima di dalam persekutuan umat Tuhan.
Kunci kesaksian yang efektif adalah menceritakan apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidup kita, yaitu pengalaman hidup kita bersama dengan Tuhan. Pengalaman hidup yang dimaksud tidak harus berupa pengalaman supra-natural atau mukjizat atau pengalaman yang luar biasa, tetapi bagaimana Tuhan memelihara dan membimbing kita setiap hari. Mukjizat yang terbesar adalah ketika Tuhan menyelamatkan jiwa kita dan bagaimana Dia mengubah karakter kita sedikit demi sedikit makin menyerupai Tuhan Yesus. Ketika kerabat melihat hidup kita yang berubah, Kristus pun dimuliakan dan mereka pun dimenangkan bagi Dia.
Kadangkala persepsi orang tentang sosok seorang pelayan dicemari konsep dunia tentang pemimpin. Seorang pemimpin tak jarang dianggap pahlawan super sekaligus artis mahaterkenal. Ia diberi berbagai penghargaan, karena dirinya, entah sukarela atau karena terpaksa, mau menanggung semua beban. Akibatnya, pelayanan yang dilakukan nyaris menjadi aksi solo, sedangkan orang lain menjadi figuran atau penonton. Hal ini berdampak negatif, baik pada diri orang tersebut, dan juga pada orang-orang yang dilayani dan yang bekerja sama dengannya.
Yitro mulai mengamati potensi munculnya dampak negatif pada diri Musa, juga pada bangsa Israel (Keluaran 18:18). Apa yang dilakukan Musa saat itu terlalu berat untuk dilakukan seorang diri saja, jika ia harus melayani mereka satu per satu seharian. Orang-orang yang datang mengadu pun akan kepayahan jika harus antri seharian. Karena itu, Yitro memberikan nasihat penting. Pertama, Musa mesti terus menjadi jembatan komunikasi dua arah antara Allah dengan bangsa Israel. Ia harus tetap mewakili Israel di hadapan Allah dan menyampaikan "perkara-perkara" mereka kepada Allah (Keluaran 18:19), juga mengajarkan kepada Israel "ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan" Allah, dan juga "jalan yang harus dijalani, dan pekerjaan yang harus dilakukan" (Keluaran 18:20). Kedua, Musa mesti melakukan pendelegasian dengan mencari orang-orang yang "cakap dan takut akan Allah, ? dapat dipercaya ? dan benci ? suap" (Keluaran 18:21). Merekalah yang akan menangani kasus-kasus yang lebih ringan. Yitro menegaskan bahwa Allah pun "memerintahkan hal itu kepadamu" (Keluaran 18:23).
Pendelegasian seperti ini patut diteladani di dalam pelayanan, khususnya di dalam konteks gereja. Ketika tuntutan pelayanan makin bertambah, sewajarnyalah tugas-tugas tertentu didelegasikan kepada orang-orang yang terpilih, dilatih, dan selalu mengutamakan kehendak Allah (Keluaran 18:20). Dengan demikian, pelayanan di gereja takkan menjadi ajang aksi solo seorang hamba Tuhan tertentu, tetapi persekutuan yang saling melengkapi di dalam Allah Tritunggal.