Kel 7 (MAD2T*Pagi*03 Ogos*Tahun 1)

Keluaran 7

Penjelasan Singkat
Musa menghadap Firaun

Isi Pasal
Kontes dengan Firaun. Tulah pertama. Air menjadi darah.

Judul Perikop
Tulah pertama: air menjadi darah (7:14-25)

Tafsiran: Dalam menjawab keberatan Musa sehubungan dengan ketidakmampuannya berbicara (Kel. 6:11, 29), Tuhan menjamin Musa bahwa ia akan mempunyai fungsi yang bersifat ilahi. Hasil dari campur tangan itu adalah bahwa nantinya Tuhan sungguh-sungguh akan memimpin orang Israel keluar dari Mesir (ayat 4-5). Namun campur tangan ini juga menyebabkan orang Mesir mengenal jati diri Tuhan yang sebenarnya "dan orang Mesir itu akan mengetahui, Akulah TUHAN, . . ."

Sebagai wakil Allah, Musa memiliki otoritas Ilahi. Melalui Musa, Allah bertindak menyelamatkan umat-Nya, sekaligus menghajar Firaun yang mengeraskan hatinya. Dalam ayat 3 kita dapati bahwa Tuhan akan mengeraskan hati Firaun. Dalam Alkitab "hati" adalah pusat pikiran dan perasaan. Manusia adalah subjek yang berpikir dan berperasaan, serta memi-liki kehendak. Kitab Keluaran menggunakan dua bentuk ungkapan berkenaan dengan kekerasan hati Firaun. Pertama, hati Firaun berkeras (Kel. 7:13, 14, 22; 8:15; 9:35). Kedua, Tuhan mengeraskan hati Firaun (Kel. 9:12; 10:1, 20, 27). Nampak jelas kelak dalam penuturan tulah-tulah (Kel. 7:14-11:10) bahwa pada mulanya Firaun berkeras (mengeraskan hati) menolak membebaskan Israel (tulah 1-5), lalu akhirnya Tuhanlah yang mengeraskan hati Firaun (tulah 6-10). Pengerasan hati Firaun yang semula merupakan dosa akhirnya, oleh kedaulatan Allah, akan menjadi hukuman dosa yang membinasakan.

Kita tidak perlu takut terhadap orang-orang yang mengeraskan hati hendak melawan Tuhan dan hamba-hamba-Nya. Memang kekerasan hati mereka sepertinya penuh kekuatan dan kedigdayaan, tetapi tidak pernah lepas dari kendali Al-lah. Dengan otoritas Ilahi yang kita miliki, pemberitaan kebenaran yang kita kumandangkan tidak akan kembali sia-sia. Justru penentang-penentang nomor satu yang akan bertumbangan. Baik karena anugerah Allah mereka akan bertobat dengan hati yang hancur atau dilembutkan, maupun oleh murka Allah mereka akan binasa karena mengeraskan hati.

Hal apa yang menghalangi seseorang untuk percaya dan tunduk kepada Tuhan? Pikirannya yang rasional, yang hanya mau percaya dan menerima sesuatu yang bisa diterima oleh akal budinya? Ataukah gengsinya yang besar, yang menolak untuk tunduk kepada siapa pun, termasuk kepada Tuhan?

Apa yang menghambat Firaun untuk percaya dan tunduk pada kedaulatan Tuhan? Sekilas sepertinya Firaun masih sangat mengandalkan ilah-ilah yang selama ini dia sembah dan terbukti dapat diandalkan oleh bangsa Mesir. Itu sebab-nya ketika Musa memeragakan kedahsyatan Tuhan di ha-dapan Firaun dengan mengubah tongkat menjadi ular, Firaun segera memerintahkan para ahli sihir dan orang-orang berilmu untuk mendemonstrasikan kekuatan spiritual yang sama. Namun ular dari tongkat Harun ternyata menelan ular-ular jejadian Mesir (ayat 12). Terbukti bahwa Allah Israel lebih berkuasa daripada ilah-ilah Mesir.

Sayang sekali, Firaun tetap menolak memercayai Allah Israel. Firaun berkeras hati tidak mau mendengarkan Tuhan walau tanda kedahsyatan Tuhan menyolok di depan mata. Hal itu akan terus terulang dalam perjumpaan-perjumpaan berikut antara Musa-Harun dengan Firaun. Berbagai tulah yang kemudian menimpa Mesir menunjukkan bahwa ilah-ilah Mesir pada hakikatnya mati! Allah Israel adalah Allah sejati dan yang berkuasa atas segala hal di muka bumi ini. Masalah bagi Firaun adalah gengsinya sebagai raja, yang bagi kepercayaan Mesir adalah anak dewa. Gengsi inilah yang membawa pengerasan hati Firaun untuk tunduk dan mengakui Allah Israel.

Banyak orang terjebak gengsi. Mereka menolak mengakui diri membutuhkan Tuhan. Tanpa disadari mereka sedang mengeraskan hati dari belas kasih Tuhan yang nyata lewat serangkaian kesempatan berjumpa dengan Dia. Sungguh mengerikan bila suatu saat, pengerasan hati itu sekaligus menjadi penghukumannya!

Cara apa yang Tuhan bisa pakai agar orang mengakui kedaulatan-Nya atas hidup mereka? Salah satunya adalah dengan menghancurkan semua yang menjadi pegangan hidup mereka, sehingga mau tidak mau mereka akan berpaling kepada satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka.

Tulah pertama dijatuhkan. Tulah air menjadi darah menggerogoti sendi utama kehidupan bangsa Mesir. Sungai Nil, yang selama ini disembah sebagai salah satu dewa utama Mesir, jadi tak berfungsi. Padahal Nil adalah sumber air minum dan sekaligus sumber makanan, karena ikan yang hidup di dalamnya. Melalui tulah itu, Allah memaksa Firaun mengakui bahwa Tuhan orang Israel tidak boleh dibuat main-main. Tulah ini menimbulkan bencana besar bagi penduduk Mesir karena Nil merupakan sumber semua aliran air yang ada di Mesir. Namun ketika para ahli Mesir mampu menghasilkan mukjizat yang serupa, mengubah air menjadi darah, Firaun berkeras menolak mengakui Allah Israel. Ini merupakan kebodohan. Firaun tidak mau menyadari bahwa para ahlinya telah kalah melawan kuasa Allah Israel (ayat 22). Mereka hanya mampu meniru mukjizat yang dilakukan Musa, yang sebenarnya justru menambahkan sengsara bagi rakyat karena semua air jadi tidak dapat digunakan untuk apapun. Kalau memang mampu, seharusnya mereka mengadakan mukjizat yang membalikkan, yaitu dari darah menjadi air yang jernih. Akibatnya harga yang mahal harus dibayar oleh rakyat Mesir karena kebebalan dan kekeraskepalaan Firaun.

Kadang-kadang Tuhan memakai bencana untuk menyadarkan manusia bahwa mereka tidak bisa menolak Allah dalam hidup mereka. Anak-anak Tuhan pun tidak jarang harus dicambuk dengan penderitaan hidup agar mereka sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan dalam hidup, bukan kekuatan dan hikmat sendiri. Sebab itu kita perlu belajar mengakui kedaulatan Allah atas hidup kita. Bahkan kita perlu menundukkan diri dan taat pada cara yang Tuhan terapkan dalam hidup kita!

Popular posts from this blog

Efe 5 (MAD2T*Pagi*12 April*Tahun 1)

Kej 32 (MAD2T*12 Juli*Tahun 1)

Kej 44 (MAD2T*24 Juli*Tahun 1)