Kel 6 (MAD2T*Mlm*02 Ogos*Tahun 1)
Keluaran 6
Penjelasan Singkat
Janji TUHAN diperbaharui
Isi Pasal
Jawaban Tuhan untuk doa Musa yang pertama. Perjanjian diperbarui. Keluarga Israel. Jabatan Musa diperbarui.
Judul Perikop
Pengutusan Musa (6:2-13)
Nenek moyang Musa dan Harun (6:14-27)
Musa menghadap Firaun (6:28--7:13)
Tafsiran:
Tujuan Firaun agar bangsa Israel meragukan dan melupakan Allah dengan cara menambah beban kerja paksa nampaknya berhasil. Situasi bangsa Israel semakin menyesakkan dan keputusasaan teramat berat menekan mereka. Dalam situasi ini, umat Israel tidak mampu melihat kuasa Tuhan justru sedang bekerja (ayat 6:8). Bahkan Musa pun telah menjadi tawar hati. Musa merasa bersalah dan menganggap dirinya sebagai penyebab kesengsaraan bangsanya. Musa juga menuduh Allah yang mengutusnya untuk berbicara kepada Firaun sebagai Allah yang bengis (ayat 5:22-23).
Allah memiliki rencana keselamatan bagi umat-Nya, yakni membawa mereka ke Tanah Kanaan (ayat 6:6-7). Apa dasarnya? Pertama, Perjanjian Allah dengan Abraham, Ishak dan Yakub. Di sini Allah memperkenalkan diri dengan nama TUHAN, yang menyatakan Jati Diri-Nya sebagai Yang Setia pada Perjanjian-Nya (ayat 2-3). Nama TUHAN ini menjadi dasar bahwa janji-Nya akan digenapi (ayat 5,6,7). Kedua, Allah telah mendengar seruan penderitaan umat-Nya (ayat 4-5). Oleh karena janji-Nya dan nama-Nya, Ia akan menyelamatkan mereka. Sedangkan bagi Firaun, Allah akan menunjukkan kedahsyatan kuasa-Nya (ayat 5:24). Allah akan memperkenalkan diri-Nya kepada Firaun bahwa Ia adalah Allah Yang Mahakuasa, yang mengatasi segala ilah termasuk sesembahan Mesir (ayat 6:2-5). Inilah perintah Allah kepada Musa untuk kembali disampaikan kepada Firaun saat ia menghadapnya (ayat 9-10,12).
Saat berada dalam bayang-bayang penderitaan kita sulit untuk tetap memercayai Tuhan. Namun, jika kita mau berdiam diri di hadapan-Nya dan merenungkan kasih setia-Nya, kita akan menemukan bahwa Tuhan adalah Allah yang setia. Sebagaimana bagi umat Israel nama TUHAN menjadi pegangan, maka bagi kita nama Yesus meneguhkan bahwa janji-Nya Ya dan Amin. Dia akan memberi kekuatan bagi kita untuk bertahan dalam penderitaan dan berharap kepada-Nya.
Ingat: Nama-Nya adalah Ya dan Amin untuk setiap janji dan firman-Nya.
Siapakah Musa? Dalam nas ini, kita diperkenalkan dengan nenek moyang Harun dan Musa yaitu Ruben, Simeon, dan Lewi. Ketiganya adalah anak Yakub dari Lea.
Apa maksud penulis kitab Keluaran menampilkan riwayat Musa dan Harun? Pertama, ia ingin pembaca memahami latar belakang keluarga Musa dan Harun, yang dipakai Allah memimpin umat-Nya menuju tanah perjanjian. Cerita tentang Musa yang terpaksa hidup terpisah dari keluarganya karena ancaman pembunuhan dapat dibaca di pasal 2. Musa dan Harun bersaudara, keduanya adalah anak Amram dan Yokhebed. Sebenarnya, Yokhebed adalah saudara Kehat, ayah Amram (ayat 19). Kedua, ia menunjukkan silsilah Musa dan Harun sebagai keturunan Lewi. Jadi umat Israel kelak tidak meragukan kepemimpinan mereka di bidang rohani.
