Kel 20 (MAD2T*Mlm*09 Ogos*Tahun 1)

Keluaran 20

Penjelasan Singkat
Kesepuluh firman

Isi Pasal
Sepuluh Hukum diberikan kepada Musa di Sinai.

Judul Perikop
Kesepuluh firman (20:1-17)
Orang Israel takut menghadapi kedatangan TUHAN (20:18-21)
Peraturan tentang kebaktian (20:22-26)

Tafsiran: Siapakah yang berhak mengatur hidup Anda? Diri Anda sendiri? Apakah yang Anda gunakan sebagai standar hidup? Hati nurani, hukum pemerintah, atau hukum gereja? Jika Anda mengaku beriman, sudahkah kebenaran Allah saja yang mengatur hidup Anda? Hukum-hukum itu mengatur hubungan umat-Nya dengan diri-Nya dan antar sesama umat-Nya. Hukum-hukum ilahi itulah yang diucapkan Allah langsung kepada Musa untuk disampaikan kepada Israel, umat pilihan Allah.

Sah milik Allah. "Akulah Tuhan Allahmu...." adalah pengesahan bahwa Allah adalah Allah bagi umat Israel dan Israel adalah umat kesayangan-Nya. Umat kesayangan Allah ini telah melihat karya besar Allah dalam awal kehidupan mereka berumat. Allah menunjukkan keterlibatan besar dalam hidup mereka. Perbuatan ajaib Allah itu alasan yang membuat mereka hanya perlu taat pada Allah yang Ajaib dan Besar. Tidak ada ilah lain yang patut disembah di samping Tuhan Allah.

Wujud nyata menyembah Allah. Bagaimanakah seharusnya umat Allah memulai hubungan pribadi sebagai umat milik Allah? Sembah Dia saja. Hanya Dia yang telah menyatakan Diri kepada mereka, Allah sejati, bukan yang lain. Allah nyata dalam karya-Nya yang besar dan di dalam firman-Nya. Kedua, Allah melarang Israel membuat apapun yang dapat menggantikan kehadiran-Nya. Allah tidak ingin dinomorduakan. Ketiga, nama-Nya harus ditinggikan, dan dimuliakan. Menyebut nama-Nya dengan sembarangan sama dengan tidak meninggikan Dia. Keempat, bersekutu dengan-Nya pada hari Sabat. Persekutuan dengan-Nya membuat manusia makin mengenal dan terus berharap pada-Nya. Keempat hal tersebut perlu dipelihara dan dijalankan oleh umat Allah.

Syukur pada Kristus yang telah memperkenalkan Allah lebih jelas karena Kristus adalah gambar wujud Allah (Ibrani 1:2-3). Di dalam dan melalui Kristus kita dapat mengalami hubungan pribadi lebih dekat lagi dan pasti.

Bagaimana kita dapat mengatur hubungan kita dengan sesama agar tetap baik adanya? Hukum Allah mengajarkan bahwa menghargai sesama manusia dimulai dari harmonisnya hubungan di dalam keluarga umat Allah dengan cara menghormati ayah dan ibu kita. Hormat kepada mereka berarti mengakui mereka sebagai pengatur kehidupan dalam keluarga. Umat Allah juga akan menghargai hidup, menjaga kehormatan hubungan pribadi lawan jenis, menghargai kepemilikan, tidak bersaksi dusta, dan tidak cemburu terhadap apa yang dimiliki orang lain.

Mengasihi Allah berlanjut mengasihi sesama. Banyak orang mengaku menyembah Allah tetapi meremehkan hubungan dengan sesama. Sikap demikian membawa bencana bagi orang lain. Hukum Allah tidak saja mengajarkan dan meminta umat-Nya untuk mengenal-Nya secara pribadi, tetapi harus pula membawa manfaat positif dalam hubungannya dengan sesama. Dosa menodai hubungan antar manusia, namun Kristus memampukan kita mengenal Allah yang benar dan mengasihi sesama oleh kasih-Nya.

Doa: Agar pemberitaan firman Tuhan di rumah-rumah Allah menjadi kabar baik bagi umat Allah untuk memelihara hubungannya dengan sesama.

Kata takut punya beberapa arti. Takut bisa berarti perasaan gentar yang melumpuhkan, yang membuat seseorang hanya bisa melarikan diri sejauh mungkin dari hal atau orang yang ditakuti. Bahkan, mungkin, saking ketakutannya, orang tersebut tak bisa berbuat apa-apa selain berdiri mematung sambil gemetaran. Namun, takut juga bisa memiliki arti yang lebih positif. Takut berarti perasaan segan, respek, ataupun hormat kepada sesuatu atau seseorang.

