Kel 24 (MAD2T*Mlm*11 Ogos*Tahun 1)
Keluaran 24
Penjelasan Singkat
Musa dipanggil ke gunung
Isi Pasal
Peraturan ibadah dituliskan, seraya menantikan pembangunan Kemah Suci.
Judul Perikop
Upacara pengikatan perjanjian antara TUHAN dengan bangsa Israel (24:1-11)
Musa di gunung Sinai (24:12-18)
Tafsiran: Paparan pertama hukum Taurat sudah diberikan (pasal 20-23). Lewat Musa, Tuhan menjelaskan prinsip-prinsip hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan umat (Keluaran 24:3). Perintah Tuhan itu kemudian dituliskan ke dalam dokumen perjanjian (Keluaran 24:4). Perikop ini selanjutnya menceritakan ratifikasi perjanjian itu.
Waktu umat mendengar hukum Tuhan, dengan satu suara umat menyatakan kesediaan mereka untuk mematuhi Tuhan (Keluaran 24:3). Setiap perkataan Allah memang harus ditaati dan dilakukan. Namun respons tersebut harus lahir dari hati yang rela, tanpa paksaan.
Namun pernyataan secara verbal itu tampaknya belum cukup. Mereka harus melakukan sesuatu untuk mengonfimasi perjanjian mereka dengan Allah, perjanjian yang dibuat ketika umat mendengar firman Allah dan kemudian memberikan respons seusai mendengar. Perjanjian dibuat dengan mempersembahkan kurban bakaran dan kurban pendamaian kepada Allah. Persembahan itu bermakna pengakuan dosa dan pernyataan kegagalan umat di hadapan Allah, dan selanjutnya menyatakan kebutuhan akan pengampunan dosa-dosa umat.
Lalu dipercikkanlah darah perjanjian pada mezbah dan pada umat (Keluaran 24:5-8). Itu berarti, perjanjian telah dimeteraikan. Dengan demikian, umat telah mengikatkan diri mereka pada firman Tuhan, yang kemudian harus diwujudkan dalam tindakan nyata di kehidupan mereka sehari-hari.
Respons umat yang dinyatakan sebanyak dua kali (Keluaran 24:3, 7) menyatakan tekad untuk melakukan setiap firman yang telah diucapkan Tuhan. Namun respons itu perlu dan akan diuji melalui waktu, apakah mereka akan sungguh-sungguh menjadi umat yang taat. Apalagi janji itu telah diikat oleh perjanjian dengan persembahan kurban.
Kurban darah Kristus telah membuat kita menerima pengampunan dosa. Tentu saja kemudian kita memiliki kerinduan untuk menyenangkan hati-Nya dengan menaati Dia. Masalahnya, kita sering gagal. Namun jangan pernah putus asa. Ulanglah komitmen untuk memberlakukan firman dalam kehidupan, sambil senantiasa meminta pertolongan Roh Kudus untuk memampukan kita.
Banyak orang memahami prinsip pendelegasian wewenang dan koordinasi, tetapi semangat untuk mempraktikkan itu tidak selalu ada. Kesulitan itu bisa terjadi karena aturannya belum ada atau belum jelas, atau orang yang menerima pendelegasian itu bukan orang yang tepat, atau bisa juga berkaitan dengan terlalu besarnya otoritas yang diberikan kepada orang tersebut.
Teks hari ini memperlihatkan prinsip pendelegasian yang dilakukan Musa berdasarkan perintah Tuhan. Ada aturan dalam bentuk hukum dan perintah. Aturan itu jelas, sederhana, dan tertulis. Lalu diberikan oleh Tuhan kepada Musa, sekaligus untuk diajarkan kepada bangsa Israel (Keluaran 24:12). Sebelumnya, Tuhan mengatur orang-orang yang mewakili umat dalam rangka ratifikasi perjanjian (Kel. 24:1, 9). Di sini, Musa mengajak Yosua menemaninya ke puncak Sinai. Kepada Harun dan Hur, Musa mendelegasikan tugas dan otoritas untuk mengawasi bangsa Irsael (Keluaran 24:14).
Yosua rupanya sedang dipersiapkan oleh Tuhan menjadi pemimpin yang akan menggantikan Musa. Yosua telah membantu Musa dalam perang (Kel. 17:8-16) dan sekarang ia membantu Musa dalam hal rohani. Harun dan Hur juga merupakan orang-orang yang membantu Musa ketika berdoa (Kel. 17:10-13). Walau akhirnya baik Harun maupun Hur tidak melakukan pekerjaannya dengan baik dalam mengawasi bangsa Israel (lihat pasal 32).
Hal menarik yang kita dapat amati dalam pendelegasian dan koordinasi dalam urutan konteks cerita ini, berujung pada tampak-Nya kemuliaan Tuhan dan Musa yang tak tampak lagi karena tertutup oleh awan (Keluaran 24:17, 18). Sehingga pelajaran yang sangat ditekankan dari pendelegasian dan koordinasi ini adalah kepemimpinan dan kehadiran Tuhan dalam kemuliaan-Nya. Tuhan memakai hukum dan perintah beserta orang-orang yang dipilih-Nya agar mengarahkan diri kepada Tuhan. Ini jadi peringatan bagi kita agar apa pun posisi, status, kemampuan, dan pengalaman kita, seharusnya berada dalam rangkaian pendelegasian dan koordinasi yang diberikan Tuhan dan memiliki tujuan bagi hormat dan kemuliaan-Nya.