Kel 19 (MAD2T*Pagi*09 Ogos*Tahun 1)
Keluaran 19
Penjelasan Singkat
Firman TUHAN dari Sinai
Isi Pasal
Israel di Sinai dan persiapan untuk menerima Sepuluh Hukum.
Judul Perikop
TUHAN menampakkan diri di gunung Sinai (19:1-25)
Tafsiran: Salah satu tema teologi penting PL adalah perjanjian. Allah mengikatkan diri-Nya kepada umat-Nya dalam perjanjian Sinai. Perikop ini menyatakan intisari perjanjian itu.
Latar belakang perjanjian ini adalah janji Allah kepada Abraham (Kej. 12:1-3), yang diteruskan turun temurun kepada keturunan Yakub (ayat 3). Dasar perjanjian itu adalah Allah sendiri yang telah bertindak menebus Israel (ayat 4). Perjanjian itu berisi pernyataan bahwa bangsa Israel akan menjadi harta kesayangan Tuhan (ayat 5), untuk tujuan mulia menjadi kerajaan (bersifat) keimaman dan bangsa yang kudus (ayat 6). Kepada Israel, Allah menuntut ketaatan penuh pada firman Tuhan dan setia menjaga perjanjian tersebut.
Perjanjian Sinai bersifat anugerah sekaligus misioner. Bersifat anugerah karena Allah telah lebih dahulu menyatakan keselamatan kepada umat-Nya. Israel adalah milik Allah. Seperti tuan kepada hambanya, Allah memiliki hak untuk menuntut ketaatan mutlak umat Israel. Namun Allah ternyata mau mengikatkan diri-Nya untuk mengayomi mereka bahkan dengan menjanjikan berkat atas ketaatan mereka. Perjanjian ini juga bersifat misioner karena tujuan Israel dijadikan harta kesayangan Allah dari antara bangsa-bangsa lain adalah agar mereka menjangkau bangsa-bangsa tersebut. Israel dipanggil menjadi imam bagi bangsa-bangsa kafir untuk mengenal Allah sejati. Mereka juga dipanggil untuk menjalani kehidupan yang kudus sehingga menjadi contoh atau model hidup yang Tuhan inginkan terwujud pada bangsa-bangsa lain.
Kita adalah milik Tuhan Yesus yang telah ditebus lewat pengurbanan-Nya di salib. Melalui darah-Nya yang dicucurkan, Ia mengantarai suatu perjanjian baru antara orang percaya dengan Allah (Luk. 22:20). Sungguh suatu anugerah besar bagi kita untuk menjadi milik Tuhan. Namun sama seperti umat Israel (band. 1Pet. 2:9), kita ditebus untuk suatu misi yang serupa, yaitu menjadi umat yang kudus dan yang membawa jiwa kepada Tuhan.
Apa tujuan Allah menyatakan diri-Nya kepada umat Israel di kaki gunung Sinai? Setelah umat merespons perjanjian Sinai secara positif, maka perjanjian itu perlu mendapatkan pengesahan dan penjabaran lebih lanjut.
Penyataan Tuhan ditujukan untuk dua hal penting. Pertama, supaya umat Israel mengenal sungguh-sungguh siapa Allah yang kepada-Nya umat diikat dalam perjanjian. Itu sebabnya, sebelum Tuhan menyatakan diri-Nya kepada mereka, mereka perlu mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Mereka disuruh menguduskan diri dengan menjaga kebersihan tubuh (ayat 10, 14) dan tidak bersetubuh (ayat 15). Bukan berarti bahwa tindak persetubuhan merupakan dosa, melainkan supaya tubuh tidak dinajiskan oleh cairan yang keluar sebagai akibat tindakan persetubuhan tersebut (lih. Im. 15). Mereka harus menjaga diri untuk tidak menyentuh apalagi mendaki gunung Sinai karena Allah hendak menyatakan diri-Nya di situ (ayat 12-13). Intinya Allah yang kudus tidak boleh dihampiri secara sembarangan.
Kedua, supaya umat Israel melihat bahwa Musa adalah orang yang Tuhan pilih sebagai pengantara Allah untuk berbicara dan mengajar mereka mengenai esensi perjanjian Sinai (ayat 9). Hal ini penting karena Musalah yang akan menerima Taurat dan penjabaran detailnya untuk selanjutnya ia ajarkan kepada segenap umat Israel. Ini adalah hak prerogatif Allah dalam memilih hamba-Nya dan semua umat harus menerima penetapan Allah tersebut.
Di dalam Kristus, tidak ada lagi jurang pemisah antara manusia dengan Allah. Sayang, kadang kita memperlakukan Allah dengan sembarangan. Dia tetap Allah yang kekudusan-Nya tidak boleh disepelekan. Mari periksa sikap ibadah kita. Adakah sikap hormat dan khidmat dalam ibadah? Atau malah kita memikirkan dan melakukan hal lain, bercakap-cakap misalnya. Motivasi kita beribadah pun harus diperiksa ulang, apakah karena Dia yang layak disembah atau sebenarnya kita sedang mengharapkan berkat-Nya semata.
Seperti apakah penyataan Allah? Kebanyakan kita mungkin belum pernah memiliki pengalaman merasakan kehadiran Allah. Umat Israel pun selama itu hanya melihat kehadiran Allah lewat mukjizat dan tanda-tanda yang diperagakan Musa. Namun kali ini Allah sendiri menyatakan kehadiran-Nya secara langsung.
Kehadiran Allah di gunung Sinai tentu tidak bisa dilihat secara kasat mata karena Dia adalah Roh adanya. Namun kehadiran-Nya ditandai gejala alam seperti yang digambarkan perikop ini yaitu guruh, petir, awan yang pekat, bunyi sangkakala, dan api yang asapnya begitu tebal seperti dari dapur perapian. Nyatalah bagi bangsa Israel sekarang bahwa Allah mereka adalah Allah yang begitu agung dan mulia, begitu tinggi, jauh di atas manusia.
Dengan penyataan yang begitu dahsyat, Allah menunjukkan kehendak-Nya. Pertama, sekali lagi Allah ingin mengajari umat agar tidak sembarangan menghampiri Allah yang Maha Kudus. Kekudusan Allah akan menghanguskan manusia bagai api yang membakar semua kotoran (lih. Kel. 24:17; Ibr. 12:29). Kedua, agar umat menyadari bahwa Allah berdaulat atas alam, juga atas umat manusia. Kesadaran akan hal itu seharusnya membuat umat Tuhan siap mendengarkan firman Tuhan yang akan menjadi pedoman bagi mereka untuk hidup sesuai perjanjian-Nya, sekaligus menikmatinya. Segera sesudah penyataan-Nya ini, Allah langsung mengajarkan Sepuluh Hukum Allah yang menjadi fondasi hidup dan karakter umat Tuhan (Kel. 20:1-17).
Syukur kepada Kristus karena kita dapat menghampiri Allah dengan keberanian iman kita. Namun hendaknya kita datang bukan karena hanya mengharapkan berkat-Nya yang berlimpah. Penyataan-Nya yang dahsyat harus menyadarkan kita bahwa Dia berdaulat atas segala hal dalam hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita menghampiri Dia dengan hati yang tunduk, dengan keterbukaan untuk diajar, dibentuk, dan diutus-Nya menjadi berkat untuk sesama.