Kel 25 (MAD2T*Pagi*12 Ogos*Tahun 1)

Keluaran 25

Penjelasan Singkat
Bentuk tabut perjanjian

Isi Pasal
Musa di gunung; petunjuk pertama mengenai Kemah Suci.

Judul Perikop
Petunjuk untuk mendirikan Kemah SuciMengenai persembahan khusus (25:1-9)
Mengenai tabut perjanjian (25:10-22)
Mengenai meja roti sajian (25:23-30)
Mengenai kandil (25:31-40)

Tafsiran: Kekayaan bukanlah jaminan seseorang bersedia memberikan uangnya bagi pembangunan gedung gereja. Tidak sedikit mereka yang memberi hartanya adalah orang yang hidup dalam kekurangan. Di mana perbedaannya? Perbedaannya ada pada hati seseorang bukan uangnya.

Sebelum meninggalkan Mesir, Allah menggerakkan hati bangsa Mesir untuk membekali Israel dengan benda-benda berharga (Kel. 12:35-36). Apa fungsi perbekalan barang berharga itu di tengah-tengah padang gurun? Sebenarnya, makanan dan minumanlah yang lebih mereka butuhkan untuk perjalanan melintasi padang gurun. Lalu, mengapa Allah mengatur supaya Israel memiliki semua barang itu?

Pada nas ini, barulah terlihat rencana Allah yang mengizinkan Israel memperoleh emas, perak, serta kain-kain berharga itu, yakni semua harta itu akan digunakan sebagai persembahan khusus bagi pembangunan kemah suci (Kel. 25:3-6). Allah tidak merampasi harta umat-Nya bagi kepentingan diri-Nya sebab Ia tidak membutuhkan harta untuk memperkaya diri-Nya sendiri. Ia justru menciptakan alam semesta dengan kekayaan bumi yang terkandung di dalamnya. Jika Ia meminta Israel memberikan harta mereka maka Ia bermaksud melihat kerelaan hati umat-Nya memberi bagi pekerjaan-Nya di bumi ini. Ia menghendaki hati yang rela untuk memberi bagi pekerjaan-Nya (ayat 1-2). Namun, pembangunan kemah suci tidak hanya membutuhkan beragam batu-batu mulia melainkan juga memerlukan tenaga dan keahlian untuk membuat perabotannya dan baju efod sebagai baju para imam (ayat 7, 9). Semua itu diperlukan bagi kepenuhan kemuliaan Allah di tengah-tengah manusia (ayat 8).

Sudah selayaknya kita memberi harta, tenaga, dan waktu kita bagi pekerjaan Tuhan. Dia sudah memberikan yang terbaik bagi kita, yakni diri-Nya sendiri. Pemberian yang terbaik diukur dari kerelaan hati, bukan besar jumlahnya.

Renungkan: Jika kita bisa memberi yang terbaik bagi Tuhan, mengapa kita menahannya?

Tabut perjanjian merupakan simbol kehadiran Allah. Dalam sejarah Israel, tabut ini berfungsi sebagai berikut: Pertama, tempat Allah berhubungan dengan Musa, pemimpin umat-Nya (ayat 22). Kedua, melambangkan bimbingan (Bil. 10:33). Ketiga, melambangkan kemenangan (Yos. ps. 6). Keempat, melambangkan kepemimpinan Ilahi (Yos. 3:14-17).

Di atas tabut itu dibentangkan tutup pendamaian terbuat dari emas murni seirama dengan panjang dan lebar tabut itu (Kel. 25:17). Di kedua ujung tutup pendamaian itu dibuatlah dua kerub dari emas (ayat 18-19). Kedua kerub itu membentangkan sayap mereka menutupi tutup pendamaian tersebut, sedangkan kedua muka mereka menatap pada tutup pendamaian itu (ayat 20). Tutup pendamaian itu bersama kedua kerub tersebut membentuk semacam singgasana tempat Allah bertakhta secara simbolis (Mzm. 80:2; 99:1). Di dalam tabut pendamaian itu ditaruhlah kedua loh batu berisikan Sepuluh Hukum Allah (Kel. 25:21), buli-buli yang berisikan manna (ayat 16:32-34) yang melambangkan pemeliharaan Allah atas umat-Nya, dan kemudian hari tongkat Harun yang bertunas yang melambangkan penetapan Allah atas kepemimpinan di Israel ditaruh di hadapan tabut itu (Bil. 17:10). Ada tafsiran yang mengatakan bahwa kerub-kerub itu melambangkan kebenaran dan keadilan Allah yang menutupi dosa-dosa umat (dilambangkan oleh kedua loh batu).

Setahun sekali, imam besar akan mempersembahkan kurban pendamaian dengan masuk menghadap tabut beserta tutup pendamaian itu agar umat Israel mendapatkan pengampunan dosa mereka. Tutup pendamaian itu melambangkan Tuhan Yesus (Rm. 3:25). Oleh darah-Nya yang Ia persembahkan sendiri ke hadirat Allah di surga satu kali untuk selamanya (Ibr. 9:13-14; 24-27), Yesus menjadi jalan pendamaian antara kita dengan Allah.

Renungkan: Harga pendamaian dosa kita mahal harganya, yaitu penumpahan darah Yesus. Kita patut menjunjung tinggi Dia saja dan bukan menyombongkan diri.

Dua belas potong roti segar tiap pagi harus ditempatkan di atas meja sajian sepanjang hari dan hanya boleh dimakan oleh imam-imam pada petang harinya (1Sam. 21:6). Meski tidak dijelaskan, mungkin sekali roti itu melambangkan pemeliharaan Allah yang selalu akan menyertai umat-Nya. Perjalanan berat yang harus mereka tempuh di padang pasir, membuat umat tak terjamin akan kebutuhan makan, minum, keamanan, dlsb. Tetapi kini Tuhan memberi mereka tanda yang tampak untuk meneguhkan rohani mereka. Allah setia menyertai, memimpin, dan mencukupkan setiap kebutuhan mereka.

Terang Rohani. Pergaulan dengan bangsa lain punya bahaya tersendiri bagi Israel. Bangsa-bangsa itu kafir, tidak mengenal Allah tetapi menyembah berhala. Karena itu peringatan Tuhan begitu keras dan berulang kali. Mereka tidak boleh menyembah Malokh, roh-roh peramal, para arwah, dan meniru kelakuan orang kafir (Kel. 20). Israel perlu terang yang dilambangkan oleh kandil dengan lampu menyala terus, agar dapat membedakan mana baik dan mana jahat di hadapan Allah.

Renungkan: Yesus seperti yang kita temui dalam terang firman-Nya adalah terang dunia (Yoh. 8:12-20).

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)