Jika kita membaca nas ini sepintas kita bisa berkesimpulan bahwa ayat 20 memuat kalimat yang kontradiktif: Israel diminta "Janganlah takut ?", tetapi juga diminta supaya "takut akan Dia ada padamu." Namun kita tak perlu berkesimpulan demikian. Israel diminta untuk "jangan takut" dalam arti supaya mereka tidak larut dalam kengerian yang melumpuhkan karena takut mati (Keluaran 20:19). Musa menegaskan, bahwa kedatangan Allah justru untuk "mencoba" mereka, yaitu untuk memberikan kesempatan, bahkan menantang mereka, untuk mengambil pilihan yang tepat. Apa pilihan yang tepat itu? Dengan mempertahankan "takut" akan Allah sehingga mereka tidak berbuat dosa. Takut di sini punya makna yang berbeda dengan takut sebelumnya. Takut di sini berarti respek dan hormat, sehingga mereka mau mematuhi perintah Allah, khususnya kesepuluh perintah yang telah diberikan. Inilah ajakan Allah melalui Musa kepada bangsa Israel.

Kristus telah menaklukkan ketakutan yang membabi-buta terhadap Allah, sehingga kita kini boleh bersekutu dengan Dia, bukan tanpa rasa takut (Luk. 1:74 menunjuk pada ketakutan disiksa karena melayani Allah), tetapi dengan takut yang tepat, yaitu takut akan Dia yang telah menyelamatkan kita, yang diekspresikan melalui ketaatan kepada-Nya dan pada perintah-perintah-Nya. Jika kita takut akan Allah, pertanyaan pertama kita setiap hari bukanlah janji dan berkat apa yang bisa kita tuntut dari-Nya hari ini, tetapi bagaimana kita bisa menyenangkan Dia hari ini? Itulah sikap orang yang telah benar-benar mengecap karya keselamatan-Nya. Mengapa? Karena keseluruhan hidup kita adalah persembahan syukur kita kepada Allah Tritunggal.

Pasti kita bukan satu-satunya penghuni rumah kita. Selain pemilik rumah, di dalam rumah biasanya ada berbagai hewan, mulai dari hewan peliharaan seperti anjing atau kucing, hingga hewan yang dianggap sebagai hama, seperti tikus, semut, dll. Terhadap yang disebut terakhir ini, jelas orang-orang yang tinggal di rumah itu tak mau kompromi. Sebisa mungkin hewan-hewan pengganggu itu dienyahkan.

Allah pun tidak mau bangsa Israel berkompromi dengan berhala. Ini terlihat dari perintah-perintah-Nya, di dalam nas hari ini. Mereka dilarang membuat patung-patung sesembahan, terutama yang terbuat dari perak dan emas (Keluaran 20:23). Ketika mendirikan mezbah bagi Allah, mereka tak boleh menggunakan batu pahat, karena batu jenis ini biasa digunakan orang Kanaan untuk mendirikan mezbah bagi dewa-dewi mereka; mereka juga dilarang menggunakan beliung, sejenis kapak, karena alasan serupa (Keluaran 20:25). Larangan untuk membangun mezbah yang tinggi kelihatannya disebabkan alasan serupa, yaitu imam-imam orang Kanaan terbiasa membiarkan aurat mereka tak tertutup saat mempersembahkan korban (Keluaran 20:26). Larangan-larangan ini disempurnakan dengan beberapa perintah positif. Pertama, Israel mesti mengingat bahwa Allah telah berfirman secara langsung kepada mereka, kehadiran-Nya di hadapan mereka nyata (Keluaran 20:22), tak abstrak seperti dewa-dewi yang hanya bisa dilihat patungnya. Kedua, tempat persembahan haruslah ditentukan oleh Allah sendiri, dan di tempat itulah Allah akan datang dan memberkati mereka (Keluaran 20:24).

Allah tetap menghendaki kita untuk terus berperang dan tidak berkompromi dengan berhala. Namun berhala-berhala yang kita perangi kini tak hanya berupa dewa-dewi ataupun roh-roh. Berhala masa kini juga bisa berupa ambisi, harta, teknologi, sensasi inderawi, ketenaran, dan lainnya. Intinya, berhala adalah apa pun yang kita tempatkan sebagai hal dan terpenting bagi diri hidup kita, yang menggantikan posisi Allah. Jangan kompromi dengan hal-hal itu. Gumuli semuanya di dalam terang firman Allah, dan kita akan melihat bagaimana Allah berperang bagi kita dan memberkati kita.

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)