Tampaklah bahwa Harun dan Musa hidup terpisah sedari kecil. Setelah dewasa pun Musa harus meninggalkan keluarganya untuk bersembunyi di Midian karena menghindar dari hukuman akibat membunuh orang Mesir. Selama di Midian, Musa menikahi Zipora, anak imam Yitro (ayat 2:21) dan berkerja pada mertuanya itu sebagai gembala (ayat 3:1). Musa memberanikan diri kembali ke Mesir karena Allah menyatakannya. Di padang gurun, Musa kembali bertemu dengan Harun, kakaknya yang menikah dengan Eliseba seorang perempuan Yahudi (ayat 6:22). Akhirnya, mereka berjumpa kembali dalam satu tugas bersama karena Allah menyuruh mereka memimpin bangsa Israel ke luar dari Mesir (ayat 4:14,27).
Masa lalu Musa yang kelam bukanlah penghalang Tuhan memakainya. Kebutuhan Musa akan teman sepelayanan pun dipenuhi Tuhan untuk tujuan-Nya. Ketika Tuhan memanggil kita menjadi hamba-Nya, Dia melihat kesediaan kita bukan siapa kita atau apa latar belakang kita.
Renungkan: Bukan kepandaian, bukan keahlian, bukan pula status sosial, melainkan kerendahan hati sedia dibentuklah respons yang tepat terhadap pilihan Allah untuk kita melayani-Nya.
Seperti yang telah kita lihat dalam Keluaran 6:5-7, Allah akan menyatakan diri sebagai Tuhan/Yahweh melalui peristiwa Keluaran. Maka Ia berkata bahwa "Aku akan mengeraskan hati Firaun". Untuk itu Ia akan memperbanyak tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat yang Ia lakukan di tanah Mesir, supaya Ia mengeluarkan umat-Nya dari Mesir dengan menjatuhkan hukuman yang berat terhadap Mesir (Keluaran 6:3-4).
Pernyataan "Aku akan mengeraskan hati Firaun" tentu menimbulkan pertanyaan, "Apakah berarti Firaun sebenarnya berhati lembut, tetapi Tuhan mengeraskan hatinya?" Tentu tidak. Pernyataan itu berarti Tuhan membiarkan Firaun terus mengeraskan hati sehingga akhirnya sepuluh tulah dijatuhkan atas Mesir. Ini dapat kita lihat dari bagian lain yang menyatakan bahwa "hati Firaun berkeras" (Keluaran 7:13) atau "Ia tetap berkeras hati" (Kel. 8:15). Namun mengapa menyatakan bahwa Tuhan akan mengeraskan hati Firaun? Pertama, pernyataan ini mau menekankan kedaulatan Tuhan, bahwa sesuatu hanya dapat terjadi karena Allah yang memutuskan hal itu.
Kedua, pernyataan mengeraskan hati Firaun harus dimengerti sebagai tindakan Allah menghukum Firaun yang telah lebih dahulu mengeraskan hatinya. Dan kerasnya hati Firaun terus berlanjut, seperti yang dipaparkan pada waktu tulah demi tulah terjadi satu per satu. Perhatikanlah keterangan tentang kerasnya hati Firaun di setiap akhir tulah. Prinsip yang sama dijelaskan oleh Paulus dalam Roma 1:24-32, Allah menyerahkan orang berdosa pada keberdosaan mereka sebagai hukuman-Nya kepada mereka.
Firaun berkeras hati dan Allah hanya membiarkan Firaun mengeraskan hatinya supaya maksud Allah dapat tercapai, yaitu menghukum orang Mesir dan allah-allah mereka karena kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap Israel.
Allah berdaulat memakai dosa manusia sebagai penghukuman atas orang yang berdosa itu. Oleh karena itu, jangan keraskan hati saat kita ditegur karena dosa kita. Cepat bertobat agar kita segera menerima pengampunan-Nya.